Tasawuf

Yang Menghapus Dosa dan Menurunkan Magfirah (6)

Written by Panji Masyarakat

Adanya orangtua di rumah, apalagi kalau sudah jompo, adalah kesempatan yang bukan main bagusnya bagi sang anak, atau penghuni rumah itu, untuk masuk surga dengan melayaninya. Berarti,  kesempatan hapusnya dosa-dosa. Makin rewel dia makin besar pahalanya bagi kita.

(5) Berbakti kepada Orangtua

Utamanya dengan selalu mendoakan ibu-bapak, juga memaafkan beliau-beliau itu. Ada satu hadis Nabi yang menunjukkan tiga jenis orang yang betul-betul sangat merugi. Pertama, orang yang sudah kawin tapi berzina. Kedua, orang yang di rumahnya ada orangtua tetapi tidak bisa masuk surga. Dan ketiga, orang yang melewati bulan Ramadan dan dosa-dosanya  tidak diampuni.

Kita perhatikan yang kedua. Adanya orangtua di rumah, apalagi kalau sudah jompo, adalah kesempatan yang bukan main bagusnya bagi sang anak, atau penghuni rumah itu, untuk masuk surga dengan melayaninya. Berarti,  kesempatan hapusnya dosa-dosa. Makin rewel dia makin besar pahalanya bagi kita. Kadang-kadang kalau orang tidak sabar, orangtua dimasukkan ke panti jompo. Dengan demikian, peluang untuk berbakti dan berbuat mulia disia-siakan. Bagaimana pula kalau  orangtua itu, ibu atau bapak, tidak ridha, hanya saja tidak berdaya?

Sekarang kita kutipkan dari buku Meraih Ampunan Ilahi, sebuah hadis dari sumber utama Ibn Umar r.a. Ia menceritakan seseorang  yang datang kepada Nabi s.a.w. , lalu berkata: “Ya Rasulullah, saya sudah melakukan dosa besar. Dapatkah saya bertobat?”

“Apakah kamu masih mempunyai Ibu?” Nabi balik bertanya.

“Tidak, ya Rasulullah.”

“Apakah kamu mempunyai bibi?”

“Ya.”

“Nah, berbaktilah kepadanya.” (Riwayat Ibn Hibban dan Al-Hakim).

Lihatlah, sampai-sampai bibi pun harus diperlakukan dengan mulia. Di situ Nabi memang tidak menyebut ayah. Dan hadis itu tidak menerangkan apakah sahabat itu punya ayah – sebab siapa tahu sudah meniggal, dan Nabi tahu, wallahu a’lam. Tapi tidak berarti ayah, yang sudah tua, tidak menjadi tanggung jawab kita juga. Alquran,  surah Luqman, ketika mewasiatkan kita untuk berbakti kepada kedua orangtua, menyebut “ibunya telah mengandungnya dengan susah di atas susah, lalu penyapihannya dalam dua tahun.” Tapi kelanjutannya bukan anjuran berbakti kepada ibu, melainkan “bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu.” (Q. 31:14). Sebab, tak hanya ibu. Juga ayah telah membentuk diri kita. Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa. Sumber: Panjimas, 09-22 Januari 2003      

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda