Tafsir

Tidak Ada yang Seperti Fatihah (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Fatihah mengandung semua yang merupakan tujuan Alquran itu secara global. Bagaimana dengan menjadikan Fatihah sebagai jampi?

Itu adalah hal-hal di dalam Fatihah yang menurut Muhammad Abduh, merupakan tujuan diturunkannya Alquran, dan terdiri dari lima macam. Pertama, tauhid. “Karena manusia waktu  itu semuanya penyembah berhala, walaupun sebagiannya mengklaim diri mereka bertauhid.” Kedua, kabar baik, dengan pahala, dan kabar buruk dengan siksa. Kabar baik meliputi hal-hal yang berkenaan dengan umat dan yang berkenaan dengan pribadi, melingkupi ni’mat duniawi dan ni’mat ukhrawi serta kebahagiaan di kedua dunia itu. Kabar buruk demikian pula. Ketiga, ibadat. Ibadat menghidupkan tauhid di hati dan meneguhkannya di dalam jiwa.

Keempat, penjelasan tentang jalan kebahagiaan dan cara menempuhnya, yang menyampaikan kita kepada nikmat dunia serta akhirat. Kelima, kisah-kisah mengenai mereka yang tegak dalam batas-batas Allah Ta’ala dan melaksanakan hukum-hukum agama-Nya dan berita-berita tentang mereka yang melanggar batas-batas-Nya dan melemparkan hukum-hukum agama-Nya ke belakang punggung, agar bisa diambil pelajaran dan dipilih jalan orang-orang budiman serta diperoleh makrifat mengenai sunah-sunah Allah di alam manusia. Fatihah mengandung semua yang merupakan tujuan Alquran itu secara global.

Jadi, kata Abduh, bukan mengandung keseluruhan Alquran dalam pengertian seperti yang diartikan orang-orang tertentu mengenai isyarat dan dalil-dalil huruf. Seperti yang mengatakan bahwa rahasia-rahasia Fatihah dalam basmalah, rahasia-rahasia basmalah dalam huruf ba’, dan rahasia-rhasia huruf ba’   dalam titiknya.  “Kalau yang ini sih tidak datang dari Nabi s.a.w. dan para sahabat beliau r.a., dan tidak pula sendirinya bisa masuk ke dalam akal.”  (Rasyid Ridha, Al-Manar, I:35-36).

Diriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib r.a. bersabda Rasulullah s.a.w.:   “Fatihatul kitab, Ayat Kursi, Syahidallahu annahu laa ilaaha illaa Hua (Allah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Dia), dan Qulillahumma maalikal mulki tu’til mulka man tasyaa’ (Ucapkan:  “Allah, Pemilik Kerajaan, Kauberikan, kerajaan kepada yang Kauhendaki…”), ayat-ayat ini tergantung di Arasy. Antara dia dan Allah tidak ada tabir penutup.” (Diisnadkan oleh Abu Amr Ad-Dani).  (Qurthubi, op.cit: 111). Itulah sebabnya penutur yang sama, Saiyidina Ali, memberitakan bahwa, menurut sepengetahuannya, “Fatihatul Kitab diturunkan di Mekkah, dari perbendaharaan di bawah Arasy”  (riwayat Wahidi dan Tsa’labi).

Al-Hakim, dalam pada itu, memuatkan hadis Kharijah ibn Ash-Shalt At-Tamimi, dari pamannya, yang menuturkan dirinya mengunjungi Nabi s.a.w. Ketika pulang dari beliau, ia melewati satu kaum yang sedang mengerumuni seorang yang gila yang diikat ke besi. Kata keluarganya. “Apa kamu tidak punya sesuatu yang bisa menyembuhkan dia? Bukankah sahabat kamu (Nabi s.a.w.) datang dengan kebaikan?”

“Lalu aku pun,” kata paman Kharijah, “membacainya Fatihatul Kitab, tiga hari lamanya, saban hari dua kali, pagi dan sore. Aku kumpulkan ludahku lalu aku semprotkan. Ia sembuh, dan aku diberi 100 ekor unta. Aku lalu datang kepada Nabi s.a.w. dan lapor. Kata  beliau, “Makanlah (manfaatkanlah untanya). Siapa yang makan dari jampi yang batil, nah, kamu makan dari jampi yang benar.”

Thabrani dalam pada itu meriwayatkan, dalam Al-Ausath, sebuah hadis dengan mata rantai daif, dari Abu Zaid r.a. Katanya,  “Aku berada bersama Nabi s.a.w. di satu fujaj Madinah (fujaj: jalan lebar di antara dua bukit). Nabi mendengar seseorang bertahajud dan membaca Ummul Quran. Beliau lalu berdiri, menyimak, sampai selesai. Lalu berkata,  “Tidak ada di dalam Quran yang seperti itu.” Allahu akbar.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat;  Sumber: Panji Masyarakat, 29 Desember 1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda