Mutiara

Rantai Hadiah

ilustrasi Ibn Batuta (sumber : Youtube)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Seorang raja yang dikaruniai bakat intelektual luar biasa, tapi kemudian terjebak oleh tindakan-tindakannya yang tidak terukur. hadiah merupakan bagian terpenting dalam sistem pemerintahannya.

 Tak ada satu hari atau satu minggu yang terlewatkan tanpa menghamburkan banyak darah orang muslim dan meluncurkan aliran darah kental di depan pintu gerbang istananya.” Demikian Ziauddin Barani  tentang Muhammad Thugluq  yang  kemudian menulis sejarah kesultanan itu dari 1266 sampai 1351, berdasarkan interpretasi ajaran moral agama. Tapi,  dalam waktu bersamaan, dia juga memberi gaji dan hadiah yang luar biasa besar kepada mereka yang disenanginya. Sedemikian besarnya sampai-sampai membuat orang yang menerimanya bingung sendiri.

 Muhammad sebenarnya seorang sarjana keagamaan yang berbakat dan santun. Ia punya minat besar pada fikih, dan menguasai sebagian besar kompilasi hukum Islam menurut mazhab Hanafi. Seniman kaligrafi dan menulis syair-syair Parsi. Ia juga serius  mempelajari bahasa Arab dalam upayanya memahami teks keagamaan. Dan tak kalah pentingnya memberi perlindungan kepada para ulama dan kaum sufi.

 Tetapi Muhammad Thugluq  memang seorang aneh, yang tiba-tiba saja bisa berubah. Kebijaksanaanya  sering dianggap menyimpang, ekstrem, dan kerap tidak terukur. Ia  misalnya mengundang orang-orang bijak Hindu ke Istana  dalam diskusi-diskusi teologi. Ketika para ulama dan kaum sufi  mengeritiknya, Muhammad bukan saja tidak berkompromi,  melainkan juga memburu dan meringkus mereka.

 Di luar sikapnya yang rendah hati, sikap jujurnya, perhatiannya terhadap mereka yang perlu pertolongan, dan sikap bebasnya yang luar biasa, menurut Ibnu Batutah, Sultan terlalu gampang menumpahkan darah.

 Kelana asal Maroko yang kemudian diangkat oleh  Muhammad Tughluq itu akhirnya juga terjebak dalam permainan politik istana yang berbahaya. Alih-alih bertugas menyelesaikan berbagai  kasus di Delhi, Ibnu Batutah lebih banyak nongkrong di istana atau menemani bos besarnya berburu. Ia juga mengikuti gaya hidup elite penguasa yang mahal dan luar biasa boros.

Ross E. Dunn, yang menulis pertualangan Ibn Batutah, mengatakan bahwa Kesultanan Delhi merupakan sistem kekuasaan pribadi yang sangat ekstrem. Ikatan-ikatan kesetiaan dan hormat di antara kelompok-kelompok sosial dipelihara dengan rantai hadiah, mulai dari sultan, dan meluas ke bawah melalui pangkat-pangkat politis, sampai kepada pelayan yang paling bawah. Apa yang dibelanjakan oleh sang penguasa untuk digaji dan hadiah para pejabatnya diharapkan akan kembali kepadanya sebagai hadiah-hadiah di kemudian hari. (Keadaan ini barangkali bisa dianalogikan dengan situasi di Tanah Air, ketika kekayaan pejabat kita banyak yang berasal dari hibah yang entah dari mana sumbernya).

Untuk mengikuti gaya hidup yang boros itu,  Ibnu Batutah sempat dipusingkan. Bagaimana dia membayar utang kepada para pedagang yang sedang bersiap-siap meninggalkan negeri itu untuk usaha perniagaan. Totalnya 55.000 dinar. Ia pun mencari siasat agar Sultan  bersedia membayar utang-utangnya itu. Ia lantas mengarang syair pujian untuk sang penguasa, yang ujung-ujungnya berbunyi:

                Bersegeralah menolong sang penyanjung tempat suci Tuan

                Dan bayarlah utang-utangnya:  para penagih mengancamnya

Sultan bukan main senang dan berjanji menyelesaikan perkaranya. Setelah janji Sultan tertunda dua kali, Ibn Batuta sekali lagi mengajukan permohonannya. Kali ini disertai tiga ekor unta, dua pelana berlapis emas, dan nampan berisi manis-manisan. Setelah menunggu-nunggu sekian lama, dana itu pun mengucur, dan bahkan Ibn Batutah memperoleh 12.000 dinar sesuai dengan janji Sultan sebelumnya.

Ibn Batuta sendiri sempat dibelit kesulitan dengan Muhammad Tughluq, menyusul persahabatannya dengan Syekh Syihabuddin. Muhammad dua kali meminta sufi asal Khurasan itu menduduki suatu jabatan. Ditolak. Yang pertama, dibalas Muhammad dengan cara mencabuti janggut Syekh rambut demi rambut, dan membuangnya ke Daulatabad. Beberapa lama kemudian, Sultan memintanya kembali, dan menempatkannya dalam jabatan sesuai dengan persetujuan Syekh.

Tapi Syihabuddin kemudian membangkannya ketika Sultan berangkat memimpin ekspedisi ke Ma’bar. Kali ini Syekh menyingkir ke luar Delhi, dan membuat sebuah rumah di bawah tanah. Rumah ini, menurut Ibn Batuta, dilengkapi ruangan-ruangan, gudang-gudang, perapian, dan kamar mandi. Sekembali di Delhi, Sultan memerintahkan Syihabuddin keluar dari bunkernya. Menolak, dan ia pun segera diringkus. Syekh mengatakan bahwa Sultan tiran. Ia juga menolak ketika sejumlah ulama meminta menarik ucapannya itu.

Sultan pun meminta daftar orang-orang yang pernah berkunjung ke bunker Syekh—dan Ibn Batutah masuk di dalamnya. Sejak itu Sultan mengirim empat budaknya untuk “mendampingi” Ibn Batuta. Sekitar sembilan hari Ibn Batutah mengakui hidup dalam bayang-bayang kematian. Betapapun Marcopolo dari timur bukan tipe Syekh Syhibuddin yang rela mengorbankan dirinya demi mempertahankan prinsip keyakinannya. Maka sejak kehadiran empat budak itu, kata Ibn Batutah, Allah memberinya ilham untuk melafalkan ayat hasbunallah wa ni’mal wakiil (cukup bagi kita Allah dan Ia sebaik-baik pelindung. Q. 3:173). “Aku mengucapkannya hari  itu 33.000 kali,” katanya. Syekh Syihabuddin akhirnya dihukum: dipenggal lehernya yang didahului dengan penyiksaan. Adapun Ibn Batutah sama sekali dibebaskan. Dan, seperti kita tahu, dia buru-buru angkat kaki, meski Sultan Muhammad Tughluq memintanya menjadi hakim kembali.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda