Mutiara

Memasukkan Zikir dalam Jurus-Jurus Silat

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Zikir telah menjadi kekuatan sekaligus tumpuan hidup ulama tarekat yang pernah lolos dari siksaan tentara Jepang ini. Dalam memberi nasihat ia banyak menggunakan kata perumpamaan. Misalnya, mengapa seorang mukmin harus rajin memotong kuku?

Kiai Mustaqim  adalah mursyid tarekat Syadziliyah, dan pendiri Pondok Pesantren Pesulukan Tarekat Agung atau terkenal dengan nama PETA, Tulungagung, Jawa Timur.

Ia lahir di Desa Nawangan, Kecamatan Keras,  Kediri, Jawa Timur, pada 1901. Ayahnya Husain bin Abdul Jalil, keturunan ke-18 dari Mbah Panjalu (Ali bin Muhammad bin Umar), Ciamis, Jawa Barat. Ketika berusia 12 tahun, Mustaqim belajar Alquran dan dasar-dasar agama kepada Kiai Zarkasyi di dusun Tulungagung. Saat itu ia telah dikaruniai kemampuan berzikir “Allah, Allah, Allah” tanpa berhenti. Dari kekuatan zikir inilah ia beroleh anugerah berupa ilmu sirri atau ilmu mukasyafah.

Untuk menghidupi keluarganya, Kiai Mustaqim pernah menjadi tukang potong rambut, penjahit sepatu dan sandal, dan membuka toko yang bernama Toko Bintang Sembilan. Meskipun kehidupan ekonomi keluarganya selalu memprihatinkan, ia tidak pernah meninggalkan kewajiban untuk berbuat amar makruf, yaitu dengan mengajarkan zikir yang dimasukkan ke dalam jurus-jurus pencak silat.

Pada zaman pendudukan Jepang, sejumlah kiai kena tuduhan akan melakukan pemberontakan, sehingga mereka ditangkap dan bahkan disiksa. Termasuk Kiai Mustaqim. Dalam bui, Kiai Mustaqim bertemu Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.  Kiai Mustaqim juga menerima siksaan bertubi-tubi. Konon, tubuh Kiai Mustaqim dijepit balok es. Ia juga pernah dilempar dari ketinggian 10 meter. Namun juga tidak apa apa. Mungkin saking kesalnya, Jepang menyumbat seluruh lubang tubuh Kiai Mustaqim. Hanya satu lubang yang disisakan terbuka, yakni hidung. Melalui hidung selang dimasukkan dan udara dipompa. Ajaibnya, alih alih masuk hidung, ujung selang justru menyelinap ke dalam sabuk othok, yakni ikat pinggang model lama yang biasa dipakai lelaki Jawa. Kiai Mustaqim pun selamat. Sebagian orang menyakini ijabah doa Kiai Mustaqim yang mengaburkan penglihatan tentara Jepang. Hingga Zaman kemerdekaan sang kiai tetap mengamalkan ilmunya bagi umat.

Rumusan amalan-amalan yang ia ajarkan menekankan bahwa sebelum dan sesudah wirid harus meminta pada Allah agar mendapat empat hal. Yakni, selamat di dunia dan di akhirat; hati yang bersih dari sifat madzmumah (sifat tercela); kekalnya iman sampai sakaratul maut dan bisa membaca kalimat thayyibah, serta bisa husnul khatimah; dan semua hal yang  membawa berkah dan  maslahah, manfaat, di dunia maupun  akhirat.

Dalam memberi nasihat, Kiai Mustaqim banyak menggunakan kalam kinayah (kata sindiran) daripada kalam sharihah (kata terang-terangan).


Berbeda dari pesantren lain yang sebagian besar mengajarkan kitab kuning, di PETA para santri juga dididik suluk atau mengarungi jalan spiritual menuju Tuhan. Setiap santri yang hendak berbaiat menjadi pengikut tarekat Syadziliyah wajib menanggalkan ilmu kesaktian yang dimiliki.Tidak terkecuali ilmu kejawen. Sebagai prasyarat diwajibkan mandi kungkum atau berendam di laut selatan.

Sebelum menganut tarekat Syadziliyah, Kiai Mustaqim mengikuti  tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yakni tarekat yang dikembangkan oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas (1872). Perkenalan Kiai Mustaqim dengan tarekat Syadziliyah bermula dari pertandingan pencak silat di Ponpes Tremas Pacitan. Dalam pertandingan itu santri asal Cirebon yang menjadi jawara silat dikalahkan santri asal Tulungagung. Pengasuh Pesantren Tremas KH Abdur Razzaq pun penasaran. Dalam pertandingan itu santri asal Cirebon yang menjadi jawara silat dikalahkan santri asal Tulungagung. Kiai Abdur Razzaq pun penasaran. Saudara Syaikh Mahfuzh At-Termasi, ulama besar asal Tremas yang menjadi pengajar di Masjidil Haram Mekah, itu pun berusaha mencari tahu siapa guru santri yang menumbangkan santrinya. Begitu mengetahui guru si santri bernama Kiai Mustaqim asal Tulungagung, Kiai Razzaq langsung bertolak ke Tulungagung. Tanpa canggung, di depan Kiai Mustaqim, Kiai Razzaq meminta diajari amalan dan ijazah.


Kiai Mustaqim mengatakan dirinya tidak berhak memberikan ijazah. Dibanding dirinya, Kiai Mustaqim juga mengatakan Kiai Razzaq-lah yang justru lebih berhak memberi ijazah. Mereka sama sama menolak dianggap mampu, dan menyatakan tidak layak memberi ijazah. Keduanya bersepakat saling berbaiat. Bersepakat saling bertukar ijazah. Kiai Mustaqim menerima ijazah Hizib Baladiyah atau Hizib Burhatiyah dan Tarekat Syadziliyah. Sebaliknya Kiai Mustaqim mengijazahi Kiai Abdur Razzaq hizib kafi dan tarekat Qadiriyah Wan Naqshabandiyah

Dalam memberi nasihat, Kiai Mustaqim banyak menggunakan kalam kinayah (kata sindiran) daripada kalam sharihah (kata terang-terangan). Perkataan-perkataan tersebut antara lain, pertama, menjadi orang mukmin itu harus sering memotong kuku. Artinya: jadi orang mukmin itu harus menghilangkan sifat ‘ujub (merasa dirinya paling baik) dan supaya bisa ikhlas. Kedua, menjadi murid tarekat itu seperti orang yang antri karcis di loket. Terkadang didesak oleh temannya, diserobot gilirannya, dan ketetesan keringat temannya. Akan tetapi semua itu jangan dihiraukan, tetaplah menghadap ke loket. Artinya: menjadi murid tarekat itu terkadang mendapatkan gangguan dari orang lain, keluarga, bahkan dari sesama murid. Jangan hiraukan dan tetap menghadap ke depan. Hanya berharap barakah kepada guru mursyid supaya bisa cepat mendapat tiket pesawat Thariqah Syadzaliyyah. Ketiga, mencari ilmu di depan guru mursyid harus seperti orang yang mencari rumput, tapi jangan seperti orang yang mencari rumput.  Artinya: orang yang mencari rumput jika melihat ke bawah, akan mendapat rumput yang banyak, wadahnya cepat penuh. Tetapi jika melihat ke tempat lain, sepertinya rumput yang kita lihat di tempat yang lebih jauh terlihat lebih subur daripada rumput yang ada di dekat kita. Kenyataannya, rumputnya sama saja, bahkan lebih sedikit. Karena kebanyakan pindah-pindah maka waktunya habis dan wadah rumputnya tetap kosong.

KH Mustaqim bin Husin wafat pada tahun 1970, dan kepemimpinanya di Pesantren PETA diteruskan oleh putranya KH Abdul Jalil Mustaqim, yang juga dikenal sebagai salah seorang ulama kharismatis di Indonesia.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat
  • hamka
  • Hamka