Tasawuf

Yang Menghapus Dosa dan Menurunkan Magfirah (Bagian 2)

Written by Panji Masyarakat

Kalau kita sedih, kita salat. Begitu juga kalau berbahagia, jangan sekali-kali lupakan salat. Salat apa saja. Juga untuk menghapuskan dosa dan kebersihan diri.

Adapun istighfar adalah nama untuk doa permohonan ampun itu. Kita berdoa memohon ampun lepada Allah dengan mengulang-ulang istigfar. Sementara itu, yang agak terasa janggal adalah digabungkannya doa dan istigfar itu, yang kedua-duanya adalah cara, dengan Tauhid, yang adalah kondisi. Tapi memang itulah yang dimaksud penulis buku ini: pencantuman Tauhid itu mengandung pengertian bahwa orang-orang yang mengemban misi ketuhanan bukan hanya amat besar pahalanya, tapi juga lebih dekat ke pengabulan doa daripada orang-orang yang penuh syirik.

Karena itu, kesimpulan kita, janganlah sekali-kali syirik mengenai kita — dan mohon ampunlah kita kepada Allah dari kemungkinan syirik yang tidak kita sadari. Masalahnya ialah karena agama kita tegas sekali dalam hal itu. Di sebagian agama lain, oh, gampang sekali, semua saja dijadikan sasaran meminta-minta, semua dijadikan perantaraan, dan manusia berada di bawah wibawa benda-benda atau makhluk lainnya. Hal-hal seperti itu berada jauh di luar aturan main keyakinan kita.

(2) Salat

Salat ini luar biasa nilainya. Juga bagi usaha mendapat pengampunan. Salat adalah zikir yang paling lengkap, yang tidak hanya dilakukan mulut, melainkan seluruh anggota tubuh. Demikianlah sehingga Allah mengangkat salat itu sebafai wakil segala zikir (dzikr). Untuk mengingat-Nya seperti dalam firman: “Bahwa sesungguhnya inilah Aku, Allah, tiada tuhan selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (Q. 20:14).

Bahkan, dalam surah Al-Ankabut disebutkan bahwa faktor mengingat Allah (dzikr) dalam salat itu lebih besar artinya daripada segala manfaat yang bisa dirasakan sebagai dampak positif ibadat itu: “Dan dirikanlah salat karena salat mencegah perbuatan keji dan munkar, dan (tetapi) mengingat Allah adalah lebih besar.” (Q. 29:45). Karena itu, yang dianjurkan kepada kita ialah memperbanyak salat. Kalau kita sedih, atau dalam keadaan menghadapi cobaan, kita salat. Kalau kita sedang berbahagia, bersenang hati dan sejahtera sentosa, jangan sekali-sekali melupakan salat. Salat apa saja, sebab ada bermacam-macam jenis salat, tetapi yang penting kita salat, salat. Juga untukdosa dan kebersihan diri. Salat.

Apalagi karena di dalam salat juga terdapat amalan lain yang bukan main utama, yaitu membaca Alquran. Sangat disukai, di dalam salat, membaca banyak ayat Alquran, khususnya dalam salat sendirian. Ada orang-orang tertentu yang menghafalkan Alquran khusus untuk pemakaian dalam salat.

Memang terdapat problem dengan sebagian saudara kita yang takut menghafalkan Quran karena khawatir nanti melupakannya, dan ia mengira melupakan (hafalan) Quran itu berdosa. Kalau begitu apa boleh buat, jangan pasang niat menghafalkan dari juz 1 sampai dengan juz 30. Tetapi tekadkan keinginan untuk memakai seluruh ayat Quran dalam sembahyang. Jadi tidak terus-menerus hanta membaca Qulhu atau Inna A’haina, seakan-akan Alquran hanya itu isinya. Melainkan diurut, dari Alif-Lam-Mim di depan sampai surah An-Nas di akhir Alquran.

Penulis: Syu’bah Asa; Sumber: Panjimas, 09-22 Januari 2003.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda