Hamka

Hamka tentang Hamka (4)

Written by Panji Masyarakat

Hamka pernah terpapar ajaran komunis di tahun 1920-an. Waktu itu komunis berarti benci kepada pemerintah dengan alasan Quran dan hadis. Melawan penindasan kaum kafir karena penjajahan kaum kapitalis, imperialisme, yang berlawanan dengan ajaran Islam.

Islam Revolusioner

Sejak kembali dari Bengkulen (Bengkulu), dan setelah badannya sehat betul, dia (Hamka, red) tinggal pula di Padang Panjang beberapa bulan lamanya, sebelum berangkat ke Jawa. Ketika itu Padang Panjang sudah udara baru. Haji Datuk Batuah dan kawannya, Natar Zaimuddin, telah kembali dari perlawatannya dari Tanah Jawa. Mereka membawa faham baru: komunis. Faham baru itu disebarkan terutama di kalangan murid-murid Suamtera Thawalib. Dan karena pergaulan dengan kawan-kawannya, maka pemuda kita (Hamka, red) mulailah mendengar faham itu.

Apakah yang komunis masa itu?

Benci kepada pemerintah Belanda dengan alasan Quran dan Hadis! Melawan penindasan kaum kafir karena penjajahan kaum kapitalis, imperialism, yang berlawanan dengan ajaran Islam.

Ayat-ayat yang banyak termaktub dalam surat Anfal dan surat Taubat, yaitu ayat-ayat yang turun di zaman perjuangan, inilah yang banyak dipakai. Sebagaimana orang maklum, di tahun 1922 telah terjadi perpecahan di kalangan Sarekat Islam, hingga menjadi SI Merah dan SI Putih. Yang merah menjadi komunis dan yang putih tetap dalam dasar Islam. Di antara pemimpin-pemimpin yang menurut SI Merah ialah Haji Misbach di Solo. Majalahnya Medan Moeslimin banyak tersiar di Padang Panjang. H. Dt Batuah rupanya adalah komunis H. Misbach, yang menumpang kapal Karl Marx tentang teori ekonominya, tetapi “tidak sampai inti”, meninggalkan kepercayaannya kepada Tuhan. Pendirian begini dipegang teguh Dt. Batuah sampai wafatnya.

Stasiun Padangpanjang tahun 1900-an

Maka mulailah pelajaran di Thawalib mendapat “jiwa baru”,jiwa Islam yang revolusioner. Haji Dt. Batuah sendiri mengeluarkan (menerbitkan) satu majalah bernama Pemandangan Islam.

Titik berat penyerangan sebagai kebiasaan kaum komunis, ditujukan menyerang pemimpin-pemimpin Islam yang berpengaruh. H.O.S. Tjokroaminoto adalah tumpuan serangan, penghinaan dan cacian yang berat-berat. Dia dituduh menghabiskan uang rakyat, menggelapkan.

Kalau ada terdengar orang mengkorupsi uang pemerintah, dinamai “mencokro”, dan dia dituduh perkakas kaum imperialis.

Perkumpulan Muhammadiyah dituduh “Sarekat Hijau” yang didirikan oleh Belanda, untuk menghisap rakyat. Dan yang Islam sejati adalah komunis. Inilah propaganda yang didengar oleh pemuda kita tiap hari. Propaganda itu lekas meluas.

Pernah ayahnya berkata, “Malik, apakah engkau masuk komunis pula?”

“Tidak, Abuya!” jawab pemuda itu.

“Hati-hati! Pengalamannya belum ada. Lahirnya komunis di sini membawa-bawa agama, pada batinnya hendak menghapus agama.”

Dia belum mengerti maksud ayahnya. Dia masih tetap bergaul dengan kawan-kawannya, dan turun melagukan “Internasional”, “1 Mei”, “Kerja Enam Jam Sehari” dan lain-lain dengan bersemangat.Rupnya keterangan ayahnya bahwa komunisme itu bertentangan dengan Islam, bukan saja beliau nyatakan kepada anaknya, malahan diterangkannya pula kepada mrid-murid lain, yang sebagian besar telah tertarik. Sebab itu jikalau mula-mula beliau dibenci dengan diam-diam, akhirnya sudah dengan cara terang-terangan. Bersambung

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda