Hamka

Hamka tentang Hamka (Bagian 12)

Written by Panji Masyarakat

Hamka diminta mewakili rakyat Indonesia menyampaikan pidato usai Tuan Resident Sumatera Timur berpidato dalam bahasa Belanda. Apa yang disampaikan dalam pertemuan umum untuk menyambut Perang Dunia II itu? Pidato yang penuh risiko karena dia bakal berhadapan dengan tentara Jepang.  

Napas Penghabisan Belanda

Setelah peperangan pecah dan Kerajaan Belanda serta Nederlandsch Indie-nya tidak dapat lagi melepskan diri daripada peperangan, maka Resident Belanda di Sumatera Timur mengadakan pertemuan umum (openbaar gehoor) di gedung Tuan Resident. Segala lapisan masyarakat diundang menghadirinya. Perkumpulan-perkuMpulan, sejak Muhamadiyah, sampai Al-Jam’iyatul Washliyah, dan Ahmadiyah-nya juga, dan ada juga perkumpulan kematian. Partai-partai politik, sebagai Gerindo dan Parindra juga, wartawan-wartawan, selengkapnya. Raja-raja Sumatera Timur; Deli, Langkat, Serdang, Asahan, Kualuh dan seterusnya. Semuanya lengkap hadir.

Resident membaca pidatonya dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Secretaris ke dalam bahasa Indonesia. Menerangkan bahwa bangsa Jepang telah menyerang Pelabuhan Mutiara – Pearl Harbour. Bangsa-bangsa telah bersekutu melawan Jepang. Tiongkok, Australia, Inggris, Amerika, dan Belanda berdiri dalam satu barisan menentang agreesie Jepang dan kawan-kawannya, Jerman dan Italia. Sampai saat paling akhir, sampai serdadu yang penghabisan, Nederlandsch Indie (Hindia Belanda)  akan mempertahankan kemerdekaannya dan akan bekerja sama dengan negara-negara sekutu menghacurkanleburkan musuh, sampai mengaku kalah dan sampai keamanan datang kembali. Tentara Kerajaan cukup kuat dan waspada, cukup parat! Angkatan laut, darat, udara telah siap! Maka hendaklah segala penduduk negeri ini menjaga keamanan dan beratu padu, berdiri di belakang pemerintah dan teguh setia kepada Ratu Wihelmina dan mempertahankan bendera tiga warna. Segala disingkirkan pada hari ini. Hanya satu tujuan kita,yaitu menghancurkan musuh kita dan mencapai kemenangan: Nederland zal herijzen! – pasti berdiri kembali!

Demikianlah isi pidato Tuan Resident.

Orang menuggu ada hendaknya sambutan dari pihak yang hadir. “Sekarang diminta wakil rakyat Indonesia,” kata pegawai Resident. Mata Secretaris tertujulah kepada Bung Haji kita. Rupanya dialah yang sangat diharap.

Bung Haji sudah merasa bahwa bisik halus sebelum Resident berpidato, meminta dia menyambut, payahlah mengelakkan. Sebelum “Wakil Rakyat” dipersilakan, Bung Haji telah berpikir-pikir didalam hatinya, bagaimana kalau “kata sambutan” ini dielakan? Siapa yang berani mengucapkan? Dia sendiri pun sebetulnya jengkel pada pemerintahan Belanda. Baru empat bulan ayahnya (Haji Rasul) dibuang ke Sukabumi. Ini rupanya tidak dipikirkan oleh Kantor Resident sewaktu mengharap dia menyambut. Berkali dia telah dipanggil dan diancam sebab karangannya kerap kali menyindir pemerintahan Belanda dalam majalah Pedoman Masyarakat. Tetapi siapa yang menyambut? Dia telah merasa dalam hatinya, bahwasannya meskipun lebih  sepuluh orang pemimpin-pemimpin “kaliber besar” yang hadir di hari itu, tidak seorang juga yang akan berani menyambutnya. Petama karena berlawanan dengan prinsip nasional. Dan lebih dari itu ialah “takut” ancaman Jepang. Radio didengar juga tiap hari. Suara propoganda Jepang selalu menyuruh awas siapa yang berpihak kepada Belanda, sebab Jepang mesti masuk ke Indonesia, melepaskan Indonesia dari Jajahan dan membawa bendera “Merah Putih”.

“Tanggal 12 Maret 1942, adalah hari napas penghabisan dari kemegahan Belanda di Kota Medan. Esoknya, pukul 6, orang telah menyorakan bahwa Jepang telah masuk. Orang telah melihatnya naik sepeda bersama-sama melalaui jalan-jalan raya di tengah Kota Medan. Kedengaran di mana-mana orang berbisik dengan gembira, melihat ke rumah orang Belanda yang telah tertutup.”

Waktu itulah Bung Haji berpikir, “Biarlah saya mejawab,” katanya dalam hatinya. “Kalau jawaban saya salah, saya bukanlah seorang penganjur partai politik, saya hanya pemimpin dari satu perseriktan agama yang oleh Belanda disebur social vereeneging, perkumpulan sosial. Tetapi kalau jawaban saya jitu, terlepaslah teman-temanku dari kesulitan,dan mereka akan mengenal siapa saya! Inilah saat sejarah!” Demikian kata Bung Haji dalam hatinya.

“Paduka Tuan resident!” katanya memulai pembicaraannya. “Pidato Paduka tuan telah kami denga sejak dari awal sampai kepada akhirnya. Kami mengucapkan terima kasih atas nasihat-nasihat  menyuruh kami bersatu. Nasihat itu kami pegang teguh, kami akan bersatu! Adapun maksud pemerintah Belanda akan berperang dengan jepang, serun kami hanya satu, moga-moga berhasillah maksudnya itu.”

Itulah hanya jawaban Bung Haji. Habis!

Setia, si tiga Warna, RatuWilhelmina dan lain-lain tidak disebut.

Kaku.

Sungguh pidato itu agak kasar, tetapi tidak dapat diikat. Sebab tidak ada kata-kata yang menghina. Tetapi, teranglah pidato itu hopeless (mengecewakan), tidak memenuhi apa yang diharapkan oleh pemerintah. Terbayanglah pula dalam pidato itu bahwa bangsa indonesia tidak akan ikut campur dalam peperangan ini.

Hari Kamis , tanggal 12 Maret 1942, adalah hari napas penghabisan dari kemegahan Belanda di Kota Medan. Kita masih ingat, sehari itu surat kabar De Sumatra Post terbit tinggal seperempat muka. Pukul 9 pagi sudah keluar mobil perusak, beberpa bulan lokomotif dan tanki minyak tanah kepunyaan Socony habis dibumihanguskan.  Sirene berbunyi panjang, letusan-letusan kedengaran amat dahsyat, asap menjulang ke udara. Sejak tengah hari, hari Kamis itu, terasa bahwa pemerintah sudah tidak ada lagi. Orang Belanda ada yang lari dan ada yang sembunyi saja dalam rumahnya. Yang mondar-mandir hanya polisi saja.

Pada hari Jumat tanggal 13 Maret, baru pukul 6, orang telah menyorakan bahwa Jepang telah masuk. Orang telah melihatnya naik sepeda bersama-sama melalaui jalan-jalan raya di tengah Kota Medan. Kedengaran di mana-mana orang berbisik dengan gembira, melihat ke rumah orang Belanda yang telah tertutup. Kian sejam kian ramai. Mulanya sirene berbunyi panjang, setelah lama dia pun berhenti. Medan telah penuh tentara Jepang.

Bersambung

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda