Tafsir

Ke Yerusalem, Kota Nabi-Nabi (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Sepanjang jalan, beliau melihat perwujudan berbagai tamsil: tamsil pahala kaum pejuang di jalan Allah, dosa mereka yang “kepalanya merasa berat menjalankan salat wajib”,  dosa penolak kewajiban zakat, tamsil zina, tamsil penggangu jalan, tamsil orang yang tidak benar dalam perkara amanat, tamsil para khatib yang “lain kata lain perbuatan”, juga tamsil tukang omong besar.

Menembus Malam

Maka melesatlah burak, dengan Nabi di punggungnya, dengan Jibril di sampingnya. Riwayat Al-Hasan ibn Abil Hasan menyebut keduanya tidak saling mendahului. Adapun yang pertama dijumpai Nabi di perjalanan tampaknya adalah yang dituturkan dalam riwayat Ibn Syihab: sebuah kafilah Quraisy di sebuah wadi. Maka buyarlah kafilah itu. Di antaranya terdapat seekor unta yang mengangkut dua karung, hitam dan biru.

Kemudian, dalam penuturan Anas r.a. lewat Abdurrahman ibn Hasyim di atas, disebutkan seorang perempuan tua beliau lihat beberapa jauh dari jalan. Nabi bertanya, “Apa ini?”

“Jalan terus, ya Muhammad,” jawab Jibril. Kemudian sesuatu memanggil-manggil, sambil menyingkir dari jalan. Katanya, “Ke sini, Muhammad!”

“Jalan terus, ya Muhammad,” kembali kata Jibril. Berikutnya, (beberapa) makhluk memapas beliau. Salah satunya berseru, “Assalamu’alaika, wahai yang pertama. Asslamu’alaika, wahai yang terakhir. Assalamu’alaika, wahai penghimpun.”

“Jawablah salam itu, ya Muhammad,” kata Jibril. Nabi pun menjawab salam. Yang kedua berucap seperti yang ketiga demikian pula. Sampai mereka tiba di Baitulmakdis.

Dalam penuturan Nabi sendiri, lewat Abu Sa’id Al-Khudri di atas, ada tambahan: “Lalu aku hadapi seorang perempuan di jalan. Kulihat di tubuhnya seluruh perhiasan dunia. Ia mengangkat tangannya,berseru: “Hai Muhammad,  tahanlah — aku mau bertanya!’ Tapi aku berlalu, tidak berhenti untuk dia. Kemudian aku sampai di Baitulmakdis” – atau, beliau mengatakan, “di Masjid Al-Aqsha. Aku turun dari binatang itu, dan menambatkannya dengan tali yang biasa dipakai para Nabi untuk menambatkannya. Kemudian aku masuk ke Masjid dan salat.”

Detil lain lagi bisa didapat dari penuturan “Abu Hurairah atau lainnya” di atas. Sepanjang jalan, beliau melihat perwujudan berbagai tamsil: tamsil pahala kaum pejuang di jalan Allah, dosa mereka yang “kepalanya merasa berat menjalankan salat wajib”,  dosa penolak kewajiban zakat, tamsil zina, tamsil penggangu jalan, tamsil orang yang tidak benar dalam perkara amanat, tamsil para khatib yang “lain kata lain perbuatan”, juga tamsil tukang omong besar. Bahkan mereka melewati lembah-lembah surga dan neraka dari kejauhan, mencium aroma keduanya dan mendengar suara masing-masing.

Lalu berdua mereka melaju, sampai ke Baitulmakdis. Beliau turun, dan menambatkan kuda ke batu karang. (Ibn Jarir Ath-Thabari, Jami’ul Bayan lil-Ta’wili Ayatil Qur’an, XV:3-15, passim ). Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa; Sumber: Panjimas, 02-15 Oktober 2002   

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda