Mutiara

Jebolan Sekolah Belanda yang Jadi Ulama dan Dirikan Pesantren

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Seluruh hidup Kiai Ahmad Jazuli diabdikan untik kegiatan belajar-mengajar. Dia pun menyatakan tarekatnya ta’lim wa ta’allum.

Dia memang tidak semasyhur Gus Miek, putranya. Nama Kiai Ahmad Jazuli Usman memang tidak setenar putranya, Gus Miek, yang punya nama asli KH Chamim Jazuli. Itu kiai yang nyeleneh lantaran aktivitas dakwahnya di klub-klub malam, yang juga dipercayai sebagian orang sebagai waliyullah. Selain Gus Miek, Kiai Jazuli punya beberapa putra dari hasil perkawinannya dengan Nyai Rodliyah, yang seluruhnya jadi kiai. Yakni K.H. Achmad Zainuddin, K.H. Nurul Huda, K.H. Fuad Mun’im, dan K.H. Munif.

Kiai Jazuli Usman adalah ulama asal Ploso, Kediri, yang dikenal punya komitmen tinggi dalam mengajarkan ilmu agama kepada santri dan masyarakat. Ia pernah menyatakan bahwa tarekatnya adalah belajar dan mengajar (ta’lim wa ta’allum). Ia lahir pada16 Mei 1900. Nama kecilnya adalah Mas Mas’ud. Ia anak Mas Mohammad Sahal, seorang penghulu di Mojoroto, Kediri. Sebagai anak seorang ambtenaar, Jazuli punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan Belanda. Mula-mula ia masuk sekolah desa yang disebut Sekolah Jawa karena memakai bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar. Ini sekolah satu‑satunya di distrik Ploso yang diperuntukkan bagi lima desa, yaitu Ploso, Tambi Bendo, Kraton, Kedawung dan Maesan. Setelah tiga tahun, ia melanjutkan ke Inlandsche Vervolgschool, sekolah lanjutan dengan masa pendidikan selama dua tahun. Setelah itu, ia belajar ke Hollandsch‑Inlandsche School (HIS) di Cringging , Grogol, Kediri. Diceritakan, ia juga sempat belajar di Sekolah Kedokteran di Batavia (STOVIA).

Tak mengherankan, selain menguasai pengetahuan umum, aljabar dan ilmu ukur, Jazuli juga piawai berbahasa Belanda. Namun, latar belakang pendidikan Barat-nya tidak mengantarkannya sebagai pegawai pemerintah kolonial atau menjadi intelektual sekuler. Sebab, di kemudian hari Jazuli Usman lebih dikenal sebagai ulama. Apa pasal? Ternyata, ketika belajar di sekolah umum itu Jazuli juga belajar di pesantren, di antaranya di di Pesantren Mojosaro, Nganjuk di bawah asuhan K.H. Zainuddin. Dan sewaktu menunaikan haji, ia terus bermukim untuk memperdalam pengetahuan agamanya di Mekah. Dua tahun kemudian ia kembali ke Indonesia menyusul kudeta yang dilancarkan kelompok Wahabi tahun 1922 yang diprakasai Pangeran Abdul Aziz As-Su’ud. Setelah satu tahun berada di kampungnya, pada 1923 ia meneruskan nyantri ke Tebuireng,Jombang, untuk memperdalam ilmu hadis di bawah bimbingan Hadirotusy Syaikh K.H. Hasyim Asya’ri.

Ia juga belajar di Pesantren Gondanglegi, Nganjuk, yang diasuh KH Ahmad Sholeh. Di pesantren ini ia mendalami ilmu yang berkaitan dengan Alquran, khususnya tajwid. Ia juga memperdalam tata bahasa Arab (nahwu) dan sharaf selama enam bulan, dan setahun di Pondok Sono (Sidoarjo). Selanjutnya, Mas’ud belajar di Pesantren Sekarputih, yang diasuh K.H. Abdul Rohman, dan Pesantren Mojosari yang diasuh oleh K.H. Zainuddin. Keduanya di Nganjuk. Pesantren terakhir itu dikenal banyak melahirkan ulama besar seperti K.H. Wahab Hasbullah, salah seorang pendiri NU.

Pada 1 Januari 1925, Jazuli mendirikan Pondok Pesantren Al-Falah di Ploso, Mojo, Kediri. Kegiatan pengajarannya dimulai dengan memanfaatkan serambi masjid untuk kegiatan belajar mengajar para santri. Awalnya ada 100 orang santri yang belajar. Pada masa awal pendirian, banyak tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pesantren. Tantangan pertama adalah masyarakat sekitar tidak terlalu mendukung kehadiran pondok pesantren. Masa itu, mayoritas masyarakat merupakan kelompok abangan. Bahkan, tidak sedikit masyarakat mencemooh keberadaan Pondok Pesantren Al-Falah. Pada masa pendudukan Jepang dan agresi Belanda, kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Al-Falah berlangsung tidak normal. Baru setelah pengakuan kedaulatan (1949) kegiatan pesantren berjalan kembali. Dan santri yang belajar pun kian bertambah. K.H Jazuli memberikan pengajian Tafsir Jalalain dan kitab Al-Hikam (Tasawuf).

Di sela mengajarnya, Kiai Jazuli Usman juga aktif dalam kegiatan sosial keislaman setempat. Ia kerap diutus mewakili Pesantren Tebuireng dalam kegiatan bahtsul masa’il pada acara muktamar NU. Misalnya, di Menes (Banten), Semarang, Surabaya dan sebagainya. Kecintaannya pada kegiatan belajar mengajar sering diungkapkan saat berkomunikasi dengan santri dan masyarakat. Baginya, tarekat hidupnya hanya belajar dan mengajar “ta’lim wa ta’allum, ” KH Jazuli Usman wafat pada 10 Januari 1976. Ia dimakamkan di samping Mesjid Kenaiban, Ploso, Kediri, Jawa Timur

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda