Hamka

Hamka tentang Hamka (6)

Written by Panji Masyarakat

Masuk Sarekat Islam

Bapak kecil pemuda itu, Ja’far Amrullah, yang rupanya sedang asyik belajar, tidak merasa cukup belajar ke satu tempat. Selain kepada Ki Bagus, dia juga belajar kepada Mirza Wali Ahmad Baig, utusan pergerakan Ahmadiyah yang baru pulang ke Yogya dari Lahore. Sesudah itu dibawanya anaknya (Hamka) belajar kepada Sarekat Islam di Pakualaman.

Untuk mengambil kursus di Sarekat Islam, haruslah masuk anggota lebih dulu. Dan buat jadi anggota, hendaklah usia 18 tahun. Sedang si Bapak Kecil pun ingin juga hendak membawa anaknya masuk kursus, karena pemuda kita tak hendak ditinggalkan

Dia ikut terus. Maka terpaksalah usianya yang baru 16 tahun dikicuhkan, dikatakan 18 tahun. Bersama bapak kecilnya dan Marah Intan, si pemuda disuruh hadir ke kantor Sarekat Islam. Sesudah itu nama masing-masing dicatat dan membayar uang entree satu gulden seorang. Uang entree-nya dibayarkan pamannya. Serupiah mahal waktu itu. Sekretarisnya seorang yang gemuk, peramah, pakai kacamata, dan tentu saja memakai blangkon dan berkain, mengambil segelas yang jernih, menyuruh masing-masing mengucapkan sumpah, bahwa mereka masuk Sarekat Islam tidak karena untuk mencari keuntungan diri sendiri, setia kepada Sarekat Islam dan kepada teman dan pemimpin. Ada lagi sumpah yang lain, dan si pemuda telah lupa. Demi kalau sumpah itu dilanggar akan dikutuk Tuhan dan akan hancurlah dirinya karena air yang diminum itu.

Lalu air itu diminum berganti-ganti. Setelah meminum air selesai, barulah ditunjukkan beberapa tanda-tanda. Kalau bertemu orang minum air, begini pegang gelasnya, hendaklah balas begini! Tandanya dia kawan seperti kita. Begitu pula tengah makan, tengah berjalan, dalam kereta api dan lain-lain. Sekarang pun sudah lupa olehnya. Apakah isyarat-isystat itu masih diteruskan sampai sekarang di PSII, pemuda kita tidak tahu.

Setelah upacara-upacara itu selesai, malamnya sudah boleh masuk belajar. Beruntunglah dia karena dia mendapat pelajaran berganti-ganti dari tiga orang guru, yang ketiganya telah termasuk orang-orang besar dalam sejarah Tanah Air, yaitu H.O.S Tjokroaminoto sendiri, yang mengajarkan “Islam dan Sosialisme”

HOS Tjokroaminoto

Kursus yang beliau berikan kepada kami, itulah kemudiannya beliau jadikan buku, kata pemuda itu (Hamka).

Guru kedua ialah R.M. Suryopranoto yang telah terkenal ketika itu dengan gelar “Raja Mogok”. Dari beliau dia belajar sosiologi.

Guru ketiga, tentang “agama Islam”, ialah H. Fachrodin, pemimpin Muhammadiyah yang terkenal. Ketika itu menjadi juru uang (bendahara) dari Centraal Sarekat Islam. Bersambung

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda