Hamka

Hamka tentang Hamka (Bagian 9)

Written by Panji Masyarakat

Di tangan Hamka Pedoman Masyarakat bukan hanya meningkat tirasnya, tetapi menjadi majalah pelopor di zamannya bersama Panji Islam dan majalah Adil. Majalah ini juga mendapat perhatian dari tokoh-tokoh Islam terkemuka waktu itu. Pembacanya bukan hanya dari kalangan Muhammadiyah, tetapi juga dari angkatan muda NU seperti Kiai Wahid Hasyim dan dan Kiai Mahfudz Shiddik.  

Memimpin Pedoman Masyarakat

Di awal bulan Januari 1936 berangkatlah dia seorang dirinya ke Medan, pergi ke tempat yang telah lama dicita-citakannya. Menjadi pengarang!

Pada majalah yang telah diserahkan ke tangannya itu telah telah dituliskannya garis besar cita-citanya dengan majalah itu; Pedoman Masyarakat – Memajukan pengetahuan dan peradaban berdasar Islam. Dengan “Bismillah” dimulainyalah memegang kendali.

Segala kemampuannya di dunia karang-mengarang telah ditumpahkannya ke dalam Pedoman Masyarakat sejak majalah mulai dipimpinnya 22 Januari 1936, sampai berhenti karena kedatangan tentara Jepang, Maret 1942.

Ia yakin kalau majalah itu telah dipimpinnya kelak, teman sahabat di negeri-negeri sebahagian besar akan berlangganan. Dan apa yang diyakininya itu kemudian ternyata tidak meleset. Majalah yang ketika diserahkan padanya oplahnya baru 500 eksemplar, belum satu kuartal telah naik jadi 1.000 eksemplar.

Sebuah majalah kebudayaan “memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban berdasar Islam” sebagai Pedoman Masyrakat itu segera mempunyai kepribadian; kepribadian majalah ialah corak pribadi pemimpinnya.

Berdua dengan Saudara M. Yunan Nasution, kami (Hamka) telah mengemudikan majalah tersebut dengan baik. Majalah itu diisi dengan rubrik “Tuntunan Jiwa”, “Cermin Hidup” (untuk cerita-cerita bersambung), “Penuntun Budi”, dan diadakan juga rubrik untuk sajak.

Dalam majalah itu telah tergambar kepribadian kami. Pembantu-pembantu pun mengirimkan karangan bernilai.

Gerakan kebangkitan Islam turut kami mengapi-apikan. Pemimpin-pemimpin Islam yang besar zaman itu menaruh perhatian, seperti Haji Agus Salim, Kiai Haji Mas Mansur, Abikusno Tjokrosuyoso, dan lain-lain. Kami pun turut menggerakkan MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia). Pedoman Masyarakat dan Panji Islam (pimpinan H. Zainal Abidin Ahmad, kelak bergabung dengan Pedoman Masyarakat dan menjadi Panji Masyarakat) di Medan dan majalah Adil di Solo terhitung majalah pelopor Islam di kala itu. Bila saya mendatangi kongres-kongres Muhammadiyah bertemulah pembaca Pedoman Masyarakat yang setia dari Banjarmasin, seperti Kiai Haji Hasan Tjorong, Haji Kamar, Haji Usman Amin, Bustami Djantera. Memang langganan Pedoman Masyarakat di Banjarmasin melebihi daripada di tempat lain. Dan pembacanya bukan saja dari kalangan Muhammadiyah, tapi dari Musyawaratuth Thalibin juga. Dan dengan perantaraan Pedoman Masyarakat timbul hubungan yang mesra dengan angkatan muda Nahdlatul Ulama di waktu itu, yaitu Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Kiai Mahfuzh Shiddik.

Bersambung

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566