Cakrawala

Persekongkolan

Istilah yang sering muncul tenggelam popularitasnya adalah: konspirasi. Istilah yang terjemahan bahasa Indonesianya ‘persekongkolan’ malah jarang dipakai ini, celakanya cuma mudah diucapkan, tapi paling sulit dilacak pembuktiannya.

Saking sulitnya mencari pembuktian, sampai-sampai ada ungkapan: salah satu ciri konspirasi adalah justru pada sifat ketak-terlacakkannya; begitu bisa dilacak ia tidak akan lagi dinamai konspirasi. Jadi, seperti mencium gas orang buang angin: cuma baunya saja yang ada. Muskil mencari bukti bagi keberadaan, apalagi asal-usulnya.  

Watak khas konspirasi konon memang tertutup, dilakukan diam-diam oleh sekelompok orang yang punya persinggungan kepentingan yang sama terhadap suatu ‘obyek’, sambil sekaligus menghindarkan kesan kebersamaan.

Setiap yang terlibat, sepertinya selalu menempatkan dirinya pada jarak yang cukup aman untuk sewaktu-waktu melepaskan hubungannya dengan tindakan bersama tersebut. Karena itu, bisa saja kita menemukan satu atau dua jejak untuk bahan pelacakan, tapi selalu tak bisa kita hubungkan secara langsung dengan para pelakunya. Paling banter kita hanya bisa menggunakannya untuk menduga-duga. Ini yang sering kali membuat konspirasi mirip -kalau tidak malah identik- dengan operasi intelejen.

Jadi, jangan heran bila tiap kali orang bicara soal konspirasi, yang kemudian mencuat ke permukaan hampir pasti adalah kontroversi. Alasannya sederhana: siapa sih yang mau dituduh menjadi bagian dari sebuah konspirasi, yang dalam pengertian manapun selalu bermakna negatif? Setiap orang -apalagi yang memang terlibat- pasti cenderung membela diri dengan balas menuding orang lain. Dan memang, begitulah ciri khas lain yang menyertai konspirasi: tumbuh kembangnya atmosfir kecurigaan.

Di sisi ini, analogi konspirasi dengan orang buang gas, seperti disinggung di atas, tampaknya memang agak tepat. Bayangkan: misalnya, dalam suatu pertemuan yang terhormat, yang beraroma parfum lembut; tiba-tiba menyengat gas orang buang angin. Mau tidak mau, meski di dalam hati, tiap orang di dalam ruang tersebut akan mulai mengembangkan kecurigaan pada pihak lain.

Dasar-dasar kecurigaannyapun bisa macam-macam: ada yang, misalnya, mencurigai orang yang tiba-tiba meringis sebagai pelakunya; padahal bisa jadi ia meringis karena giginya ngilu setelah minum es. Atau yang dicurigai adalah orang yang tiba-tiba tampak salah tingkah, padahal sebenarnya ia betul-betul sedang gelisah menahan kencing. Atau bisa juga yang dicurigai justru orang yang selalu tersenyum ramah, karena dianggap sedang mengkamuflase perbuatan ‘keji’nya; padahal bisa jadi dia memang sedang benar-benar bahagia setelah proposal proyeknya diterima. Alhasil semua tindakan orang tiba-tiba jadi absurd dan bisa dipakai sebagai sandaran tumbuhnya kecurigaan pada siapa saja.

Nah, bayangkan saja kalau kecurigaan dalam hati ini kemudian diungkapkan secara verbal: yakinlah ruang pertemuan tersebut akan berubah jadi ajang tuding-menuding dan kontroversi yang tak habis-habis. Kalau perlu bahkan perkelahian. Dan yang jelas, satu atau lebih pihak yang benar-benar melakukan perbuatan ‘keji’ dengan membuang angin di ruang tersebut, akan dengan gampang melarutkan diri dalam kesemrawutan ini sehingga justru tak akan pernah bisa diidentifikasi dengan jelas.

Hal-hal semacam inilah yang terlintas dalam pikiran, ketika beberapa hari yang lalu seorang teman yang kebetulan pulang kampung, tiba-tiba memberondong saya dengan pernyataan-pernyataannya yang fantastis, spektakuler dan ngedap-edapi tentang adanya infiltrasi asing dan persekongkolan besar untuk membajak demokrasi Indonesia. Tentu saja, saya yang tak punya basis pengetahuan yang memadai tentang hal-hal macam ini, jadinya seperti orang tolol yang kehilangan bahasa dihadapannya.

Mungkin, seperti saya bilang, itu karena semua argumen yang membingkai pernyataannya memang masuk akal, dan bisa segera kita kenali jejaknya dalam kenyataan. Cuma, ya itu tadi, tak ada yang bisa dilakukan untuk membuktikannya secara empiris. Jadi saya biarkan saja argumen-argumen tersebut berkembang menjadi semacam eksplorasi pola berpikir ‘othak-athik mathuk’, cuma kali ini dilakukan secara lebih canggih dan sistematis.                  

“Bayangkan…” begitu dia mulai khotbahnya pada saya “Selama ini kita telah salah bahkan sesat membaca fakta yang telanjang di depan kita! Ini karena kita terlalu naif dan lugu membiarkan diri kita secara konstan dikondisikan dan digiring untuk membaca fakta-fakta tersebut hanya dengan satu cara tertentu, satu bahasa tertentu, yang mau tak mau akhirnya akan melahirkan satu bangunan tafsir tertentu. Inilah prolog dari rencana besar untuk mempersiapkan kita -baik secara emosional maupun intelektual- untuk tidak kaget menerima rancangan kenyataan yang telah disiapkan!” Saya diam saja, karena tetap tidak paham terhadap apa yang dia maksud.

Kemudian dari mulutnya berseliweran macam-macam gambar: mulai dari palu, pengurukan, pelabuhan bebas, infrasuktur, radikalisme, corona, buzzer, pembina, aturan ini-itu, aktivis makelar, KPK, Harun Masiku, Jiwasraya, Bumiputera, Asabri, defisit, perut mulas, si A si B si C, dst dst. Pokoknya hampir semua gambar penting tumplek blek digelontorkan ke kepala saya.

“Nah, jangan lupa juga, pihak asing, terutama para koboi, karateka dan kungfuis di satu sisi, dan para perayu dari jazirah tengah, timur maupun barat di sisi lain; tentu saja tidak mungkin membiarkan Indonesia, yang secara geo-politik sangat penting, berjalan di luar kendalinya! Jangan menyangka bahwa mereka tidak melakukan cara-cara yang sering vulgar untuk memaksakan kehendaknya. Coba anda baca buku Bob Woodward Plan of Attack, dimana dijelaskan bagaimana Amerika melakukan manuver-manuver (yang kadang sangat keji) kalau mereka mau menguasai suatu bangsa. Jangan pernah berpikir mereka tidak akan melakukannya disini; dimana banyak orang malah tidak perlu diintimidasi, tapi cukup dengan dibeli dan dia akan tunduk pada semua perintah!”

Wah, wah, wah, saya malah pusing! Semua bangunan berpikir yang selama ini saya bangun pelan-pelan, tiba-tiba buyar. Dan luar biasanya, omongan soal konspirasi malah membuat saya ikut terkepung atmofer dhoniy, kecurigaan. Ah, jangan-jangan kawan saya ini juga jadi bagian dari konspirasi lainnya?

Wa makaru wa makarallah, wallahul khairul makirin.

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda