Cakrawala

Ribut Agama: Tempat (Ruang) Ibadah Semakin Sempit?

Musa Maliki
Ditulis oleh Musa Maliki

Sepertinya sudah begitu lama agama diributkan. Sebenarnya agamanya yang bermasalah, atau penganutnya yang bermasalah? Atau justru masalah yang terkait agama itu sesungguhnya gara-gara segelintir manusia yang nunut makan dalam agama tertentu atau memang beberapa manusia mabok agama?

Saya mencoba berpikir keras tentang hal ini. Padahal saya tidak perlu keras-keras sekali, lah wong sebenarnya sudah banyak orang pinter yang memikirkannya; sudah banyak ahlinya ahli dalam hal ini. Tapi ya saya cuma ingin ikut-ikutan wong ahlinya ahli itu. Biar tidak terjerumus, terperosok, dan termabokkan pada hal-hal yang simplistik, penilaian sepihak (judging), partikularistik.

Saya juga nulis mung cuma gelisah saja. Gelisah boleh kan sebagai manusia? Saya ini makhluk yang ingin tetap menjadi manusia. Jadi saya pikir kegelisahan itu penting untuk menjaga diri kita agar tetap disebut manusia.

Sekarang ini ada ribut-ribut agama yang memenuhi media-media, ribut tempat ibadah. Padahal eranya sudah jauh ke depan: globalisasi, 4.0 malah ada yang bilang 5.0 dan 6.0. Era sudah canggih, tapi di Indonesia sekarang ini masih saja ribut-ribut tempat ibadah. Yang paling ramai adalah rumah ibadah Islam, Kristen, dan Hindu yang dirusak dan dipermasalahkan izinnya.

Rumah Tuhan kok ya dirusak, apa yang ngerusak tidak takut pada Tuhan ya? Rumah Tuhan kok ya harus pakai izin? Masak Tuhan saja disuruh izin bangun? Ini sesungguhnya tidak masuk akal bukan…

 Apa si pengrusak atau si penentang tahu bahwa itu sebenarnya bukan rumah Tuhan, tapi bangunan buatan manusia. Jadi tidak masalah mau diapain. Hal ini serba tidak masuk dinalar saya. Apa memang semua hal di era teknologi canggih ini bukan sebagai indikator peradabannya?

Tidak ada teks agama manapun yang memperbolehkan tempat ibadah dirusak, tepatnya, tidak diperbolehkan manusia melakukan pengrusakan di muka bumi ini. Sebagai orang yang berusaha berislam, dengan keterbatasannya, saya melihat banyak sekali ayat-ayat ilahiah yang menyebutkan tidak boleh melakukan pengerusakan di muka bumi ini seperti dalam Ar Ruum: 41 dan al-Hajj: 39-40 yang khusus tentang rumah ibadah –yang intinya tempat ibadah agama manapun ya menyebut nama Allah, jadi jangan dirusak dan dilarang-larang.

Saya juga merasa tercerahkan oleh cerita banyak ahlinya ahli. Salah satunya, saya menengok suatu cerita tentang bagaimana Nabi  Muhammad SAW hidup berdampingan dengan penganut agama lain di Madinah. Madinah sebagaimana arti prinsipalnya, kota yang beradab, Nabi bersama komunitas-komunitas lain yang berbeda-beda hidup berdampingan dengan saling menghormati dan menjaga agama satu dengan yang lainnya, termasuk tempat ibadah. Indah bukan…Tapi itu ya dulu di Madinah.

Nabi saat itu cuma pendatang dari Mekah, tapi saking dipercayainya di seluruh komunitas Madinah itu, beliau menjadi pemimpin. Dengan kepercayaan inilah, Nabi berusaha melindungi semuanya agar satu dengan yang lain tidak saling merusak dan menghancurkan. Jadi di sini nabi tidak seenaknya. Beliau mikirin, memperhatikan, menyayangi semuanya termasuk yang berbeda keyakinan dengan dirinya.

Ketika beliau bersahabat dengan orang Yahudi dengan amat sangat lama, Nabi Muhammad SAW tidak sedikit pun menyinggung sahabatnya untuk masuk Islam. Secara relatif Madinah adalah kota aman, tapi di dalamnya ya tetap ada ketegangan sampai muncul orang-orang munafik, yakni orang yang paling berbahaya saat itu.

Itu yang Islam, anti pengerusakan tempat ibadah dan sejenisnya. Demikian pula agama-agama yang lainnya. Semua teksnya tidak ada sedikit pun yang memerintahkan untuk merusak, tapi untuk menjaga harmoni, damai, dan welas asih (kasih). Jadi agamanya sendiri sudah jelas tidak bermasalah. Dan kita tahu itu semua.

Saya menduga hanya segelintir orang saja yang cari makan di dimensi agama merasa harus punya cukup wilayah kekuasaan luas dan lebar agar dirinya dapat makan lebih banyak lagi (kaya). Saya juga menduga pada segelintir orang yang mabok agama yang melakukan itu.

Namun saya masih ragu atas semua dugaan saya itu sebab saya berpikir: Masa iya, ada yang cari makan di agama kok buat ribut, harusnya khan buat stabil situasi dan kondisi agar sistem ekonominya berjalan lancar. Saya juga ragu kepada orang yang suka madat agama, sebab jika mabok agama ya pastinya untuk dirinya sendiri (tidak mengganggu orang lain) biar mabok tidak dilarang oleh pemerintah. Pasti ada yang lain.

Saya merasa seseorang yang merasa punya hak dan memiliki agama tertentu yang suka ribut, lalu emosinya menyuruhnya untuk merusak; suatu perasaan gemas ingin menghancurkan yang lain karena beda dengan dirinya. Nabi manapun saya pikir tidak merasa sedikit pun memiliki agama yang disebarkannya. Namun, Nabi melihat agama sebagai sistem dan proses kerja penyampaian pesan Allah agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi ini. Mungkin saya yang cetek otaknya ini salah. Anda bisa koreksi nalar saya. Soalnya, saya juga hidup di zaman  yang serba banyak tidak masuk akalnya ini.

Pikiran saya, agama kok ya ingin dimiliki, padahal agama itu suatu kerja seseorang. Aktivitas kerja seseorang kok dibendakan, lalu diklaim, dimiliki. Mengapa ada saja orang berpikir atau/dan berkeyakinan pada apa yang dibendakan oleh dirinya sendiri lalu diklaim miliknya, seolah-olah itu “sesuatunya” (a thing) atau “kekasihnya”. Padahal yang disebut “itu” adalah suatu aktivitas siapapun yang disebut kerja manusia. Kerja spiritual adalah agama. Atau jangan-jangan selama ini dia tidak memilikinya, tapi justru menjadikannya sesembahan.

Toh kalau itu dklaim kekasih ya harusnya bukan atas dasar kepemilikan juga, tapi atas dasar kerja percaya-kepada. Dari percayalah, maka seseorang biasa saja dengan kekasihnya. Tidak berlebihan. Justru jika dirinya berlebihan, posesif (possessive), tindakan dia itu menampilkan ketakutan dirinya, kelemahan dirinya, dan ketidakpercayaan atas dirinya.

Ah itu masih dugaan saya saja, karena saya gelisah. Gelisahku semakin menjadi. Lalu saya sampai kepikiran, bisa jadi keributan tempat ibadah karena era sekarang jiwa dan batin seseorang semakin sempit dalam memaknai agama. Jiwanya tidak terbuka, tertutupi awan mendung, lalu hal itu berdampak pada pikirannya dan kelakuannya.

Apa hidup jaman sekarang semakin susah sehingga rata-rata orang jiwanya terganggu (sempit)? Ah, saya jadi menduga juga kegelisahan saya ini adalah karena jiwa saya juga sedang terganggu. Subhanallah.

Musa Maliki adalah Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta; Kandidat Doktoral Ilmu Sosial dan Humaniora, Charles Darwin University Australia; Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan

Tentang Penulis

Musa Maliki

Musa Maliki

Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta dan Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan; Karyanya (bersama Asrudin Aswar) "Oksidentalisme: Pandangan Hassan Hanafi terhadap Tradisi Ilmu Hubungan Internasional Barat" (2019)

Tinggalkan Komentar Anda