Mutiara

Lentur Dalam Sikap, Tegas Dalam Pendirian

Written by A.Suryana Sudrajat

Ulama Bondowoso dan murid Syekhona Kholil Bangkalan ini menjadikan kesenian ojung sebagai sarana berdakwah, dan sekaligus menaklukkan para bromocorah sehingga mereka tobat dan mau mengaji di pesantren.

Kiai Haji Asy’ari punya cara yang unik dalam berdakwah dan menaklukkan kaum bromocorah. Yakni melalui kesenian tradisional yang disebut  amaèn kèjung atau ojung. Yakni seni pertunjukan menyanyi, mirip seperti sinden, atau berakting saling memukul dengan rotan. Kiai Asy’ari tidak hanya menjadi sponsor pertunjukan tetapi ikut menjadi pemain.

Ojung mirip kesenian tiban di wilayah Tulungagung, di mana para pemain saling berhadapan dan saling cambuk dengan rotan. Ojung merupakan ajang perlombaan untuk menguji nyali, kekuatan fisik, taktik, dan ketangkasan. Setiap pemain membawa rotan untuk dipukulkan ke lawannya. Pemain dikatakan menang jika berhasil menjatuhkan lawan. Seni tradisi ini memadukan kekuatan fisik, kanuragan, gerakan-gerakan tertentu dan diiringi musik.

Dalam praktik, pertunjukan ojung kerap dijadikan objek judi oleh masyarakat dalam acara-acara tertentu. Tapi Kiai Asy’ari memanfaatkan kesenian itu sebagai sarana dakwah. Yakni dengan cara menundukkan lawan-lawannya dalam aksi panggung. Setelah itu, ketika lawannya bertekuk lutut, ia lalu rangkul mereka menuju ke jalan yang benar. Pendekatan ini ia gunakan untuk menghadapi para bromocorah, preman, dan penjahat. Ketika mereka diajak naik panggung bermain kejung, mereka mengaku kalah, lalu tertarik mengikuti ajakan Kiai Asy’ari. Pendekatan dakwah semacam ini tidak bersifat menggurui, tidak pula memaksa, tapi malah mengundang simpati di kalangan masyarakat Wonosari dan sekitarnya.

Usaha Kiai Asy’ari ini juga mendapat dukungan dari K.H. Raden Syamsul Arifin dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, Sukorejo, Situbondo. Ayahanda K.H. As’ad Syamsul Arifin (salah seorang pendiri NU) ini menjadi dewan penasehat atau pembina Pesantren Daruth Thalabah Wonosari selama tahun 1910-1950.

Dari penerimaan masyarakat secara perlahan-lahan terhadap dakwah Kiai Asy’ari, Pesantren Daruth Thalabah Wonosari, yang didirikan pada 1910, bisa berkembang hingga kini. Keberhasilan ini tidak lepas dari usaha ia merangkul masyarakat sekitar, serta mendapat dukungan dari para preman, penjahat, dan bromocorah di kawasan itu yang sudah tobat dan ikut mengaji di pesantren.

Kiai Asy’ari adalah murid Syekhona Kholil Bangkalan, Madura. Ia seangkatan dengan sejumlah ulama besar di masanya, seperti K.H. Hasyim Asy’ari (Pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri NU), K.H. Ali Wafa (pendiri Pesantren Temporejo, Jember), K.H. Muhammad Munawwir (pendiri Pesantren al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta), K.H. R. Abdul Fattah (pendiri Pesantren Al-Fattah, Tulungagung), dan K.H. Romli Tamim (Pesantren Peterongan Jombang).

Syahdan, pada tahun 1930-an ibukota Keresidenan Besuki ini menjadi sentra pemerintahan kolonial Belanda yang mencakup Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi, sekaligus pusat kegiatan ekonomi. Desa Wonosari dan sekitarnya saat itu menjadi lokasi paling rawan kejahatan. Kriminalitas, prostitusi, dan perjudian, merupakan wajah masyarakat Bondowoso saat itu. Perampokan dan pembunuhan terjadi paling sedikit satu kali setiap harinya.

Semua itu dihadapi oleh Kiai Asy’ari secara lentur dalam sikap, tetapi tegar dalam pendirian. Ia bukanlah orang yang sekonyong-konyong datang dengan seruan untuk menjungkir-balikkan semua nilai yang sudah dijalani secara umum. Perbedaan moralitas dan nilai yang dia anut dengan apa yang terjadi di sekelilingnya, tidak ia hadapi secara frontal, melainkan dengan hanya memberikan contoh bagi mereka yang mau mengikutinya. Kiai Asy’ari tidak mendatangi, melainkan menerima mereka yang berkeinginan mengubah diri secara berangsur-angsur. Perubahan yang dilakukan Kiai Asy’ari terhadap situasi gelap masyarakat itu dimulai dari cara mereka didekati oleh kiai, dengan harapan kelak mereka berbalik mendekati kiai dan pesantren. Itu dilakukan Kiai Asy’ari dengan pendekatan kesenian tradisional tadi.

Semasa revolusi kemerdekaan Pesantren Daruth Thalabah menjadi basis pertahanan dan perjuangan rakyat melawan penjajah. Berbagai elemen masyarakat, hingga mantan preman dan bromocorah sekalipun, ikut bersama komunitas pesantren berjuang melawan kolonial Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.

K.H. Asy’ari wafat pada zaman revolusi yaitu tahun 1948. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga di Wonosari, Bondowoso, Jawa Timur.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • hamka