Hamka

Hamka tentang Hamka (3)

Written by Panji Masyarakat

Menjadi Anak Tualang

Barulah beberapa saat kemudian, dia (Hamka) mendengar bahwa ibunya telah diceraikan ayahnya.

Usianya ketika itu telah 12 tahun. Dia telah tahu artinya kesedihan.

Dia menangis mendengar kabar itu, sebab dilihatnya neneknya menangis. Sebab dilihatnya Ma Tuanya, saudara ayahnya, sejak beberapa hari ini berubah sikap kepadanya. Dan dilihatnya ibu tirinya gembira.

Petangnya, sedang ayahnya duduk dengan andungnya dan orang-orang yang datang menjemput ayahnya itu, dia lalu (lewat) di hadapan mereka. berjalan menyisi-nyisi ke tepi. Tiba-tiba ayahnya memanggil: “Malik, mari sini!

Dia mendekat. Tangannya diraih ke haribaannya. Lalu kata beliau, “Jika Ayah bercerai dengan ibumu, dengan siapakah engkau tinggal? Siapakah yang akan engkau turutkan?” Si anak tidak menjawab. Terkunci mulutnya. Dia tidak menjawab karena dia tidak dapat memikirkan suatu kehidupan hanya dengan ayahnya saja, tidak dengan Ibu. Ibu saja, tidak dengan Ayah. Dia sudah merasa pedihnya hidup dengan ibu tiri, atau dengan suadara-saudara perempuan Ayah. Pahit dan pedih. Dan dia belum tahu bagaimana pedihnya hidup hanya dengan ibu. Dengan perlahan-lahan dia menarik dirinya dari haribaan ayahnya.

Foto Ibu/Bundanya Hamka

Suku ayahnya hendak mendiktekan beberapa perjanjian yang berat-berat hingga kalau diterima juga bukan hanya ibunya saja lagi yang dipandang hina, tetapi penghulu-penghulunya. Padahal dalam kalangan suku ibunya terdapat penghulu-penghulu yang dipandang tinggi. Si anak kian lama kian tak berketentuan lagi. Dia tinggal dengan ayahnya di Padang Panjang. Tetapi dengan tidak setahu ayahnya, berkali-kali dia hilang. Dia pulang ke kampungya berjalan kaki, seorang diri 40 kilometer karena hendak bertemu dengan ibunya.

Tidak ada lagi yang dijadikannya pedoman dalam hidup. Kian lama kian dirasainya renggang dengan ayahnya. dia menjadi anak tualang, menurutkan dan bergaul dengan orang-orang parewa. Hidup sesuka hatinya. Bertualang ke mana-mana. Agaknya hendak menghilangkan duka

Ketika dia pulang itu pernah kelihatan olehnya, ibunya mengambil foto ayahnya yang tergantung di dinding. Dilihatnya tenang-tenang gambar itu dan ditangisinya. Dan di Padang Panjang pun pernah dilihatnya dan didengarnya ayahnya bernyanyi lagu-lagu Qasidah Arab dengan suara yang sayup merdu.

Ada sesuatu yang rupanya menghambat pertemuan ayahnya dan bundanya kembali. Ada rupanya yang menghambatnya dan ketiga saudaranya buat hidup di dekat ayah dan bundanya bersama-sama. Kata-kata itu sudah didengarnya seketika orang tua-tua berapat, yaitu “adat”.

Saat hidup tualang bersama-sama teman bermain di Sungai Deli

Rupanya segala perundingan telah gagal. Karena ada yang mengenai kehormatan mamak dan sukunya. Dalam pada itu, datanglah pinangan dari seorang pedagang besar di Tanah Deli. Tidak pikir panjang lagi, pinangan itu diterimalah oleh segala mamak ibunya dan penghulu dalam sukunya.

Setelah 10 bulan menjadi janda, ibunya berangkatlah meninggalkan kampung halaman, menumpang dengan salah seorang keluarga yang sudah lama di Tanah Deli. Naik kapal dari Teluk Bayur menuju Tanah Deli, meunuruti suami yang baru.

Apabila dia (Hamka) pulang ke kampung, dilihatnya rumah tua yang telah sunyi. Hanya andungnya yang tinggal bersama adiknya yang kecil, sakit-sakit pula. Adiknya yang perempuan telah dibawa ibunya. Kakaknya telah dipesankan suaminya, menurutinya,merantau ke Tanah Jawa. Tidak ada lagi yang dijadikannya pedoman dalam hidup. Kian lama kian dirasainya renggang dengan ayahnya. Maka mulailah dia menyisih sendiri. Hidup sesuka hatinya. Bertualang ke mana-mana. Agaknya hendak menghilangkan duka.

Hampir setahun lamanya, selama usia 13 tahun, dia menjadi anak tualang, menurutkan dan bergaul dengan orang-orang parewa. Diagak-agaknya ketika ayahnya tidak ada di rumah, baru dia pulang. Kadang-kadang dia pergi menjelang neneknya di kampung.

Tahun 1923 pun pergi, diganti oleh tahun 1924. Maka dalam pertengahan tahun itu, dengan tiba-tiba sehabis makan tengah hari, dia berkata kepada ayahnya, “Hamba hendak ke Jawa, Abuya!”

“Mengapa engkau ke sana?” tanya beliau kemudian.

“Menuntut ilmu.”

“Ilmu apa yang akan dituntut di sana? Kalau perkara agama, tidak di Jawa tempatnya, tetapi di sini di Minangkabau ini. Entah kalau pergi ke iparmu di Pekalongan (Sutan Mansur yang menikah dengan kakak perempuan Hamka, red).”

“Memang itulah maksud anakanda.”

(Dalam perjalanan ke Jawa , Hamka singgah di Bengkulu  di rumah saudaranya untuk meminta ongkos. Dia kena cacar, dan urung melanjutkan perjalanan, red)  Bersambung          

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda