Tasawuf

Ajaib,Allah Selalu Berpihak Pada Yang ‘Bodoh’

Suatu satu sore, selepas maghrib, seorang santri berusia sekitar 25an tahun datang menghadap kyainya. Sekitar 2 jam sebelumnya kakinya di patuk seekor ular king kobra.

Sang kyai tentu saja kaget dengan apa yang dialami santri tersebut.

“Apakah kamu sudah ke Puskesmas?”

“Tidak Kyai!” jawab santri tersebut tanpa sedikit pun menunjukkan kekuatiran.

“Kenapa?” tanya kyai tanpa bisa menyembunyikan keheranannya.

“Saya hanya mengamalkan ajaran bahwa apa pun yang datang pada kita adalah dari Allah, dan semua yang datang dari Allah pasti baik adanya. Tepat setelah dipatuk ular, keyakinan itu yang muncul di hati saya Kyai” jawab si santri tetap dengan tenang.

“Kamu yakin?”

“Bukan hanya yakin, tapi haqqul yakin Kyai!”

Tentu saja sang kyai tak lagi punya argumen untuk mematahkan keyakinan tersebut. Apalagi keyakinan itu muncul dari ajarannya sendiri.

“Baiklah kalau begitu. Sebagai bentuk ikhtiar, ikat saja dengan kuat bagian atas bekas gigitan ular di kakimu,” saran kyai sambil menyuruh santri tersebut untuk pulang dan beristirahat.

Malam itu, sang kyai was-was. Bukan tentang gigitan king kobra, tapi terkait  kemampuan si santri memelihara keyakinan. Karena banyak godaan, was-was, dari mana pun datangnya, yang pasti segera menyerbu keyakinan tersebut; baik berasal dari sesama manusia mau pun dari golongan jin yang membisiki hatinya.

Ajaib, esok harinya si santri kembali berkunjung ke rumah sang kyai dalam keadaan segar bugar; tanpa kurang sesuatu pun kecuali dua lubang kecil bekas gigitan king kobra di kakinya. Sang kyai bersyukur, karena sepengetahuannya tanpa penanganan yang tepat, gigitan king kobra bisa berakibat fatal dalam hitungan jam, bahkan mungkin menit.

Kisah-kisah semacam sebenarnya bertebaran di mana-mana, bahkan kalau saja ada yang iseng mau mengumpulkan, mungkin bisa menghasilkan jutaan atau milyaran jilid buku tebal.

Meski tidak sedikit yang menudingnya sebagai sekadar produk ‘kebodohan’ dan kurangnya pengetahuan; tapi, seperti kisah nyata di atas, keyakinan sering mempertunjukkan kedigdayaannya tanpa manusia sendiri pernah bisa menjelaskan bagaimana ia, yang pada dasarnya adalah sesuatu yang ruhaniah, bekerja dan mengintervensi interaksi hal-hal yang bersifat jasmaniah; unsur-unsur kimia, biologis dan lainya di dalam tubuh manusia misalnya.

Dalam kasus di atas: bagaimana keyakinan beroperasi mengintervensi unsur-unsur kimia-biologis dan lainnya yang ada dalam tubuh manusia, sehingga unsur-unsur ini secara bersamaan bekerja menawarkan bisa ular yang sudah masuk ke tubuh dan jelas-jelas mengancam jiwa? Saya tidak yakin bahwa ini sekadar sugesti, karena sugesti lebih beroperasi di wilayah psikis dan mental; sementara keyakinan jauh lebih dalam lagi pengaruhnya.

Sangat mungkin, justru karena ketidak-mampuan dan kegagalan pengetahuan manusia untuk memahami dan menjelaskan semua proses inilah yang menyebabkan manusia kemudian cenderung meminggirkan, kalau bukan malah menyingkirkan perannya dalam kehidupan. Sesuatu yang tampaknya bukan memperkaya, tapi justru memiskinkan pemahaman kita tentang manusia itu sendiri.

Peradaban tampaknya semakin menjasmani; dan dengan landasan tersebut semakin memburu segalanya dalam sudut pandang jasmani dan menyingkirkan posisi manusia sebagai mahluk ruhani.

Sedikit melompat ke hal yang lebih mendasar, pertanyaan yang layak lebih dahulu diajukan adalah: apakah manusia adalah sekedar salah satu bagian dari alam, atau mengatasi dan karena itu lebih besar dari alam?

Tentu kalau kita melacaknya dari sisi sains, apalagi sains modern, seperti narasi yang dikembangkan oleh evolusionis reduksionis Richard Dawkins atau sejarahwan Yuval Noah Harari misalnya; manusia hanya akan tampak sebagai hasil evolusi alam; dari yang jasmani menjadi semakin ‘merohani’; dengan catatan apa yang dikategorikan sebagai rohani di sini hanyalah sekadar hasil perkembangan lanjut dari interaksi manusia dengan alamnya.

Tanpa harus masuk ke wilayah perdebatan yang tak perlu; karena data-data yang diajukan sains, baik oleh Dawkins maupun Harari misalnya, pada dasarnya juga masih bisa dipandang dari beragam sisi yang berbeda; pandangan yang sama sekali lain justru diutarakan oleh agama-agama yang ada di dunia. Hampir semua agama berangkat dari dasar yang hampir sama: manusia adalah mahluk ruhani yang menjasmani.

Dalam Islam, Adam diciptakan dari tanah (yang jasmani, sebagai wadah) kemudian ditiupkan ruhNya atau ruh dariNya (yang ruhani, sebagai isi). Posisi ruhNya atau ruh dariNya ini menjadi sangat penting dalam kaitan fungsi kehadiran manusia di dunia sebagai khalifah (wakil, pihak yang berjalan di belakang, pengelola).

Posisi dasar sebagai pengelola sudah pasti mengandaikan keberadaannya yang mampu ‘mengatasi’, ‘membentuk’, ‘mempengaruhi’ dan seterusnya, dari yang dikelola. Analogi sederhananya, meski tidak terlalu tepat, adalah: pemimpin adalah pihak yang bisa menentukan yang dipimpin, bukan sebaliknya didikte oleh yang dipimpin. Bila ia masih didikte oleh yang dipimpin, maka ia belum memiliki kualitas pemimpin.

Dari sisi ini, akan lebih menarik bila kita cermati cerita yang diangkat oleh Al Qur’an: seluruh malaikat diminta oleh Allah untuk bersujud pada Adam. Pernyataannya: siapakah sebenarnya malaikat itu? Setidaknya dalam kaitan dengan masalah ini, secara sederhana kita bisa mengatakan bahwa malaikat adalah semacam ‘pegawai’, ‘abdi dalem’, ‘birokrasi’ atau semacamnya yang bekerja ‘menggerakkan’ semesta raya; yang dalam bahasa lain kita sebut sebagai kerajaan milik Allah.

Malaikat adalah aktor, pengendali dan penjaga di balik seluruh hirarki, birokrasi, prosedur dan hukum di semesta, juga di dalam diri manusia; yang kita kenal sebagai sunatullah.

Kalau pemahaman ini kita terima, maka konsekuensi dari kesujudan seluruh malaikat kepada Adam adalah bahwa seluruh semesta ini tunduk pada kehendak Adam, bukan sebaliknya. Karena tanpa ketundukan ini, mustahil Adam melaksanakan fungsi kekhalifahannya.

Kisah Iblis sebagai satu-satunya bagian dari malaikat yang yang menolak sujud, menjadi manarik juga dicermati karena penolakannya tak mengubah fungsi kekhalifahan yang secara potensial disandang  Adam. Iblis tidak beroperasi di semesta, di kerajaan milik Allah, tapi hanya beroperasi membelokkan potensi kekhalifahan yang dimiliki Adam, justru dari dalam diri Adam sendiri.

Tanpa berpanjang-panjang, ada baiknya juga untuk diingat mengapa sebutan bagi penghulu para Nabi adalah ulul azmi, yang secara harfiah berarti orang-orang yang punya tekad atau kehendak yang kuat. Kalau kita pakai ini sebagai ukuran, maka bisa dikatakan bahwa kunci keberadaan manusia adalah pada azamnya, kehendak kuatnya. Azam lahir dari keyakinan yang kuat, keyakinan yang kuat lahir dari perhitungan yang matang, perhitungan yang matang lahir dari pemahaman penuh terhadap kenyataan.

Tak mengherankan bila para Nabi ulul azmi, acap menolak intervensi malaikat dalam banyak peristiwa penting yang mereka alami; karena pada dasarnya mereka dirancang untuk mengelola semesta, bukan dikelola semesta; membentuk semesta, bukan dibentuk semesta.

Sekadar ilustrasi, sekitar dua puluhan tahun lampau, guru saya, seorang kyai sepuh di Kajen Pati, yakni al-maghfurllah KH. Abdullah Salam, sejak maghrib tiba-tiba badannya panas. Demikian panasnya, sehingga wajahnya memerah. Perkiraan saya waktu itu, suhunya sangat mungkin melebihi 40 derajat, karena terasa sangat panas saat dipegang.

Karena suhu badan yang tak kunjung turun, dan beliau hanya tergeletak lemas di tempat tidur; pihak keluarga langsung berinisiatif mengutus santri untuk memanggil dokter setempat. Belum juga dokter datang; sekitar jam sembilan beliau meminta saya untuk membantunya berwudhu; karena beliau belum sholat isya’.

Tubuhnya demikian panas dan lemas,  sehingga untuk menuntunnya berjalan ke kamar mandi, berwudlu lantas kembali lagi ke tempat tidur, butuh waktu hampir 1 jam. Padahal kamar mandi tersebut menjadi satu dengan kamar tidur beliau.

Setelah itu beliau sholat sambil duduk. Saya harus memegangi tubuhnya dari belakang, karena beliau tak mampu duduk tegak sendiri. Bila pegangan saya lepas beliau oleng dan pasti ambruk.

Rakaat pertama saya memeganginya erat-erat. Rakaat kedua, saya mulai merenggangkan pegangan. Rakaat ketiga saya sudah tak lagi memegangi, saya hanya berjaga-jaga saja, kuatir beliau masih oleng. Rakaat keempat, saya hanya duduk di belakang beliau tanpa menyentuh beliau lagi.

Yang ajaib, selesai sholat, suhu tubuhnya sudah normal, wajahnya sudah tak lagi ada kesan memerah seperti sebelumnya. Saat dokter datang, beliau sudah duduk di ruang tengah. Pengukuran suhu menunjukkan ke angka normal. Begitu juga saat di periksa tekanan darahnya. Alhasil seluruh pemeriksaan tak menemukan adanya masalah gangguan kesehatan.

Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia bukan sekedar ‘alam’ dan bahkan lebih besar darinya? Mungkin hubbud dunya wa karohiyatul maut, cinta dunia dan takut matilah yang selalu menjadi panghalang manusia dalam merealisasikannya.

Budayawan,tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda