Tafsir

Berlindung dari Godaan Setan (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Berlindunglah kepada Alah dari setan-setan jin dan manusia. Di kalangan manusia ada setan juga? Ada, kata Nabi. Semua yang punya sifat-sifat takabur dan sewenag-wenang adalah setan.    

Ta’auwudz di rakaat pertama

Jumhur ulama berpendapat, isti’adzah itu disukai (mustahabbah), bukan ditetapkan sebagai wajib (mutahattamah) dengan sanksi dosa bagi yang meninggalkannya. Diceritakan tentang Imam Malik, beliau tidak membaca ta’awudz dalam salat-salat fardu tetapi membacanya dalam suatu Ramadan di awal malam.  Syafi’i, dalam pada itu, di dalam kitab Al- Imla’, menyatakan ta’awudz dibaca dengan nyata, tetapi kalau diucapkan lirih saja tidak apa-apa. Dalam Al-Umm Syafi’i membiarkan orang memilih—sebab da;am  kenyataannya Ibn Umar r.a. membacanya lirih dan Abu Hurairah r.a., membacanya dengan jelas.

Tetapi kata-kata Syafi’i berbeda, dalam masalah di luar rakaat pertama — apakah ta’awudz disukai dibaca di situ — menjadi dua pendapat, meskipun beliau lebih berat kepada hukum tidak mustahabb. Wallahu a’lam. Bagi Syafi’i, bila seorang mengucapkan a’udzu billahi minasy syaithanir rajim, itu cukup. Juga bagi Abu Hanifah. Tapi yang lain menuntut bacaan A’udzu billaahis sami’il ‘alimi minasy syaithanir rajiim. Ada juga yang menambahkan: a’udzu billahi minasy syaithanir rajim, innallaha huas sami’ul ‘alim. Itu dari At-Tsauri dan Al-Auza’i. Yang lain lagi: asta’idzu minasy syaithanir rajim.  

Kemudian, isti’adzah di dalam salat dilakukan untuk pembacaan Quran (Fatihah), dan itulah pendapat Abu Hanifah dan Muhammad. Tetapi Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) yakin isti’adzah itu untuk salat. Atas dasar itu maka seorang makmum akan ber-ta’awudz, walaupun tidak membaca Fatihah (makmum, tak wajb baca Fatihah, menurut mazhab Hanafi), dan dalam salat id mengucapkan ta’auwudz itu sesudah takbiratul ihram dan sebelum takbir-takbir salat id. Bagi jumhur ulama, tidak, melainkan setelah takbir-takbir id, sebelum Fatihah.

Di antara beberapa hikmah ista’adzah: ia merupakan pencucian mulut dari segala omong kosong dan kata-kata jorok yang sudah diucapkannya, dan memnbuat mulut harum untuk pembacaan kalam Allah. Ia adalah bentuk permohonan tolong kepada Allah dan pengakuan akan kemampuan-Nya dan, sebaliknya, kelemahan hamba, dalam menghadapi musuh nyata yang bersifat batin ini, yang oleh hamba sendiri tidak akan bisa ditolak dan dilarang, kecuali oleh Allah yang menciptakannya, yakni musuh yang tidak menerima perlakuan manis, tidak menerima suap, tidak pula bisa dibujuk dengan perbuatan baik—berbeda dari musuh jenis manusia—seperti ditunjukkan ayat-ayat Alquran. Allah berfirman, “Sesungguhnya para hamba-Ku tiada bagimu (setan) kekuasaan atas mereka,” dan cukuplah Tuhanmu sebagai wakil (Q. 17: 65).

“Hikmah ista’adzah: (1) pencucian mulut dari segala omong kosong dan kata-kata jorok yang sudah diucapkannya, dan memnbuat mulut harum untuk pembacaan kalam Allah; (2) permohonan tolong kepada Allah dan pengakuan akan kemampuan-Nya dan, sebaliknya, kelemahan hamba, dalam menghadapi musuh nyata yang bersifat batin.”

Para malaikat telah turun ke dunia dan ikut memerangi musuh dari jenis insan (seperti dalam perang-perang Nabi s.a.w.).  Barangsiapa terbunuh oleh musuh-musuh konkret jenis manusia, ia gugur syahid. Tapi barangsiapa dibunuh oleh musuh batin, ia orang terusir (dari kebahagiaan). Barangsiapa dikalahkan musuh konkret, ia mendapat pahala. Tapi barangsiapa bisa dipaksa musuh batin, ia berada dalam bencana dan beban dosa. Dan berhubung setan melihat manusia, sementara manusia tak melihatnya, manusia berlindung dari setan kepada Dzat yang melihatnya tetapi tidak dapat dia lihat.

Setan jin dan manusia

Adapun makna a’udzu billahi minasy syaithanir rajim adalah “aku berlindung ke hadirat Allah dari setan yang terkutuk, agar jangan membahayakan aku di dalam keberagamaanku dan keduniaanku, atau menghalangi aku dari melaksanakan hal-hal yang diperintahkan kepadaku, atau mengasung aku memperbuat hal-hal yang dilarang untukku.”

Setan (syaithan, bahasa Arab) berasal dari syathana yang berarti menjauh. Karenanya dia itu jauh, berdasarkan tabiatnya, dari tabiat manusia, kebaikan. Ada juga yang berpendapat syaithan diambil dari kata syaatha, yang berarti hangus (gosong), karena dia memang makhluk dari api. Ada yang mengatakan dua-dua pengertian sahih dalam makna, tetapi yang pertama lebih benar. (Ibn Katsir, I: 14-15).

Bagi Thabari, syaithan adalah “semua yang punya sifat takabur dan sewenang-wenang, baik jin, manusia, binatang, atau lainnya”. Dalam pengertian itulah Tuhan kita berfirman (Q. 6: 112): “Dan demikian Kami jadikan, untuk setiap nabi, msush yang terdiri dari setan-setan jin dan manusia” (Thabari, I:49). Sebuah riwayat dari Imam Ahmad, dari Abu Dzarr r.a., mengantarkan sabda Rasulullah s.a.w.,: “Berlindunglah, kepada Allah dari setan-setan jin dan manusia.” Aku (Abu Dzarr) bertanya, “Di kalangan manusia ada setan juga?” jawab beliau, “Ada.” (Ibn Katsir, I:15). Wallahul Muaffiq.

Sumber: Panjimas, Juni 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat