Tafsir

Berlindung dari Godaan Setan (Bagian 1)

Written by Panji Masyarakat

A’udzu billahi minasy syaithanir rajim

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk

Setan tidak punya kekuasaan terhadap orang beriman yang mempercayakan diri kepadaAllah. Kekuasaannya hanya atas mereka yang menjadikannya penolong dan berbuat syirik.

Tidak banyak kitab tafsir yang membahas ta’awudz, yakni lafal permohonan perlindungan (isti’adzah) kepada Allah dari godaan setan, yang berupa bacaan a’udzu billahi minasy syaithanir rajim. Mungkin hanya seperlima atau seperempat dari jumlah keseluruhan (misalnya, dari 23 kitab hanya 5 buah yang menjadikan isti’adzah pokok perbincangan). Keadaannya kurang lebih sama dengan menimpa bacaan amin. Tentunya karena baik ta’awudz maupun amin bukan ayat Alquran—meskipun redaksi taawudz disusun dari anjuran ayat Alquran, seperti yang akan kita bicarakan di bawah, sementara bacaan amin  hanya didukung oleh hadis-hadis (yang kuat).

Di antara yang membahas isti’adzah adalah salah satu kitab yang banyak disepakati sebagai rujukan, yakni Tafsirul Quranil ‘Azhim dari Al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H.). Mengenai asal-muasal bacaan isti’adzah, Ibn Katsir mencantumkan tiga rangkaian ayat—“tanpa ada yang keempatnya dalam maknanya”, katanya—sebagai sumber.

Pertama, Q. 7:199-200: “Ambilah permaafan, lakukanlah ajakan berbuat baik, dan berpalinganlah dari orang-orang yang bodoh. Adapun kalau sebuah godaan setan menimpa kamu maka berlindunglah kepada Allah. Dia Maha Mendengar dan Mahatahu.”

Kedua, Q. 23:96-98: “Tolaklah kejahatan dengan sesuatu yang lebih baik. Kami lebih tahu apa yang mereka gambarkan, ‘Dan ucapkan, Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari segala bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, Tuhanku, dari kehadiran mereka di sisiku’.”

Ketiga, Q. 41:34-36: “Tolaklah dengan yang lebih baik maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan menjadi seakan-akan sahabat yang akrab. Tetapi tidak diberikan kemampuan itu melainkan kepada mereka yang sabar, dan tidak diberikan kemampuan itu melainkan kepada yang memiliki bagian yang besar. Adapun bila sebuah godaan setan menimpa kamu maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Dialah Yang Maha Mendengar dan Mahatahu.”

Menarik bahwa sebuah ayat lain, yakni Q. 16:98, yang justru mengandung kata-kata yang lebih persis bunyinya dengan ungkapan a’udzu billahi minasy syaithanir rajim, tidak diletakkan Ibn Katsir sebagai “sumber isti’adzah”, melainkan, dengan mempertimbangkan kaitannya dengan ayat-ayat selanjutnya (99 dan 100), dituliskanny sehubungan dengan berita tentang hal-ihwal setan. Ayat itu ialah : “Fa-idza qara’tal qur-ana fasta’idz billahi minasy syaithanir rajim (Maka bila engkau membaca Alquran mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk)”.

Tolaklah dengan yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan menajdi seakan-akan sahabat yang akrab

Adapun dua ayat berikutnya itu adalah: “Dia itu tidak mempunyai kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan yang kepada Tuhan mereka mempercayakan diri. Adapun kekuasaanya hanyalah atas mereka yang menjadikannya penolong dan terhadap Dia menyekutukan.”

Betapapun, dari ketiga atau empat kelompok ayat di atas, kesimpulan penting yang bisa diambil, seperti juga dituliskan Ibn Katsir, ialah bahwa Allah Ta’ala mengajarkan sikap yang berbeda kepada dua musuh yang berbeda. Pertama, memerintahankan perlakuan baik kepada musuh dari jenis manusia, agar dengan begitu bisa dikembalikan tabiat aslinya yang baik, sampai kepada sikap saling menolong dan kemurnian persahabatan. Sebaliknya, kedua, memerintahkan berlindung dari musuh yang dari jenis setan, tidak boleh tidak, mengingat bahwa setan tidak menerima perlakuan baik maupun tindakan kebajikan, dan tidak menginginkan kecuali kebinasaan anak Adam.

Tentu, itu disebabkan sengitnya permusuhan antara dia dan bapak kita, Adam, seperti difirmankan Allah Ta’ala: “Wahai Bani Adam, jangan sampai setan menimpakan fitnah (cobaan, musibah besar) kepada kamu sebagaimana ia mengeluarkan kepada orangtuamu dari surga” (Q. 7:27).

Atau firman-Nya, “Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, karena itu ambilah dia sebagai musuh. Sesungguhnya yang diserukannya kepada para pengikutnya tak lain agar mereka masuk ke dalam golongan penduduk neraka” (Q. 35:6).

Juga firman-Nya, “Apakah kalian mengambil dia dan keturunannya sebagai penolong, dan bukan Aku, sedangkan mereka musuh bagimu? Jelek sekali orang-orang aniaya itu dalam hal tukaran” (Q. 18:50).

Setan sendiri dahulu sudah bersumpah kepada Bapa Adam a.s. bahwa ia tulus:

“Maka ia pun bersumpah kepada mereka berdua, ‘Sesungguhnya aku ini untuk kalian termasuk pemberi nasihat” (Q. 7:21), tapi lalu ia berdusta, Maka bagaimana akan perlakuannya kepada kita, sementara ia sudah berkata, “Kalau begitu, demi kemuliaan-Mu, akan aku sesatkan mereka kesemuanya, Kecuali para hamba-Mu yang sudah dibersihkan di antara mereka” (Q. 38:82-83)? Karena itulah Allah berfirman, seperti yang sudah kita cantumkan, “Maka bila engkau membaca Alquran, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Penulis: Syu’bah Asa; Sumber: Panjimas, Juni 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda