Aktualita

Teladan Bung Karno dan Buya Hamka untuk Bangsa (Bagian 2)

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Buya Hamka memenuhi permintaan Bung Karno yang menginginkan dia untuk menjadi  imam salat jenazahnya, meskipun banyak pihak yang menentangnya. Bukan hanya tidak dendam, Hamka merasa bersyukur Soekarno telah memenjarakannya. Mengapa?

Semasa berkuasa, khususnya setelah memperkenalkan Demokrasi Terpimpin, Soekarno tidak segan-segan mengirimkan lawan-lawan politiknya ke penjara. Tanpa proses pengadilan pula. Salah seorang yang menjadi korban keganasan politik Bung Karno adalah Hamka, yang dituduh akan membunuh Presiden dan Menteri Agama Saifuddin Zuhri. Ia pun dikenakan UU Anti Subversi. Hamka tidak diberi kesempatan untuk membela diri atas tuduhan keji itu.

Meski Soekarno memenjarakannya tanpa proses pengadilan, dan hatinya terluka, Hamka mengaku tidak menaruh dendam terhadap sang Proklamator. Apalagi Soekarno pun mengalami nasib yang tidak kalah buruknya. Ia disingkirkan dan dan diasingkan di Wisma Yaso oleh Jenderal Soeharto, yang menggantikannya sebagai presiden Republik Indonesia. Selama menjadi tahanan rumah, Soekarno yang mulai sakit-sakitan tidak memperoleh perawatan kesehatan yang layak. Sampai akhirnya meninggal dunia  pada 21 Juni 1970 di RSPAD Gatot Subroto.

Kabar kematian  Bung Karno disampaikan Sekjen Departemen Agama Kafrawi kepada Hamka, yang sekaligus memintanya untuk menjadi imam salat jenazah sahabatnya itu.

“Jadi beliau sudah wafat?” kata Hamka kepada Kafrawi, yang ditemani Mayjen Soeryo, ajudan Presiden Soeharto.

“Iya Buya. Bapak telah wafat di RSPAD. Sekarang jenazahnya sudah dibawa ke Wisma Yaso,” kata Kafrawi.

Sebelum wafat, Bung Karno memang pernah berwasiat kepada keluarganya, “Bila aku mati  kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam salat jenazahku.” Dan Kafrawi yang disertai Mayjen Soeryo sengaja menemui Hamka untuk menyampaikan pesan tersebut. Seperti diceritakan kembali oleh Faozan Amar dalam diskusi serial studiologi Buya Hamka, tempo hari itu, Hamka bukan main terkejut mendengar berita duka itu. Tanpa berpikir panjang , Buya takziah ke Wisma Yaso, tempat jenazah Bung Karno disemayamkan.  “Meskipun banyak yang tidak setuju, banyak suara-suara dari rekan sejawat yang mempertanyakan sikap Hamka. Ada yang mengatakan Soekarno itu komunis, sehingga tak perlu disalatkan, namun Hamka tidak peduli. Bagi Hamka, apa yang dilakukannya atas dasar hubungan persahabatan. Apalagi, di mata Hamka, Soekarno adalah seorang Muslim. Buya Hamka dengan ikhlas memenuhi wasiat Soekarno untuk menjadi imam salat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu. Ruarrr biasaahhh!” kata Faozan Amar, yang punya lima akun medsos itu

Memang sulit mengubah seseorang musuh menjadi kawan, kemudian menjadi sahabat, memadamkan kemarahan hati dan muka marah menjadi senyum, memberi maaf kesalahan sehingga udara yang tadinya mendung menjadi terang benderang. Memang susah melakukan itu. Tetapi menempuh kesusahan itulah yang harus kita coba, untuk kemuliaan  jiwa kita sendiri

Dalam kata pengantar untuk Tafsir Al-Azhar, yang dikutip kembali oleh Faozan, Buya Hamka menulis: “Saya tidak pernah dendam dengan orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Alquran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan tidak mungkin ada waktu bagi saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Hamka sendiri pun mengakui bahwa bukan perkara yang mudah untuk menyingkirkan dendam dan sakit hati. Dalam buku Lembaga Hidup, yang kembali dikutip Faozan Amar, ulama-wartawan-dan pengarang roman ini menulis:  “Memang sulit mengubah seseorang musuh menjadi kawan, kemudian menjadi sahabat, memadamkan kemarahan hati dan muka marah menjadi senyum, memberi maaf kesalahan sehingga udara yang tadinya mendung menjadi terang benderang. Memang susah melakukan itu. Itu hanyalah pekerjaan orang-orang yang hatinya memang hati waja, budinya budi emas; yaitu orang yang mempunyai kemauan besar dan cita-cita yang mulia. Memang susah! Tetapi menempuh kesusahan itulah yang harus kita coba, untuk kemuliaan  jiwa kita sendiri.”

Lalu apa yang bisa teladani dari kisah persahabatan Bung Karno dengan Buya Hamka? Kita kutipkan akhir makalah Dr Faozan Amar: “Jadi, bangsa ini dibangun oleh Bapak-bapak bangsa yang tidak pendendam. Mereka saling memaafkan satu sama lain. Sekalipun terjadi perdebatan yang keras dan tajam di antara keduanya (Bung Karno dan Hamka), biasa toh namanya juga manusia, namunmereka adalah kawan berpikir dan sahabat dalam pergaulan. Mereka berkompetis dalam pemilihan umum dengan kontestasi yang kadang tajam dan keras melalui partai politik yang berbeda, tetapi mereka adalah teman dalam berdemorasi.” Ia menambahkan, ”mari kita hilangkan dendam dengan saling memaafkan. Sebab dengan cara itulah kita akan menjadi bangsa yang besar dan kuat,” seraya menunjuk pasca pilpres tempo hari,  yang rupanya masih menyimpan sisa-sisa dendam di masing-masing kubu. Bersambung    

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda