Hamka

Hamka Tentang Hamka (Bagian 7)

Written by Panji Masyarakat

Meskipun telah mengenal beberapa perempuan yang cantik, elok, serta diminta menikah oleh keluarga mereka, Hamka tak kuasa menerima permintaan ayahnya, kawin dengan perempuan pilihan ayahnya. Hubugan ayah yang telah renggang dengan sang anak pun bertaut kembali.

Obat Hati Ayah

Datanglah sepucuk surat dari kakaknya menyuruhnya pulang. Dia membangkang, dikirimnya surat yang isinya agak lucu. “Guna apa saya pulang. Orang kamung tidak akan menerima saya. Sebab saya “tidak alim”. Dan saya malu pulang, sebab tunangan saya yang dipertalkan ayah sejak keciltelah dikawinkan dengan orang kaya.”

Tentu saja surat itu sampai terdahulu ke tangan ayahnya, atau diperlihatkan kepada beliau oleh kakaknya. Maka sedang dia enak-enak hendak jadi pengaang, hendak jadi jurnalis, hendak jadi guru, tiba-tiba datanglah iparnya A.R. Sutan Mansur, yang pulang dari Aceh menegakkan Persyarikatan Muhammadiyah, menjemputnya dan membawanya pulang.

Dia sampai di kampung hari Jumat pagi. Maka dijelangnya ayahnya kerumah istri beliau yang tua.

Malamnya sehabis sembahyang magrib, adik ayahnya, Haji Yusuf, membawaya bercakap empat mata ke sudut surau. Bapak kecilnya itu berkata, “malik obatilah hati buyamu, beliau sudah mulai tua. Engkau telah dipetunangkan dengana nak perempuan Endah Sutan, namanya Siti Raham. ”

Dia merenung mendengar, “Obatilah hati ayahmu!” itu.

Banyak kata-kata lain yang tersimpan di belakang ketiga kata-kata itu “Obatilah hati buyamu”.   Hampir 10 tahun dia renggang dengan ayahnya terutama sejak ibunya diceraikan beliau. Telah banyak penderitaannya, hingga belum sepadan dengan usianya.

Banyak yang terkenang. Kulsum di dalam kapal akan ke Mekah. Maryam perempuan Hejaz di rumah syeikhnya yang mendesaknya kawin. Dan ketika dia akan pulang di Medan, seorang gadis sekampungnya yang telah lama tinggal di Medan dan telah belajar di MULO bertanya: “Jik Tuan Haji pulang tentu tidak ada niatan akan balik ke Medan lagi, ya?”

“Ah tentu saja kembali.” (jawab Hamka)

“Jangan mendorong-dorongkan mulut, Tuan Haji, kampung kita keramat.”

Dan di saat akan berangkat , kakak si gadis itu berkata pula, “Kembali jugalah ke Medan, Haji, sebab ada orang yang menunggumu.”

Semuanya terbayang. Sekarang datang kata, “Obatilah hati buyamu.”

Dia tercenung.

Tiba-tiba bapak kecilnya itu berkata pula, “Tak usah dijawab sekarang, berpikirlah sehari dua ini.”

Dia pun pulang ke rumah ibunya. Tiba-tiba dengan gembira ibunya berkata pula, “Tadi Buya (ayah Hamka) memanggilku, kesuraunya.”

“Apa pesan beliau?” (tanya Hamka).

“ Jemput menantumu besok. Bawa ke rumahmu. Jamu dia menurut adat.”

“Siapa menantuku?” tanya ibunya.

“Siti Raham, anak Endah Sutan di Buah Pondok.”

Jadi dia telah bertunangan. Orang telah mempertukarkan tanda. Dia pun tidak dapat membantah lagi. Diberi berpikir sehari dua hanya pemanis saja. Ayahnya telah gembira, ibunya pun telah gembira pula, saya tidak tahu.

Kulsum dan Maryam, atau gadis Medan, rupanya adalah perempuan yang senantiasa mesti bertemu di tengah perjalanan hidup seorang anak muda usia 20 tahun. Ini cantik, ini elok, sana liefde di sini I love you.

Ayahnya adalah seorang alim besar. Dia hendak mencontoh Imam Syafii, ulama ikutan kaum muslimin yang utama, yang berkata: “Bila anakmu telah dewasa, carikanlah jodohnya.”

Setahun lamanya dia bertunangan. Jangan Tuan sangka bahwa bertunangan secara kampung pada masa itu, serupa dengan secara sekarang. Bila hari baik, bulan baik, dia dijemput ibu kita untuk bermalam. Di hari raya dikirim tunangan tadi baju agak sehelai. Sehabis dijahitnya lalu dipakainya menjelang rumah mertuanya. Untuk alamat bahwa dia suka pada tunangannya itu.

Hari yang paling berbahagia itu hari terharu, ialah hari kawin. Dipakainya jubah anggun pemberian ayahnya. Memakai serban hitam ayahnya sendiri. Ketika akan turun tangga menuju rumah pengantin yang perempuan, ayahnya turut hadir melepasnya, ibunya bersimpuh di dekatnya, bapak tirinya pun hadir, rumah penuh sesak oleh keluarga,

Kaum kerabatnya semuanya berbesar  hati , karena di antara ayah dan anak telah surut sebagai semula. Dan bagi si pemuda tadi, diterimanyalah istri yang ditentukan ayahnya itu dengan rela.

Perkawinan itu adalah pada tanggal  5 April 1929.

Bersambung          

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda