Tafsir

Ke Yerusalem, Kota Nabi-Nabi (Bagian 4)

Written by Panji Masyarakat

Nabi Muhammad, dengan perjalanan Mikraj  menyambungkan diri beliau, meski hanya secara lebih formal, ke kemah lbrahim — yang tak hanya membentang di Palestina melainkan mencakup seluruh Jazirah, dan kemudian praktis seluruh bumi.

Kaisar Titus

Baitulmaqdis adalah Yerusalem, atau Ilia, nama kuno. Masjid Al-Aqsha adalah masjid yang di situ. Tetapi ada pendapat lain: yang dimakhsud dengan Masjid Al-Aqsha adalah Baitulmaqdis itu sendiri – “karena waktu itu belum ada masjid di sana ”, dikatakan Zamaksyari dalam Al-Kasysyaf. Abdullah Yusuf Ali,  dalam pada itu, yakin Masjid Al-Aqsha adalah Kuil (Haikal) Sulaiman —  dibangun sekitar 1004 SM, mengalami penghancuran, antara lain oleh Nebukadnezar, dan pembangunan kembali, akhirnya diratakan dengan tanah oleh Kaisar Romawi, Titus, pada 70 M (Yusuf Ali, The Glorius Kur’an, 693). Barulah di belakang hari di reruntuhan itu dibangun masjid berkat Khalifah Umar r.a.

Dengan kata lain, waktu Nabi berisra’, secara fisik tidak ada masjid Al-Aqsha. Di sini terlihat tuntunan untuk menangkap sebuah pengertian yang rohaniah sifatnya: kalaupun Masjid Al-Aqsha akan diartikan sebagai Yerusalem seutuhnya, bukankah yang dialami Nabi dalam peristiwa itu adalah turun di depan rumah ibadah, menambatkan binatang, dan memasuki sebuah bangunan utuh? (Dan bukankah, sambil mengingat bahwa perjalanan Nabi sejak dari Mekah sendiri “bukan perjalanan biasa”, sering digunjingkan kemungkinan seseorang mengalami serangkaian kejadian di suatu tempat yang sebetulnya sudah lama tidak ada?).

Di belakang hari, Nabi sendiri yang menceritakan, seperti yang kembali direkam Thabari: “Ketika Kaum Quraisy mendustakan aku (menolak kemungkinan Isra’), aku berdiri, lalu Allah menghidupkan untukku Baitulmakdis (yang belum pernah dilihat Nabi), lalu aku memberi tahu mereka tanda-tanda (landmarks)-nya, sementara aku memandangnya.” Disitu jelas, yang ditunjuk Nabi adalah Baitulmakdis – bukan bangunan masjidnya, yang tentu tidak pernah dilihat tuan-tuan jahiliah itu.

Betapapun, di masjid itulah Jibril memberi beliau tafsir semua pemandangan yang dilihat Nabi sepanjang jalan. Kemudian didatangkan dua cawan, dari susu dan arak, atau tiga, dari air, susu, dan arak, dan beliau memilih susu. Dikatakan, itu pilihan bijak bagi umat beliau kelak.

Tetapi, yang terpenting, betapapun, pertemuan Nabi kita dengan para Nabi pendahulu beliau, yang mengawali semua acara di masjid itu. Di situlah, dituturkan Nabi sendiri, “aku bersembahyang, dengan para Nabi dan Rasul-Rasul, sebagai imam.” Inilah versi yang paling disepakati —  lebih dari riwayat bahwa lebih dulu didatangkan Adam dan seluruh nabi keturunan beliau, dan baru Rasulullah mengimami mereka.

Sesudah itu ada adegan beliau dan para nabi lain — lbrahim, Musa, Dawud, Sulaiman, dan Isa — mengucapkan puji-pujian kepada Allah, masing-masing menurut anugerah yang merupakan kekhususannya. Di antara kalimat-kalimat Nabi: “Segala puji bagi Allah, yang telah membuat aku Pembebas dan Pamungkas.” Maka berkatalah lbrahim: “Dengan ini Muhammad melebihi kamu semua.”

Dan dengan perjalanan ini Muhammad menyambungkan diri beliau, meski hanya secara lebih formal, ke kemah lbrahim  — yang tak hanya membentang di Palestina melainkan mencakup seluruh Jazirah, dan kemudian praktis seluruh bumi.

Lalu beliau melesat ke dalam pengalaman Mikraj.***

Penulis: Syu’bah Asa; Sumber: Panjimas, 02-15 Oktober 2002   

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda