Tafsir

Apakah Basmalah Termasuk Fatihah (Bagian 1)

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Bismil lahir rahmanir rahim

Dengan nama Allah, maha Pemurah, maha Pengasih

Para imam mazhab berbeda pendapat apakah basmalah termasuk bagian dari Al-Fatihah atau bukan. Tapi mengapa Imam Hanafi tidak tercatat pendapatnya?

Berkata Imam Syafii:  Bismil lahir rahmaanir rahim adalah ayat permulaan surah Al-Fatihah, dan karena itu wajib membacanya (di dalam salat) bersama Al-Fatihah — alias bersama ayat-ayat lain surah itu.

Itu memang keyakinan kita, umumnya, khususnya di Indonesia. Tetapi Imam Malik dan Imam A’uzai berkata, basmalah (lafal bismillah) tidak termasuk Alquran—kecuali basmalah yang ada dalam surah An-Naml (“Ia berkata,  “Wahai para pembesar, sudah dicampakkan kepadaku sepucuk surat yang mulia. Ini dari Sulaiman, dan ini “Bismillahir rahmaanir rahiim…” ‘,”  Q. 27:29-30). Karena itu, menurut mereka berdua, basmalah tidak dibaca di dalam salat, baik dengan suara keras maupun suara lirih — kecuali pada qiam Ramadan (tarawih)—tentunya karena begitulah yang dilakukan Nabi s.a.w. menurut hadis yang mereka pilih.

Adapun Abu Hanifah (Imam Hanafi) tidak tercatat pendapatnya, kecuali bahwa bismillah dibaca orang yang sembahyang diam-diam (sirri). Ia tidak berkata apakah lafal itu awal surah Fatihah atau bukan. Berkata Ya’la: aku bertanya kepada Muhammad ibn Al-Hasan (Abu Hanifah) tentang bismil lahir rahmaanir rahim. Jawabannya, “Yang ada di antara dua sampul kitab itu Quran.” Kutanya, “Kenapa Bapak membacanya lirih?” Ia diam.

Berkata Al-Karkhi:  “Aku tidak tahu masalah ini dari esensinya, dari para pendahulu kelompok kami (mazhab Hanafi). Kecuali bahwa perintah mereka untuk membacanya secara diam-diam menunjukkan basmalah itu bukan bagian dari surah.”  Berkata pula sebagian faqih mazhab Hanafi: Sebenarnya Abu Hanifah dan para sahabat beliau hanya bersikap wara’ (menjaga diri) agar tidak jatuh ke dalam masalah ini, karena kontroversi  untuk menetapkan apakah tasmiah (penyebutan nama Allah. Alias basmalah) termasuk Alquran atau tidak. Itu masalah besar. Karena itu lebih baik diam.

Baiklah. Bagi tokoh seperti Al-Qadhi Abu Bakar, masalahnya jelas: tasmiah tidak termasuk Quran. Kalau ia termasuk Quran, katanya, menetapkannya hanyalah bisa dilakukan secara tawatur  atau secara ahad (aahaad). Tawatur adalah, idealnya, transmisi berita berita “dari semua orang kepada semua orang di semua generasi”—seperti, misalnya, bahwa salat itu wajib lima kali sehari. Berita (hadis) yang diangkut lewat tawatur disebut mutawatir, sedangkan ahad ialah bila berita itu datang satu-satu dalam hal periwayatan, dan karena itu harus disidik—dan dibagi-bagi—apakah tergolong sahih, hasan, daif, dan seterusnya.

Nah, asumsi bahwa tasmiah alias basmalah ini datang lewat jalan tawatur batal — karena, kalau ia mutawatir  (punya nilai tawatur), sudah jelas tidak akan ada perbedaan pendapat lagi. Tetapi asumsi jalan ahad  juga menyebabkan batal. Sebab berita satu-satu, dalam aturan Ilmu Hadis, hanya membuahkan zhann (dugaan, termasuk dugaan kuat). Dan kalau zhann (yang merupakan jalan periwayatan sebagian besar hadis) dijadikan jalan penetapan ayat Alquran (yang seluruhnya mutawatir), tentulah Quran akan keluar dari kedudukannya sebagai argumen pemungkas dan menjadi turun ke peringkat zhanni. Demikian Al-Qadhi. Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat;  Sumber: Panji, 23 Januari-25 Februari 2003

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda