Mutiara

Sang Pembaru Pendidikan Islam

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Mahmud Yunus adalah tokoh pembaru pendidikan Islam dan pelopor pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Tapi mengapa ia tak belajar agama waktu kuliah di Mesir?

Prof. Dr. H. Mahmud Yunus adalah tokoh pembaru pendidikan Islam di Indonesia. Berkat usaha dialah, antara lain, lahir lembaga pendidikan tinggi Islam, seperti ADIA yang bertransformasi menjadi IAIN dan UIN sekarang. Ia juga masyhur sebagai ulama-mufasir. Bahkan disebut-sebut sebagai pelopor penulisan tafsir modern di Indonesia, sebelum A. Hassan, Hasbi Ash-Shiddieqy dan Hamka. Alquran dengan terjemahan bahasa Indonesia yang beredar luas saat ini adalah karya Prof. Mahmud Yunus. Ia memang mumpuni dalam bahasa Arab. Dan berjasa dalam menempatkan bahasa Arab sebagai mata pelajaran yang diperhitungkan di lembaga pendidikan Islam.

Ia lahir pada 1899 di Batusangkar, Sumatera Barat. Ayahnya, Yunus bin Incek, adalah imam Masjid Nagari. Ia menempuh pendidikan di Madras School (sekolah agama) di Surau Tanjung pada tahun 1910.

Pada 1924 Mahmud Yunus menunaikan ibadah haji. Setelah itu, ia berlayar ke Mesir untuk melanjutkan studi yang selama ini dicita-citakannya. Ia belajar di Al-Azhar tahun 1924 dan Darul Ulum Ulya Kairo. Di Darul Ulum, Mahmud Yunus justru mempelajari ilmu pengetahuan umum karena masa kecilnya ia habiskan untuk belajar ilmu agama saja. Yunus berpendapat, kalau ilmu orang yang datang kemudian hari sama saja dengan ilmu orang yang dahulu, berarti tidak ada kemajuan. Ia juga mempertegas, “Akhir orang dahulu adalah awal orang kemudian”. Tahun 1929, Mahmud Yunus menjadi alumni Darul Ulum pertama dari Indonesia.

Sekembali dari Mesir, pada 1930, Mahmud Yunus meneruskan khidmatnya di bidang pendidikan. Pada 1931 ia mendirikan Al-Jamiah al-Islamiyah di Sungayang, Batusangkar. Sekolah ini memiliki tiga tingkatan, yakni ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah. Penjenjangan ini merupakan adopsi dari sistem pendidikan yang diterapkan almamaternya, Al-Azhar dan Darul Ulum. Kemudian ia mendirikan Normal Islam di Padang dengan yang memadukan kurikulum ilmu agama dan umum. Madrasah inilah yang pertama kali memiliki laboratorium untuk ilmu fisika dan kimia. Pembaruan di dua madrasah ini diutamakan pada pembaruan metode mengajar bahasa Arab. Tahun 1940, ia resmi membuka Sekolah Islam Tinggi yaitu perguruan Islam tinggi yang pertama di Minangkabau, bahkan di seluruh Indonesia. Pada tahun itu ia juga memperkenalkan Kulliyah al-Mu’allimīn al-Islāmiyah (KMI), yang kegiatan belajar-mengajarnya dilakukan di kelas-kelas dengan jadwal dan kurikulum yang sudah ditetapkan. Sistem klasikal ini kemudian terus ia kembangkan di Normal Islam secara bertahap.

Setelah kemerdekaan, pada 1947 ia memegang kedudukan sebagai Kepala Bagian Islam pada Jawatan Agama Provinsi Sumatera. Saat itu ia mengusulkan kepada PPK Provinsi Sumatera agar pelajaran agama dimasukkan ke dalam daftar pengajaran di sekolah-sekolah negeri mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Usul tersebut diterima dengan baik oleh PPK Provinsi Sumatera.

Kiprah Mahmud Yunus di dunia pendidikan membuat K.H. Abdul Wahid Hasyim, menteri agama saat itu, mempercayakan Yunus menjadi Kepala Penghubung Pendidikan Agama pada Departemen Agama di Jakarta. Dengan itu, Mahmud Yunus mengeluarkan ketetapan-ketetapan yang cukup penting menyangkut pendidikan Islam di Indonesia, yakni: (1) mewujudkan peraturan bersama Menteri P & K dan Menteri Agama tentang pendidikan agama di sekolah-sekolah swasta; (2) mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA) pada tahun 1951 di delapan kota: Tanjungpinang, Kotaraja, Padang, Banjarmasin, Jakarta, Tanjungkarang, Bandung, dan Pamekasan; (3) menetapkan rencana pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah dasar dari kelas IV sampai kelas VI, demikian juga di sekolah menengah; dan (4) mewujudkan peraturan bersama Menteri P & K dan Menteri Agama tentang peraturan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta.

Keterlibatan Mahmud Yunus dalan melahirkan peraturan bersama Menteri P & K dan Menteri Agama tentang PTAIN di Yogyakarta merupakan cikal bakal dari embrio lahirnya IAIN di seluruh Indonesia. Ia sendiri menolak menjadi dosen di sana, dengan alasan bahwa perguruan tinggi harus berada di pusat (Jakarta) dan ia akhirnya berusaha mendirikan PTAIN di Jakarta. Namun, usahanya tersebut gagal dan ditolak Menteri P & K mengingat SK bersama tersebut menetapkan bahwa PTAIN hanya satu dan berada di Yogyakarta. Hingga akhirnya, Mahmud Yunus dan kawan-kawannya mendirikan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA), yang menjadi cikal bakal IAIN Jakarta. Ia yang kemudian menjadi dekan ADIA dan mengusulkan kepada Menteri Agama agar ADIA menjadi sebuah perguruan tinggi yang dapat meluluskan sarjana penuh.

Mahmud Yunus merupakan peletak dasar pengajaran bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan. Ia tidak setuju dengan pendapat bahwa mempelajari bahasa Arab hanya untuk memahami kitab-kitab berbahasa Arab. Alasan tersebutlah yang membuat Mahmud Yunus mengembangkan pengajaran bahasa Arab dengan pendekatan langsung (direct method) atau al-thāriqah al-mubasyarah. Melalui metode ini, berbagai aspek kebahasaan seperti nahwu, şorof, balaghah, imla, mahfudzah, muhadaśah, dan sebagainya disatukan, dengan titik tekan utama pada kemampuan mengucapkannya secara tepat, cepat dan akurat. Keberhasilan dari metode yang diinisiasi Mahmud Yunus mengilhami Kyai Imam Zarkasyi, muridnya di sekolah Normal Islam, yang kemudian menjadi pendiri Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo. Imam Zarkasyi juga menerapkan gagasan dan sistem pengajaran bahasa Arab yang diperkenalkan oleh Mahmud Yunus di pesantrennya.

Pada tahun 1961, ketika menjabat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia mendapat tugas untuk mempelajari pendidikan agama di sembilan negara, yakni Mesir, Arab Saudi, Suriah, Libanon, Yordania, Turki, Irak, Tunisia, dan Maroko. Di tengah kesibukannya, ia telah menghasilkan 49 karya tulis yang dihasilkan dalam bahasa Indonesia, serta 26 dalam bahasa Arab. Mahmud Yunus meninggal pada tahun 1982 dalam usia 83 tahun.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda