Tafsir

Apakah Basmalah Termasuk Fatihah (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Bahwa orang-orang tertentu sudah diberi anugerah Allah sama sekali bukan jaminan. Sebab mereka bisa saja melenceng dan menjadi golongan yang kena murka Allah dan sesat.

Mendukung pendirian Syafi’i

Tetapi yang berpendapat sebaliknya bukan tidak mempunyai alasan. Antara lain; pertama, riwayat ‘Aisyah r.a., bahwa Nabi s.a.w. membuka salat beliau dengan takbir, dan pembacaan dengan alhamdu lillahii rabbil ‘alamin. Ini menunjukkan bahwa tasmiah bukan ayat dari Fatihah. Kedua, sekiranya bismillahir rahmanir rahim adalah ayat dari surah ini, terjadi pengulang-ulangan ar-rahmanir rahim (dengan ayat sesudah alhamdu lillahi rabbil ‘alamin).

Jawaban untuk yang pertama diberikan Syafi’i. Mudah-mudahan saja, kata Imam, dengan Alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin yang disebutkannya itu ‘Aisyah bermaksud menyebut nama surah ini (Fatihah). Seperti kalau orang mengatakan,  “Si anu membaca Alhamdu lillahil ladzi khalaqas samawat”  berarti ia membaca surah itu (Al-An’am; lih. Q.6:11). Sedangkan jawaban untuk yang kedua: pengulangan-pengulangan itu, untuk keperluan penekanan, banyak terdapat dalam Quran. Sedangkan penekanan untuk sifat-sifat Allah yang rahman dan rahim tentunya terhitung sebesar-besar urgensi, wallahu a’lam.

Demikianlah, semuanya terdapat 17 dalil yang dituliskan Razi untuk mendukung pendirian Imam Syafi’i mengenai kedudukan basmalah. Yang menarik ialah bahwa uraiannya yang bagus , berikut ini, tidak ditambahkannya ke dalam rangkaian hujjah-nya, melainkan justru diletakkanya di bawah judul tersendiri:   “Dalam Hal Menerangkan Jumlah Ayat Surah Ini”, sementara seharusnya yang di bawah ini tiga buah dalil yang kuat. Dalil-dalil ini memang berpijak pada kesepakatan ulama bahwa, kecuali pada segelinitir tokoh tertentu, surah Fatihah memang terdiri dari tujuh ayat.

Nah,  mereka yang berkata bahwa basmalah merupakan ayat pertama Fatihah, menganggap shirathal ladzina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh-dhallin satu ayat (ke-7). Sedangkan yang tidak memasukkan basmalah menghitung shirathal ladzina an’amta ‘alaihim satu ayat (ke-6), sedangkan ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh-dhallin satu ayat lain (ke-7). Razi dengan bagus menjelaskan bahwa pendapat pertama lebih kuat, dengan tiga dalil ini:

Anugerah bukan jaminan

Kesembilan. Ujung dari firman shirathal ladzina an’amta ‘alaihim (yaitu bunyi ‘alaihim bisa dilihat tidak sama dengan ujung ayat-ayat Fatihah sebelumnya (yang memakai pola ya dan nun atau ya dan mim—iin atau iim). Padahal pemeliharaan kesamaan akhir ayat merupakan hal yang lazim dalam Alquran. Kita dapati ujung-ujung ayat Quran itu mempunyai dua model: ‘yang saling berdekatan’ (mutaqaribah) dan ‘yang saling menyamai’ (mutasyabihat). Yang pertama misalnya pada surah Qaf (Q. 50), dan yang kedua pada surah Qamar (Q. 54). Sedangkan bunyi ‘alaihim, yang mereka katakan sebagai akhr ayat, tidak termasuk yang dua itu (juga tidak bisa dijejerkan dengan ayat-ayat surah Muhammad, Q. 47, yang mayoritasnya berakhir dengan kata ganti hum dan kum; pen.). Bentuk seperti itu tidak bisa dijadikan akhir ayat.

Kesepuluh. Yang mereka bayangkan sebagai  ayat terakhir, ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh-dhallin, dimulai dengan kata ghaira (“bukan”). Ini kata yang bisa menunjuk pada sifat dari yang sebelumnya, bisa pula pada pengecualian (istisna’). Padahal sifat tidak bisa dipisahkan (menjadi dua ayat) dari yang disifati (maushuf), demikian pula yang dikecualikan (mustasna) tidak bisa dipisahkan dari sisanya (mustasna minhu). Lain halnya bila kita jadikan shirathal ladzina an’amta ‘alaihim sampai ke akhir surah satu ayat, seperti yang memang dimaksudkan. Demikian Razi. Tapi bukankah shirathal ladzina an’amta ‘alaihim (“Jalan orang-orang yang Kauberi anugerah”), dan seterusnya, itu sendiri merupakan keterangan dari shirathal mustaqim (“jalan yang lurus”) di ayat sebelumnya?

Betul, tapi kedudukannya bukan sebagai sifat, melainkan badal, pengganti. Teoretis, shirathal mustaqim itu bisa tidak ada,  diganti dengan shirathal ladzina an’amta ‘alaihim dan seterusnya itu. Dan prinsip penggantian itu menerima pemisahan menjadi dua ayat. Demikian tambahan kita. Di sini Razi menemukan dalil selanjutnya, yakni:

Kesebelas. Dengan digantinya shirathal mustaqim, asumsi ayat itu menjadi ihdina shirathal ladzina an’amta ‘alaihim (“Tunjukilah kami jalan orang-orang yang Kauberi anugerah”). Tetapi, dari segi ajaran, permohonan petunjuk ke jalan orang-orang yang diberi anugerah itu tidak bisa jadi kecuali dengan dua syarat: pertama, orang-orang yang dimaksudkan itu, bukan orang-orang yang dimurkai, dan kedua, mereka bukan orang-orang sesat. Mengapa?

Karena ada kenyataan seperti ditunjukkan Quran:  “Tidakkah kaulihat orang-orang yang mengganti anugerah Allah dengan  kekafiran, dan menempatkan kaum mereka sendiri dalam kebinasaan?” (Q. 14:28). Berarti, bahwa orang-orang tertentu sudah diberi anugerah Allah sama sekali bukan jaminan—sebab mereka bisa saja melenceng dan menjadi golongan yang kena murka Allah dan sesat. Karena itu ayat itu tidak boleh berhenti di “orang-orang yang Kauberi anugerah” (alladina an’amta ‘alaihim), melainkan merupakan kesatuan dengan ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhallin (“bukan mereka yang kena murka, bukan pula mereka yang sesat”). (lih. Al-Fakhrur Razi, At- Tafsirul Kabir wa Mafatihul Ghaib, I:200-208, passim).

Berkata Saiyid Quthub, mufasir kita dari abad ke-20: “Surah ini dimulai dengan Bismillahir rahmanir rahim…bersama dengan perbedaan pendapat di sekitar basmalah: apakah ia ayat dari setiap surah, ataukah ia ayat Quran yang dipakai membuka setiap surah. Yang paling berat timbangannya ialah bahwa ia ayat dari surah Fatihah, dan dengan basmalah itu pula surah ini dihitung terdiri dari tujuh ayat.” (Quthub, Fi Zhilalil Quran, I:21). “Dan sudah Kami berikan kepadamu (Muhammad) tujuh ayat yang diulang-ulang dan Alquran yang agung” (Q. 15:87). Wallahu Akbar***.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat;  Sumber: Panjmas, 23 Januari-25 Februari 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka
  • hamka