Mutiara

Tuanku Tambusai, Sang Harimau Paderi

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Bukan hanya sulit ditaklukkan, penyebar Islam di Toba ini menolak berdamai dengan Belanda. Lolos dari kepungan di benteng terakhirnya, di usianya yang hampir 100 tahun ia mengungsi ke Malaysia hingga wafat.

Tuanku Tambusai adalah tokoh perang Paderi yang sulit ditaklukkan Belanda. Maka tak heran ia dijuluki “De Padrische Tijger van Rokan” (Harimau Paderi dari Rokan). Bukan hanya sulit dikalahkan, ia juga tidak pernah menyerah, dan tidak mau berdamai dengan Belanda. Keteguhan sikapnya diperlihatkan dengan menolak ajakan Kolonel Elout untuk berdamai.

Ia lahir pada 5 November 1784 di Dalu-dalu, Nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau. Dalu-dalu adalah salah satu desa pedagang Minangkabau yang terletak di tepi Sungai Sosah, anak sungai Rokan. Tuanku Tambusai yang memiliki nama kecil Muhammad Saleh, merupakan anak pasangan Ibrahim dan Munah.

Di usia 10 tahun, Tuanku Tambusai sudah hafal Alquran. Melihat kecerdasan Saleh, seorang pedagang garam menganjurkan Ibrahim agar mengirim anaknya untuk belajar kepada dua orang tuan syekh di Tambusai. Tetapi belum sempat mengantar ke

Tambusai, ayahnya sudah meninggal. Untuk mencari biaya belajar, Saleh menjadi pembantu pedagang tadi. Waktu pedagang itu istirahat atau berbelanja di pasar dialah yang memberi makan dan memandikan kuda-kuda si pedagang itu. Saleh tak hanya mendapat uang, ia pun dapat pengetahuan tentang sifat-sifat kuda. Pengetahuannya mengenai sifat-sifat kuda ini yang kelak menjadikannya seorang kavaleri dalam pasukan Paderi.

Setelah uang terkumpul, Saleh melanjutkan perjalanan memperdalam ilmu agama kepada guru-guru di Tambusai dan Tuanku Imam Bonjol di Rao. Setelah itu, atas anjuran guru-gurunya, ia pergi ke Kamang, ke Pesantren Tuanku Nan Renceh. .

Beberapa tahun kemudian, dia mendapatkan tugas untuk menyebarkan agama Islam ke daerah yang paling rawan saat itu, yaitu Toba (Sumatera Utara) yang sebagian besar penduduknya menganut kepercayaan Pelbegu (ajaran nenek moyang). Ajaran Paderi yang dipelajarinya dari Imam Bonjol cepat diterima luas oleh masyarakat, beliau menyebarkan ajaran Islam dan melakukan pemurnian Islam dari tahayul, khurafat, dan bid’ah, sehingga banyak dari masyarakat Batak yang memeluk agama Islam.

Ketika berdakwah di daerah itu, Tuanku Tambusai difitnah ingin merombak adat nenek moyang orang Batak. Hal ini menyebabkan nyawa Tuanku Tambusai

terancam. Merasa Toba sudah tak aman baginya, ia pun memutuskan kembali ke Rao (Sumatera Barat). Di sana, ia menyiarkan agama Islam bersama Tuanku Rao ke daerah-daerah pelosok seperti Airbangis dan Padanglawas.

Di tengah-tengah tugas berdakwah, terdengar kabar bahwa Tuanku Imam Bonjol memimpin perang melawan Belanda. Tuanku Tambusai pun ikut berperang. Pada tahun 1832, Tuanku Tambusai dipercaya untuk memegang komando dalam Perang Paderi.

Perjuangannya dimulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu. Tuanku Tambusai kemudian melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823. Tahun 1824, Tuanku Tambusai memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, dan Natal untuk melawan Belanda. Selama masa perang, Tuanku Tambusai sempat menunaikan ibadah haji sekaligus melaksanakan permintaan Tuanku Imam Bonjol untuk mempelajari perkembangan Islam di Tanah Suci.

Dalam kurun waktu 15 tahun, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda, sehingga sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Berkat kecerdikannya, benteng Belanda Fort Amerongen dapat dihancurkan. Bonjol yang telah

jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali walaupun tidak bertahan lama. Tuanku Tambusai tidak saja menghadapi Belanda, tetapi juga sekaligus pasukan Raja Gedombang (regent Mandailing) dan Tumenggung Kartoredjo, yang berpihak kepada Belanda. Pada 28 Desember 1838, Benteng Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda, Tuanku Tambusai berhasil meloloskan diri dari kepungan Belanda dan para sekutunya dengan melarikan diri melalui pintu rahasia.

Jejak Tuanku Tambusai ditemukan di sungai Rokan. Di sungai tersebut ditemukan sampan kecil milik Tuanku Tambusai bersamaan dengan barang -barang miliknya seperti cincin stempel, Alquran, serta beberapa buku yang dibawanya dari Mekah. Di usianya yang telah cukup renta, 98 tahun, ia kemudian mengungsi ke Seremban, Malaysia. Tuanku Tambusai meninggal pada 12 November 1882 di Negeri Sembilan, Malaysia. Atas jasa-jasanya pada negara memimpin Paderi, Tuanku Tambusai dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1995.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda