Hamka

Hamka tentang Hamka (Bagian 10)

Written by Panji Masyarakat

Bertemu Bung Karno dan Hubngan Batin dengan Hatta

Setelah Ir. Soekarno dipindahkan pengasingannya dari Endeh ke Bengkulu, kami kirimi dia Pedoman Masyarakat tiap terbit. Beliau mulai mengenal tulisan-tulisan saya. Mulailah terjadi hubungan mesra di antara kami. Kepada saudara Oei Tjeng Hin (Abdul Karim Oei), Konsul Muhamadiyah Bengkulu waktu itu, pernah beliau bertanya tentang pribadi saya, Pendidikan dan Keahlian. Dia kagum mendengar bahwa saya hanya sekolah pondok saja. Ketika saya ke Yogya menghadiri kongres Muhammadiyah ke-30 (Januari 1941) dipesankannya kepada Sdr. Oei Tjeng Hin, sudilah saya singgah di Bengkulu ketika akan kembali ke Medan. Saya sendiri pun ingin hendak meliht wajahnya, lalu  saya singga di Bengkulu dan bercakap-cakap dengan dia hampir dua jam. Sesudah itu kami pergi bertiga-tiga dengan Sdr. Oei Tjeng Hin berfoto bersama-sama sebagai kenangan. Setelah itu sampai pun beliau menjadi presiden, persahabatan kami masih akrab. Tetapi kemudian kian lama kian terpisah, kian lama kian jauh jarak kami, sampai akhirnya saya suruh beliau benamkan ke dalam tahanan dua tahun empat bulan lamanya (Hamka mendekam di penjara pada masa Demokrasi Terpimpin, red). Namun saya tidak dapat lupa bahwa Pedoman Masyarakat-lah yang mempertemukan kami.

Hamka berpose bersama Soekarno dan Karim Oei di Bengkulu


Ketika itu Drs. Mohammad Hatta telah dipindahkan pula tempat pengasingannya dari Digul ke Banda Neira. Buku Tasauf Modern telah dimuat berturut-turut lebih setahun di dalam Pedoman Masyarakat, kami kirimkan satu eksemplar kepada beliau. Tidak lama antaranya datang surat beliau mengucapkan terima kasih atas kiriman itu, dan gembira karena kami dapat menegeluarkan buku pengetahuan agama dengan teknik yang buat masa itu terhitung bagus. Sejak itu telah ada hubungan batin dengan Bung Hatta.

Utang Budi kepada Haji Agus Salim

Jika datang ke Jawa saya memerlukan diri datang menziarahi Bapak Haji Agus Salim. Beliau waktu itu tinggal di Jalan Karet, tidak begitu jauh dari masjid “jamik” Tanah Abang. Beliau senang sekali bila diziarahi. Beliau bercakap soal-soal agama, filsafat, politik, tasawuf, sejarah hidup Rasulullah s.a.w. dengan mendalam, biar satu jam, biar dua jam, kita tidak akan bosan mendengarkan. Beliau senang sekali membaca dan memperhatikan Pedoman Masyarakat. Beliau bersedia mengarang apabila diminta, apatah lagi bila kita sabar menunggu. Saya pernah mengundurkan hari kembali saya ke Medan beberapa hari karena menunggu karangan beliau. Dan karangan beliau, gaya bahasa, pilihan kalimat sangatlah indah. Beliau adalah politikus-sastrawan. Sampai beliau meninggal saya merasa bahwa beliau adalah seorang di antara tempat saya berutang budi.

Natsir dan Isa Anshari: Sefaham dan Seperjuangan

Hubungan rohani, persahabatan dan teman seperjuangan yang kian lama kian mendalam, hormat menghormati, harga-menghargai ialah dengan Sdr. Mohammad Natsir dan Sdr. Mohammad Isa Anshari. Kedua teman itu kebetulan sekampung sehalaman pula sama-sama “urang Danau”.

Banyak danau di Sumatera tetapi kalau disebut “urang Danau” atau “nagari Danau” niscaya yang difaham orang ialah orang Danau Maninjau. Ayah saya sendiri, Syekh Abdul Karim Amrullah mensyairkan dirinya demikian:

Abdul Karim Negeri Danau

Semenjak kecil tinggal di surau

Serupa juga dengan di lepau

Siang malam dimabuk gurau

Maka, bila saya pergi ke Jawa, demikian cerita Bung Haji kita, saya perlukan datang ke Bandung, sengaja bertemu dengan kedua kawan sefaham itu. Pada kedatangan Januari 1941 kami ambil kenang-kenangan, kami berfoto lagi bertiga. Foto kami simpan terus, sampai kami bertemu dalam satu wadah perjuangan setelah Indonesia merdeka, yaitu Masyumi. Kami ketiganya sama duduk jadi anggota Konstituante (1956-1959). Bersambung            

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda