Cakrawala

Fathul Mubin

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberimu ampunan, terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmatNya atasmu, dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang luar biasa kuat. (QS Al-Fath: 1-3).

“Ayat ini didiktekan dengan sangat jelas oleh seorang utusan setelah seorang kyai sepuh mewedar pesan-pesannya pada saya. Pesan-pesan tersebut terkait dengan kondisi Indonesia mutakhir, juga kekecewaannya karena banyak orang alim yang gemar memakai lipstik.”

“Pertemuan tersebut terjadi pada tanggal 17 September 2019 atau 17 Muharram 1441 H, di sepertiga akhir malam,” jelas kawan saya dengan lirih.

“Terjadi secara ‘kebetulan’ dalam suatu perjalanan,” demikian dia menjelaskan, “dan disaat itu kepercayaan saya terhadap banyak hal sedang meluncur ke titik nadir.”

Saya percaya bahwa dia tidak sedang mengarang cerita atau berbohong, karena selama ini saya tidak mengenalnya sebagai orang yang suka mengarang atau berbohong. Tapi untuk mencerna ceritanya, saya juga agak kesulitan; apalagi ciri-ciri kyai sepuh yang dia sebut sangat mirip, kalau bukan malah sama, dengan seorang kyai besar dan berpengaruh yang barusan wafat sekitar 40 hari sebelum peristiwa perjumpaan yang diceritakannya.

Saya juga tidak berani berandai-andai, ke mana sebenarnya arah yang disasar pesan tersebut. Untuk tidak terjebak pada kekusutan pikiran, pada kawan tersebut saya katakan bahwa mungkin saja pesan tersebut hanya berkait dengan masalah pribadinya; jadi tak perlu dilebar-lebarkan ke wilayah lain. Kalau pesan tersebut memang benar, pada saatnya pasti akan mewujud apa yang seharusnya wujud.

Dia hanya diam dan tersenyum menanggapi saran saya tersebut. Tapi begitulah, setelah dia pulang, justru pikiran saya yang melayang kemana-mana. Tentu bukan tanpa sebab. Banyak detail dari kisah kawan tadi, yang membuat saya sebenarnya tak sepenuhnya yakin bahwa pesan tersebut memang untuk dirinya pribadi.

Surat Al Fath ayat 1 sampai dengan 3, turun dengan latar belakang perjanjian Hudaibiyah yang terjadi di bulan Dzulqaidah tahun ke-6 H. Perjanjian ini secara eksplisit menempatkan Rasulullah dan kaum muslimin pada posisi yang dirugikan.

Para sahabat Nabi waktu itu tentu saja kecewa dengan perjanjian tersebut. Banyak yang mengungkapkannya secara terbuka. Salah satunya Umar bin Khatab, yang konon sampai tingkat meragukan kenabian Rasulullah; sesuatu yang kemudian sangat disesalinya.

Dalam situasi semacam inilah ayat tersebut turun. Ayat yang oleh Rasulullah disebut sebagai “ayat yang lebih aku cintai dari pada segala apa yang ada di muka bumi ini.”

Tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan fathan mubiinaa dalam ayat tersebut, ulama berbeda pendapat. Ada yang mengaitkan dengan fathu Makkah, pembebasan Makkah yang terjadi 2 tahun kemudian, ada yang menghubungkan dengan kemenangan atas orang Romawi; tapi banyak yang menghubungkannya secara langsung dengan perjanjian Hudaibiyah itu sendiri.

Memang agak aneh, ayat tentang pembukaan, pembebasan atau kemenangan turun justru di saat dan untuk perjanjian yang jelas-jelas memosisikan kaum muslimin sebagai pihak yang dirugikan, kalau tidak mau disebut sebagai ‘dikalahkan’. Sesuatu yang bila bukan wahyu, pasti akan segera ditertawakan orang-orang yang mengalaminya.

Tapi memang demikianlah keadaannya, justru setelah dirugikan dan ‘dikalahkan’ oleh bunyi perjanjian tersebut; secara berturut-turut terjadi banyak peristiwa yang membuat banyak orang kemudian memeluk Islam dan mengerucut pada pembebasan Makkah.

Sudah agak lama saya melupakan cerita kawan tadi, tapi entah kenapa saat ini, tepat enam bulan setelah dia menceritakannya; saya melihat banyak peristiwa yang dengan kuat menggoda saya untuk mulai percaya: jangan-jangan pesan tersebut memang bukan hanya ditujukan untuk diri pribadinya saja. Cuma yang masih cukup mengganjal: lantas siapakah subyeknya?

Sebenarnya saya ingin mendengar pendapatnya, tapi begitulah kelakuan kawan saya yang satu ini: selalu sulit ditemui kecuali dia sendiri yang punya kehendak menemui.

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda