Aktualita

Hamka : Pers Pemelihara Utama Demokrasi

A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Sebelum menorehkan namanya sebagai ulama dan mufassir, H. Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka adalah seorang pengarang dan sekaligus wartawan. Bahkan sampai akhir hayatnya Hamka masih menulis untuk Panji Masyarakat, majalah yang ia dirikan pada 1959. Untuk memperingati Hari Pers Nasional 9 Februari 2020, berikut kami nukilkan pendapat Buya Hamka tentang betapa sentralnya kedudukan pers dalam menegakkan demokrasi. Red.

Demokrasi adalah identik dengan merdeka atau kemerdekaan. Ketika ada kemerdekaan di situlah demokrasi. Terdapat kemerdekaan pers, kemerdekaan beragama, kemerdekaan individu untuk berpendapat, dan lain-lain.

Dalam negara-negara demokrasi, pemelihara yang utama dari demokrasi adalah pers. Kemerdekaan pers sangat dijaga dalam negara demokrasi. Pemimpin-pemimpin partai, anggota-anggota parlemen kabinet dan menteri tidak dapat bermain komedi dengan kekuasaan, sebab ada pers yang menjaga. Sebab itu maka di negara-negara diktator, fasis, Nazis, dan komunis, tidak ada kemerdekaan pers. Sebab pemerintahan yang telah mulai mengekang pers adalah pemetintahan diktator. Hak kemerdekaan pers sekarang susah diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebab itu maka mutu pers, sebagai pembenteng demokrasi asalah wartawsn itu sendiri.

Di negara demokrasi, surat kabar (pers) diberi kebebasan menyatakan pendapatnya/pendiriannya untuk mengkritik kebijakan pemerintah supaya pemetintah dapat mengoreksi dirinya lantaran membaca. Surat kabar juga dianggap sebagai indikator kemajuan bangsa. Tetapi di negeri diktator, sebagaimana di Jerman di zaman Hitler dan di Italia di zaman Mussolini tidak ada kemerdekaan pers. Pers dikungkung dan dihambat bersuara. Dia hanya mengaminkan saja kebijakan dan pendapat penerintah.

Demikian juga di negeri-negeri jajahan suara pers hanyalah suara penerintah saja. Termasuk dalam kebebasan pers adalah kebebasan menuangkan ide dan pikiran ketika mengarang sebuah buku.

Salah satu yang diinginkan dalam negara demokrasi adalah terjadinya pertukaran pikiran untuk.mencari yang benar dan menyingkirkan yang salah, atau menyelidiki mana yang lebih benar dan mana yang tidak benar. Itulah kemerdekaan berpikir. Itulah alamat akan terhadi kemajuan dan kesadaran. Dan pintu kebebasan menyatakan pikiran itu terbuka luas dalam Islam. Yakni dengan dibukanya kebebasan ijtihad.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda