Hamka

Hamka tentang Hamka (6)

Written by Panji Masyarakat

Dua tahun setelah kembalinya dari Jawa, Hamka  pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Kesempatan ibadah haji itu ia manfaatkan untuk memperluas pergaulan dan bekerja di percetakan di Mekah, sambil memperdalam ilmu lewat bacaan. Mengapa tak segera pulang kampung?

Kembali dari Haji

Pada permulaan Februari 1927 pemuda kita meninggalkan Pelabuhan Belawan, menuju Jeddah, menumpang kapal Karimata, kepunyaan Stoomavaart Matschappij Nederland. Sedang di atas kapal itulah, lepas dari Laut Cyelon menjelang Laut Socotra, genap usianya 19 tahun (17 Februari).

[Dua tahun setelah kembalinya dari Jawa, Hamka  pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Kesempatan ibadah haji itu ia manfaatkan untuk memperluas pergaulan dan bekerja di percetakan percetakan. Selama bekerja di perusahaan  milik keluarga Saleh Kurdi ini Hamka juga memanfaatkan waktunya untuk membaca buku-buku yang dicetak di situ. Saleh Kurdi adalah mertua Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, yang juga guru ayah Hamka, Haji Abdul Karim Amrullah. Kata Hamka, mengutip cerita dari Abdul Hamid Al-Khkatib, putra Syekh Ahmad Khatib, ‘‘Setelah 10 tahun dia di Mekkah, karena baik budi dan luas ilmunya dan disayangi orang, beliau disayangi oleh seorang hartawan Mekkah, bernama Syekh Saleh Kurdi, saudagar dan penjual kitab-kitab agama. Syekh Saleh berasal dari keturunan Kurdi dan mazhab orang Kurdi adalah Syafi’i  Oleh karena Syekh Saleh seorang hartawan dan baik hubungannya dengan pihak kerajaan syarif-syarif di Mekkah, maka Ahamd Khatib dikenal oleh istana dan ulama-ulama lain; dan memang sikap budi bahasanya dan keteguhan pribadinya menunjukkan pula bahwa dia seorang yang berdarah dan berbudi bangsawan.  Bintangnya cepat naik,”]

Hanya dua malam di Jeddah, dapatlah mereka (Hamka dan kawan-kawan perjalanannya selama berhaji) berlayar pulang menuju Tanah Air tercinta. Hari ke-15 dalam pelayaran, menyingsinglah fajar, terbitlah matahari. Orang-orang haji bersorak kegirangan. Di hadapan mata telah terbayang hijau ‘‘Setelah 10 tahun dia di Mekkah, karena baik budi dan luas ilmunya dan disayangi orang, beliau disayangi oleh seorang hartawan Mekkah, bernama Syekh Saleh Kurdi, saudagar dan penjual kitab-kitab agama. Syekh Saleh berasal dari keturunan Kurdi dan mazhab orang Kurdi adalah Syafi’i  Oleh karena Syekh Saleh seorang hartawan dan baik hubungannya dengan pihak kerajaan syarif-syarif di Mekkah, maka Ahamd Khatib dikenal oleh istana dan ulama-ulama lain; dan memang sikap budi bahasanya dan keteguhan pribadinya menunjukkan pula bahwa dia seorang yang berdarah dan berbudi bangsawan.  Bintangnya cepat naik,”indah, tanah subur, yang berbulan-bulan tiada kelihatan…. Sabang.

Hanya sehari-semalam kapal Buitenzorg berhenti di Sabang. Besoknya berangkat ke Belawan. Ia turun dari kapal sebagaimana berangkatnya juga. Tidak ada perubahan, tidak memakai jubah atau serban. Pertama, karena dia tidak mau. Kedua, ini yang penting, tak ada uang untuk membeli. Sesampai di Medan, belum cukup seminggu, mulailah dimasukinya dunia mengarang.

Ditemuinya redaktur harian Pelita Andalas kepunyaan kongsi Tionghoa. Ketua pengarangnya  ialah seorang Belanda tua, Tuan J. Koning, dan Pengarang M. Yunus Is. Dimasukkannya di haria itu rencana berturut-turut tentang perjalanannya, penglihatannya, dan pertimbangannya tentang keadaan di Mekah dan orang haji. Rupanya tulisannya dimuat selengkapnya. Tulisan yang dimuat itu amat membesarkan hatinya. Meskipun honorariumnya hanya “semangkok”kopi susu yang enak, yang dipesan dari kedai Tionghoa di samping percetakan itu.

“Tidak ada perubahan, tidak memakai jubah atau serban. Pertama, karena dia tidak mau. Kedua, ini yang penting, tak ada uang untuk membeli. Sesampai di Medan, belum cukup seminggu, mulailah dimasukinya dunia mengarang.”

Tulisannya itu menarik Tuan Haji Ismail Lubis yang mengeluarkan majalah Seroean Islam di Pangkalan Berandan. Dia pun diminta mengarang puladi majalah di surat kabar itu. Sesudah itu dicobanya pula mengirim karangan ke Soeara Moehammadijah di bawah pimpinan H.A  Aziz di Yogya, juga dimuat. Dikirimnya pula ke Bintang Islam yang dipimpin H. Fachruddin. Maka tiba surat piminan itu mempersilakan terus mengarang. Dan ketika itu juga beberapa pelajar Islam mengeluarkan majalah bernama Nibras di Yogya. Namanya dipacakkan menjadi “pembantu” di Medan. Tetapi dari (semua) tulisan itu (Hamka) belum bisa hidup.

Belum dia berniat pulang ke kampung. Meskipun sudah berturut-turut surat dan pesan menyuruhnya segera pulang. Baru sebulan dia di Medan, datanglah beberapa pedagang kecil dari Kebun Bajalingai (di antara Tebingtinggi dan Pematang Siantar) meminta dia menjadi guru, mengajar agama kepada mereka. sebab guru mereka telah pulang dan meninggal dunia sampai di kampung. Dia akan diberli belanja 10 rupiah sebulan. Itu sudah besar baginya. Apalagi untuk makan dan tempat tinggal ditanggung. Permintaan itu dikabulkannya. Dia telah menjadi guru di “kebun” empat bulan lamanya. Dan sekali sebulan, sesudah menerima gaji, dia pergi ke Medan, menghabiskan uangnya untuk membeli buku atau menonton bioskop. Bersambung

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda