Jejak Islam

Jejak Masjid Agung Solo (bagian 3) : Menggebrak Lewat Mambaul Ulum

Sisa-sisa Madrasah Mambaul Ulum Surakarta. Dapat terlihat dari seberang Pasar Klewer saat ini. (Foto :nu.or.id)
Ditulis oleh Ahmad Lukman A.

Paku Buwono X mendirikan Madrasah Mambaul Ulum pada 1905. Konsepnya memadukan Islam dengan pengetahuan modern. Menjadi peletak dasar pendidikan serupa di Tanah Air.

Ketika kesultanan Demak dan kerajaan Mataram Islam berakhir, Masjid Agung Solo menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa. Dalam pengembangannya, pengelola Masjid Agung pada masa kepemimpinan Raja Paku Buwono IX merintis pusat pendidikan agama Islam. Lalu, Paku Buwono X menyempurnakannya dengan mendirikan Madrasah Mambaul Ulum dengan fasilitas gedung sekolah di selatan Masjid Agung. Sekarang, bekas gedung madrasah ini bisa dilihat karena hanya berseberangan dengan Pasar Klewer sebagai pusat perdagangan kain terbesar di Asia Tenggara.

Mambaul Ulum yang berarti ‘sumber ilmu pengetahuan’ adalah lembaga pertama pendidikan modern Islam di Tanah Air. Konsep pengajaran baru ini adalah wujud tanggung jawab raja sebagai penatagama (penata agama Islam). Pendirian madrasah ini lebih untuk memperdalam pengetahuan keislaman serta mencetak generasi baru ulama untuk memenuhi kebutuhan pejabat dalam birokrasi kerajaan. Pada awalnya, konsep memadukan pendidikan keislaman  dengan pengetahuan modern ii tidak langsung dapat diterima. Terjadi pertentangan di antara umat. Yang pro melihat bahwa ini untuk merealisasikan kewajiban agama dalam menuntut ilmu serta agama untuk memenuhi kebutuhan kerajaan. Yang kontra menyebut bahwa mengikuti sistem pengajaran ala Barat sama saja dengan berkompromsi dengan kolonialisme sehingga haram hukumnya.

Paku Buwono X mendengarkan hal itu sehingga menggelar musyawarah. Salah seorang alim ulama bernama Kiai Bagus Arfah akhirnya mampu menjembatani pelbagai keinginan lalu memadukan sistem pesantren dengan pendidikan modern yang lahir dalam bentuk Mambaul Ulum. Sejak 23 Juli 1905 pendidikan di Mambaul Ulum dilaksanakan di serambi masjid Agung. Baru pada 20 Februari, madrasah ini pindah ke sebuah bangunan di selatan masjid Agung dan masuk dalam kompleks masjid.

Gebrakan Sinuwun ini mengundang curiga pemerintah kolonial Belanda. Snouck Hurgronje menengarai bahwa ada hubungan erat antara penghulu dan pesantren dalam konteks radikalisme Islam di Jawa. Ini membuat kesulitan bagi Kasunanan Surakarta mencari calon yang mampu menjabat penghulu. Meskipun banyak yang mampu di kalangan Islam,  stigma negatif dari Belanda itu yang membuat mereka enggan menjadi penghulu. Apalagi juga keberadaan Mambaul Ulum pernah menggetarkan parlemen Belanda karena muncul selebaran berjudul “Een Mohammedansch Universitier op Soerakarta”. Dalam selebaran ini dianggap Mambaul Ulum dapat membahayakan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Parlemen menanyakan kebenaran hal itu, tetapi hasil investigasi menunjukkan bahwa pesantren disesuaikan dengan sistem pendidikan Barat sehingga tidak akan berpolitik dalam kegiatan pembelajarannya.

Murid yang bersekolah di Mambaul Ulum tidak hanya golongan tertentu karena anak sentana dalem, abdi dalem maupun kawulo dalem bisa masuk sekolah ini. Anak-anak dari abdi dalem mutihan bahkan wajib masuk madrasah ini. Terdiri dari murid laki-laki, mereka belajar pada pagi dan sore hari. Sebagai lembaga pendidikan, kurikulum pun berkembang dinamis. Pada 21 November 1932 dimulailah kelas wustha (menengah)  hingga ulya (atas) meneruskan tingkat ibtidaiyah (dasar) yang lebih dulu ada. Di tingkat ibtidaiyah ada kelas I, II, III, IV sedangkan tingkat wusto kelas Va, Vb, VIa, dan VIb. Tingkat ulya kelas VIIa, VIIIb, dan VIIIc. Pada Januari 1934 jenjang diubah lagi menjadi kelas I hingga XI.  

Mata pelajaran yang diajarkan di Mambaul Ulum selain agama Islam, bahasa Jawa, bahasa Melayu, Berhitung, Ilmu Kodrat dan sebagainya. Pada 1933 tercatat kurikulm memuat pelajaran Alquran, Fikih, Tauhid, Nahwu, Sharaf, Tarikh, Tajwid, Lughat, Balaghah, Tafsir, Mustholah Tafsir, Ushul Fikih, Hadis, Mustholah Hadis, Falak, Mantik, bahasa Melayu, Pawulang Jawa, Panggulo Wentah Jawa atau Filsafat Jawa. Metode pembelajarannya tidak sorogan atau badongan tetapi secara klasikal,  bernjenjang , menggunakan kurikulum terstandarisasi, dan selalu dievaluasi dalam rentang waktu tertentu.

Kehadiran Mambaul Ulum menjadi berkah dan dampak positif bagi Masjid Agung Solo. Masjid menjadi lebih dinamis sehingga tersohor ke pelbagai daerah. Masjid Agung Solo menjadi buah bibir dalam konstelasi politik Islam tingkat nasional. Spirit PB X dalam membangun Mambaul Ulum dapat berhasil berkat sinergi antar kekuatan sosial untuk menyatukan visi dan misi mereka.

Apalagi lulusan Mambaul Ulum banyak menghasilkan tokoh-tokoh muslim terkemuka dan bersanding dengan tokoh nasional berpendidikan Barat. Sebut saja KH Saifuddin Zuhri (9191-1986) yang menjadi menteri agama kabinet Soekarno, fisikawan nuklir Ahmad Baiquni, Munawir Sadzali, menteri agama 1983-1993,  dan KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor adalah lulusan Mambaul Ulum. Alumni Mambaul Ulum yang menyebar ke pelosok daerah juga menyebarkan ilmu yang mereka dapatkan dari kompleks Masjid Agung Solo.

Namun sayang, pasca kemerdekaan nama Mambaul Ulum meredup. Saat itu, seiring peralihan kekuasaan Kasunan Surakarta kepada Pemerintah Indonesia, pengelolaan sekolah Mambaul Ulum dikelola Kementerian Agama. Sekolah Mambaul Ulum berubah menjadi sekolah PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) dan selanjutnya menjadi MAN (Madrasah Aliyah Negeri) II Solo. Sejak itu, nama Mambaul Ulum pun tenggelam. Tapi sejarah telah mencatat,  keberadaannya menjadi inspirasi pendidikan modern Islam di Indonesia.

Sumber : Buku Sejarah Masjid Agung Surakarta, 2014

Tentang Penulis

Ahmad Lukman A.

Berpengalaman menjadi wartawan sejak tahun 2000 dimulai dengan bergabung di Majalah Panji Masyarakat. Lalu, melanjutkan karir di media berbasis teknologi mobile. Lulus dari S2 Ilmu Komunikasi UI dan memiliki antusiasme pada bidang teknologi dan komunikasi.

Tinggalkan Komentar Anda