Tasawuf

Kualitas Manusia dan Kekuatan Doanya

Di dalam Islam diajarkan cara-cara berdoa. Salah satu yang diajarkan adalah salat. Karena salat berarti doa, orang yang diwajibkan salat merasa dirinya butuh kepada Allah. Kalau ada orang yang tidak berdoa, tidak salat, mustahil kualitas hidupnya baik.

Kualitas hidup, dari segi materi, mungkin ditunjukkan oleh keadaan paling kaya. Dari sisi ilmu pengetahuan, paling pandai. Dari sisifisik, paling kuat. Itu kualits manusia. Tapi menurut agama, yang paling berkualitas hidupnya di dunia ialah manusia yang paling bertakwa. Firman Allah dalam Alquran , “Inna akramakum ‘indallahi atqaqum”. (Q. 49:13). Biasanya diartikan, “Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

Kemudian dikaitkan dengan doa, kita semua tahu bahwa manusia pada saat-saat tertentu minta bantuan. Kita kebetulan misalnya dalam keadaan tidak punya, kita minta bantuan kepada yang punya. Kita tidak tahu, minta bantuan kepada yang tahu. Tidak sanggup mengangkat suatu barang, misalnya, minta bantuan kepada yang kuat. Jadi, semua orang pada saat-saat tertentu minta bantuan, dan biasanya bantuan itu kepada sesama manusia. Ada juga yang minta bantuan kepada hewan, misalnya petani. Tetapi kalau kita bicara tentang doa, kita minta bantuan kepada Allah.

Yang minta bantuan kepada sesama itu menyadari dirinya kurang. Begitulah juga manusia diminta berdoa – supaya menyadari dirinya kurang. Dan manusia yang bertakwa  karena kualitasnya ialah mereka yang selalu merasa dirinya kurang. Bukan tidak puas. Ada orang yang merasa kurang karena tidak puas. Tapi ini karena merasa lemah, tidak terlalu kuat, merasa diri tidak terlalu kaya. Jadi yang pertama kali disyaratkan bagi orang yang berdoa harus merasa diri tidak mampu.

“Syarat doa yang makbul ialah merasa diri lemah, kurang, tak mampu, dan sangat membutuhkan Allah.”

Misalnya, minta doa sembuh dai penyakit, “Allahumasy-fini”. Ya Allah, sehatkan saya. Karena dia sakit. “Allahumma zidni ilman”, ya Allah tambahkan ilmu pengetahuan kepada saya. Karena dia merasa tidak punya pengetahuan yang cukup. Begitulah, doa itu syaratnya merasa diri masih kurang. Karena itu Allah mengatakan, “Astajib lakum” (Aku akan mengabulkan untukmu). Jangan ada perasaan sudah cukup, berdoa hanya sekadar merasa karena perintah Allah. Jadi syaratnya harus menyadari diri kita lemah, tidak punya kekuatan, tidak punya ilmu pengetahuan, tidak punya harta benda.

Kalau ini sudah tertanam dalam hati kita, pastilah doa itu ikhlas. Kalau tidak, tidak mungkin. Seorang yang kuat, misalnya, mengangkat batu, merasa dirinya kuat, kemudian minta tolong kepada orang. “Tolong angkatkan ini karena saya lemah,” dan dia tahu dalam dirinya bahwa “saya sebetulnya bisa,” berarti tidak ikhlas. Itu tidak sama dengan doa, dan bukan doa. Itu bisa kalau kita minta tolong – sebab orang berilmu juga kadang-kadang masih minta tolong. Tapi doa, harus ada perasaan di dalam diri kita bahwa kita butuh kepada Allah.

Itu sebabnya di dalam Islam diajarkan cara-cara berdoa. Salah satu yang diajarkan adalah salat. Karena salat berarti doa, orang yang diwajibkan salat merasa dirinya butuh kepada Allah. Kalau ada orang yang tidak berdoa, tidak salat, mustahil kualitas hidupnya baik. Salat itu ditetapkan adanya fardhu kifayah dan fardhu ‘ain. Fardhu ‘ain itu salat lima waktu sehari semalam – artinya orang per orang. Kualitas manusia ditandai dengan ini. Artinya salat dia pelihara: dia merasa sangat kurang di hadapan Allah. Kalau manusia sudah sampai ke taraf itu, dia akan selamat dunia akhirat. Bersambung

Penulis: Prof Dr. Umar Shihab,  Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Periode 1998-2015; Sumber: Panjimas, 8-19 Februari 2003.       

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda