Cakrawala

Kemana Perginya Kejujuran?

Banyak yang melihat, mendengar dan merasa bahwa selama ini kejujuran mulai meredup dalam kehidupan kita sebagai sebuah bangsa. Kejujuran mulai tersingkir dari pergaulan masyarakat sehari-hari. Orang seolah dipaksa berlomba untuk saling meyakinkan kebenaran ungkapan Jawa ‘jujur ajur’, jujur hancur; siapa yang jujur akan mencelakakan dirinya sendiri.

Entah sejak kapan ungkapan salah kaprah ini muncul. Saya menduga ini berasal dari salah satu potongan bait syair kritik sosial yang dinisbahkan ke Ronggowarsito (malah ada juga yang mengaitkannya dengan Jangka Jayabaya): sing curang garang, sing jujur kojur; yang curang berkuasa, yang jujur sengsara. Pada awalnya ia adalah kritik tajam terhadap kecenderungan sosial; tapi akhirnya malah diplesetkan dan diyakini sebagai norma agar bisa bertahan hidup di masyarakat.

Padahal kejujuran adalah adalah jalan utama yang pertama kali harus dilakoni agar orang menemukan kesejatian diri. Dalam terminologi Islam, kejujuran adalah salah satu muatan makna kata shiddiq. Jujur atau shiddiq adalah fondasi bagi tatanan masyarakat. Tanpa landasan dasar ini, semua tatanan yang dibangun di atasnya akan rapuh dan mudah digoyang.

Kejujuran adalah sikap lugu apa adanya, tidak menyembunyikan atau menyimpan kepentingan apapun diluar yang diucapkan atau yang ditampakkan dalam sikap dan perbuatan. Kejujuran adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya sikap dengan tindakan. Karena itu, kata shiddiq kecuali memuat pengertian jujur, juga pengertian benar dalam satu kesatuan makna.

Mungkin kita bisa mengambil pelajaran dengan menengok pada kehidupan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam.  Ada empat sifat beliau yang berulang kita hafalkan, yang datang secara berurutan, yakni: shiddiq, amanah, tabliq dan fathonah. Empat kualitas ini bukan saja wajib ada dalam membangun kepemimpinan, namun pada akhirnya menjadi prasyarat pembentukan masyarakat yang kukuh dan bermartabat.

Ketika orang sudah mampu hidup dalam kebenaran kejujuran, maka secara otomatis ia akan mampu membangun kepercayaan masyarakat. Ketika secara pribadi seseorang dikenal benar dan jujur, maka secara sosial dia akan terpercaya. Kepercayaan inilah yang disebut amanah, pelakunya disebut al amin.

Orang yang tidak benar dan jujur, tidak mungkin bisa membangun kepercayaan diantara sesama anggota masyarakat, diantara sesama anak-anak bangsa. Tanpa kepercayaan, tak ada yang bisa membangun tatanan masyarakat yang kukuh dan bermartabat.

Kenapa demikian? Karena tanpa kualitas keterpercayaan, tanpa kualitas amanah, tabligh tak akan bisa dijalankan. Tabligh adalah penyampaian pesan kebenaran, penyampaian nilai-nilai, aturan-aturan dan seterusnya.

Betapa tidak? Tanpa kualitas amanah, tanpa kepercayaan, apapun kata yang diucapkan seseorang, apapun aturan yang dikeluarkan pimpinan, apapun perundangan yang ditetapkan lembaga, tidak akan mampu mendorong masyarakat untuk mentaati atau bertindak sesuai dengannya; bahkan untuk mendengar pun mungkin tidak.

Tanpa amanah, tanpa kepercayaan, tahap tabligh akan rapuh. Perundangan, peraturan, kebijakan apapun yang diambil oleh pimpinan atau oleh lembaga hanya akan sekedar terpaksa ‘diamini’ oleh masyarakat lewat proses-proses pemaksaan oleh kekuasaan atau lewat rekayasa sosial lainnya.

Pemimpin atau kepemimpinan yang ideal mestinya mempunyai tiga kualitas ini. Tanpa ketiga kualitas ini, jelas kepemimpinannya akan rapuh; dan masyarakat atau bangsa yang kukuh tak bisa diciptakan.

Bila ketiga kualitas ini sudah terintegrasi dalam diri seorang pemimpin, maka kita bisa berharap akan munculnya kualitas keempat, yakni: fathonah, atau dalam bahasa sederhananya: ketercerahan.

Hanya seorang pemimpin yang tercerahkanlah yang akan mampu secara tepat, bijak dan kreatif merangkul dan mengarahkan masyarakatnya ke situasi yang lebih mulia dibanding sebelumnya.

Apakah semua ini sekedar mimpi ditengah kenyataan semakin meredupnya kejujuran dalam kehidupan kita sebagai sebuah bangsa? Mungkin saja. Tapi yang jelas redupnya kejujuran telah menyebabkan lemahnya kepercayaan. Lemahnya kepercayaan menyebabkan renggangnya ikatan kita sebagai bangsa.

Jadi sebaiknya semua elemen bangsa ini, dari rakyatnya sampai dengan para pimpinannya di semua jenjang, untuk kembali pada kebenaran kejujuran, jalan utama yang pertama harus dilakoni dalam kehidupan. Benar dan jujur dalam berkata dan bertindak, tanpa menyembunyikan kepentingan lain dibaliknya.

Budayawan,tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda