Mutiara

Memadukan Islam dengan Adat Sunda

Written by A.Suryana Sudrajat

Ulama dan sastrawan Sunda  keturunan Prabu Kian Santang ini pernah berkolaborasi dengan Snouck Hurgronje untuk penelitian masyarakat Aceh. Karya-karyanya menunjukkan bahwa ia punya minat yang besar  dalam mengkontekstualisasikan ajaran Islam dengan adat istiadat Sunda.

Haji Hasan Mustapa adalah ulama Sunda keturunan bangsawan yang produktif menulis. Ia  pernah bertugas sebagai penghulu di Aceh pada zaman kolonial Belanda. Ia lahir pada  3 Juni 1852 di Garut, Jawa Barat. Ayahnya, Sastramanggala alias Usman, adalah camat Cikajang, keturunan Prabu Kian Santang, putra mahkota Kerajaan Pajajaran, yang legendaris itu.

Menurut K.F. Holle (1829-1896), penasehat Pemerintah Kolonial yang memiliki hubungan baik dengan Sastramanggala, Hasan Mustapa adalah seorang anak yang cerdas dan gagah. Banyak orang terkesan dengan kecerdasannya. Karenanya masuk akal bila ayahnya selalu dinasehatkan oleh seorang sarjana Belanda untuk mengirim anaknya ke sekolah Belanda. Namun ayahnya berkukuh untuk mengajak anaknya berangkat pergi haji ke Mekah ketika Mustapa berusia delapan tahun.

Setelah tinggal di Mekah selama dua tahun, ia kembali ke Garut dan melanjutkan pelajaran agama tingkat dasar di bawah bimbingan beberapa ulama setempat. Terutama dalam pelajaran fikih, tauhid, hadis, Alquran dan bahasa Arab. Setelah menguasai pelajaran dasar, ia  melanjutkan ke jenjang pelajaran tingkat lanjut di bawah bimbingan sejumlah ulama seperti Kiai Kholil Bangkalan, Madura, R. Haji Yahya Garut dan Abdul Qahhar. Di bawah bimbingan para ulama besar tersebut, Mustapa mempelajari tata bahasa Arab, sharaf, usul fikih, fikih, balaghah, tafsir, mantiq, tasawuf dan tauhid.

Setelah  menikah dengan Nyi Mas Liut pada 1869, Hasan Mustapa   kembali ke Mekah untuk menuntut ilmu. Di sana ia antara lain belajar kepada Syekh Nawawi Banten, Syekh Abdul Hamid Daghastani, seorang ulama ahli fikih yang sangat terkenal tidak hanya di kalangan orang Arab tetapi juga di kalangan bangsa Turki, Yaman dan Nusantara, Syekh Abdullah Zawawi, pengajar utama di Masjidil Haram.   

Setelah tinggal selama 12 tahun di Mekah, Hasan Mustapa kembali ke Garut  pada tahun 1882. Ia mengajar di Masjid Agung Garut. Pada tahun 1887, ia turut dalam proyek penelitian pesantren yang dilakukan Snouck Hurgronje. Kurang lebih tujuh tahun ia menjadi asisten Snouck Hurgronje. Ia juga meyakini bahwa Snouck Hurgronje,  yang ketika masuk Mekah menggunakan nama Abdul Gaffar itu, adalah seorang muslim. Maka atas bantuan Hasan pula Snouck menikah dengan seorang gadis Sunda, dan punya anak. Hanya saja, menurut penelitian seorang sarjana Belanda, Van Koningsveld, Snouck hanya Islam dalam penampakannya saja, karena sesungguhnya dia seorang agnostik, tidak beragama tapi percaya Tuhan.

Setelah selesai melakukan penelitian, ia kembali ke Garut dan mengajar di Masjid Agung. Pada tahun 1892,  atas rekomendasi Snouck Hurgronje, ia diangkat menjadi Penghulu Kepala (Hoofd-Penghoeloe) di Kutaraja (Aceh). Status barunya ini membuatnya terlibat dalam pemerintahan kolonial Belanda. Untuk mengemban tugas barunya ini, ia tiba di Aceh pada  22 Februari 1893 dan tinggal di sana sampai tahun 1895. Setelah bertugas di Aceh, Hasan Mustapa menjadi penghulu di Bandung yang dijalaninya selama 25 tahun.  

Hasan Mustapa adalah ulama  yang produktif. Ia telah menulis lebih dari 24 karya dalam berbagai bidang: pengajaran Islam, bahasa dan kebudayaan Sunda, hukum adat dan kemasyarakatan.

Perhatiannya terhadap kebudayaan Sunda tercermin antara lain dalam metode penyampaian ajaran Islam. Ajaran Islam yang diajarkan Hasan Mustapa mempergunakan lambang-lambang yang terdapat dalam pantun dan wayang tradisional Sunda. Ia memetik 104 ayat Alquran untuk orang Sunda. Karya-karya Hasan Mustapa yang mencerminkan minat yang besar  dalam mengkontekstualisasikan ajaran Islam dengan adat istiadat Sunda antara lain Bab Adat-Adat Urang Sunda Jeung Priangan Lianna ti Eta (1913), Leutik Jadi Patelaan Adatna Jalma-Jalma di Pasundan (1916), Pakumpulan Atawa Susuratanana antara Juragan Haji Hasan Mustapa Sareng Kyai Kurdi (1925), Buku Pangapungan (Hadis Mikraj, 1928), dan Syaikh Nurjaman (1958), Buku Pusaka Kanaga Wara, Pamalaten, Wawarisan, dan Kasauran Panungtungan. Beberapa karya yang berbentuk stensilan antara lain Petikan Qur’an Katut Abad Padikana (1937) dan Galaran Sasaka di Ka Islaman (1937).

Hasan Mustapa  wafat di Bandung pada 13 Januari 1930.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda