Mutiara

Mikraj Bung Karno

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Sepotong angan-angan keagungan dan permainan peran yang susah ditebak. Bagaimana Soekarno memaknai mikraj, dan siapa dirinya.  

Bulan-bulan menjelang kejatuhannya, Bung Karno (BK) sedang di puncak ketenaran. Ini buah keberhasilan sang Pemimpin Besar Revolusi merebut Irian Barat. Tak heran jika dia menerima banyak gelar sarjana kehormatan — juga dari perguruan tinggi Islam. Di Jakarta misalnya, Bung Karno memperoleh predikat doktor honoris causa dari IAIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Muhamadiyah. Gelar yang ke-24 dan ke-26 ini masing-masing dari llmu Ushuludin dan Dakwah serta llmu Tauhid. Meskipun pertimbangannya lebih bersifat politis (berbagai golongan dan partai waktu itu berlomba merangkul Bung Karno), penganugrahan oleh kedua perguruan tinggi ini bisa diterangkan.

Konon, seketika dijebloskan ke penjara Sukamiskin, Bandung, pada 1920-an, BK mengisi hari-harinya dengan bacaan Islam. Perkenalannya dengan Islam sebenarnya sudah dimulai sebelum dia kuliah di kota berjuluk Paris van Java  itu. Yakni ketika dia ngenger pada Haji Oemar Said Tjokrominoto di Surabaya. Salah satu buku kegemarannya adalah The New World of Islam Lothrop Stoddard, yang kata seorang analis Barat, bagi bung Karno, lebih menarik new world-nya daripada Islamnya. Minat kepada Islam itu berkembang di pembuangannya di Endeh, Flores. Ini, setidaknya, bisa kita baca dalam korespondesinya dengan Ustadz A. Hassan, guru utama  Persatuan Islam (Persis) dan penulis tafsir Al-Furqan.

Salah satu suratnya, 17 Oktober 1936, antara lain menyatakan perubahan jiwa yang dialaminya dari jiwa yang hanya “banyak falsafat ketuhanan”-nya, tetapi belum mengamalkan, menjadi jiwa yang “sehari-hari menyembah kepadanya”, berkat pertolongan Allah dan dan pertolongan tuan dan pertolongan orang-orang lain”. Lalu dia mengeritik kejumudan dan kekunoan guru-guru Islam dan dan para kiai. Menurut Bung Karno, pengetahuan mereka tentang sejarah umumnya nihil. Sejarah, apalagi bagiannya yang mempelajari sebab-sebab kemajuan dan kemunduran suatu bangsa, bagi mereka tidak menarik. Perhatian mereka terbatas pada fikih, yang kalau dipikirkan dalam-dalam, kata dia, justru “ikut menjadi algojo semangat Islam.”

Pada pidato-pidato doktor honoris causa-nya kemudian, agak sulit kita menemukan perkembangan pemikirannya yang terdahulu, meski pemaparannya tetap memukau: kemampuan seni memilih dan menyusun kata memang merupakan fadhilah, keutamaan,  si Bung. Ini bisa dilihat dari pidatonya yang paling terkenal, Tjilaka Negara yang Tidak ber-Tuhan, di IAIN. Bung Karno memulai orasinya dengan menyapa beberapa nama hadirin seperti Subandrio, Nasution, Leimena, dan Arudji Kartawinata. “Bandrio, kamu harus menjadi orang yang beragama, mengerti?” Berikut ini penggalan lainnya:

“Jika kalian ingin mengerti mengapa dahulunya lslam pernah mengalami pasang naik… dan juga pasang surut… bebaskan pikiranmu dari berpikir biasa, berpikir konvensionil. ….kamu mahasiswa IAIN, kamu jangan mempelajari Islam dan jangan dan mencoba memajukan Islam dengan, apa itu, jiwa  — maaf — jiwa pesantren…. Naiklah ke langit, seperti telah aku lakukan, dan lihatlah sekeliling! Dan jangan hanya melihat ke Saudi Arabia, ke Mekah, ke Madinah, tetapi lihat ke Kairo, Spanyol, dan lihat ke seluruh dunia. Lihatlah sejarah….. bukan hanya sejarah rakyat Indonesia dan sejarak rakyat Arab, tetapi sejarah kemanusiaan!….. Bebaskan dirimu dari jiwa dan suasana pesantren. Sekali lagi, aku minta maaf, aku tidak bermakhsud menghina. Aku telah membebaskan diriku dari dunia kebendaan ini yang tidak memberiku kepuasan…. dan telah naik mikraj, mikrajnya pikiran sahabat-sahabatku… dunianya pikiran. Artinya ialah, aku bisa membaca buku-buku yang ditulis oleh orang seluruh dunia…. Di situlah aku bertemu dengan para pemikir, para pemikir seluruh bangsa.”

Hidup dengan “jiwa pesantren”, bagi Bung Karno, ibarat tinggal di ruang tertutup.  Bukalah pintu! Bukalah jendela! Ya, bahkan lebih dari itu: sekali kamu keluar dari ruang pengap itu, bangkitlah, bangkitlah, naik ke langit…!”

Bung Karno,  yang, seperti dikatakan Nurcholish Majid, pada tahun-tahun terakhir kekuasaanya sangat mendambakan keagungan pribadi (personal glory), menurut B.J Boland senang memainkan peran yang sukar di tebak —  dengan sedikit lagak. Dengarlah bagaimana dia menjelaskan dirinya: “Ada orang yang mengatakan bahwa Soekarno seorang Nasionalis; yang lainnya mengatakan bahwa ia bukan nasionalis lagi, ia sekarang seorang Muslim. Tetapi ada lagi yang mengatakan ia bukan nasionalis dan bukan Muslim, tetapi seorang Marxis. Bahkan  ada beberapa orang yang mengatakan , ia bukan seorang nasionalis, juga bukan Muslim dan tidak seorang marxis, ia adalah seorang yang mempunyai pendapatnya sendiri…. Siapakah Soekarno ini? Apakah dia seorang nasionalis, seorang Muslim, seorang marxis? Para pembaca tercinta, Soekarno adalah campuran semua isme ini.”

Hebat.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

1 Comment

Tinggalkan Komentar Anda