Mutiara

Kesalehan Hari Kemarin

Ilustrasi foto : Mustafa Mehraji/Unsplash
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat


Hanya dalam seremoni nilai-nilai nonmateriil muncul. Bukan di lapangan.

Tamba ati iku lima sak wernane

Ingkang dingin maca Quran sak maknane

Kaping done salat wini lakonana

Kaping telu zikir bengi ingkang suwe

Kaping pate metengira luweana

Kaping lima alim saleh kumpulana

Salah sawiji sapakang bisa nglakoni

Insya Allah Ta’ala nyembadani

Tembang pitutur (pengajaran) ini  biasa didendangkan anak-anak sebelum  salat di langgar-langgar di Jawa. Lima resep batin itu dicuplik dan  dijawakan dari kitabnya Kifayah  al- Atqiya’ wa Minhaj al-Ashfiya’ (Kelengkapan Orang Takwa dan jalan Orang Suci), karangan Syekh Abu Bakr (Sayyid Bakri al-Makki) ibn Muhammad Syatha ad-Dimyathi

Dari  Salawat Tamba (Salawat Obat)  itu kita bisa menebak yang dimaksudkan dengan kesalehan. Yakni, seperti diungkapkan Masdar F. Mas’udi, kualitas batin tertentu yang dicapai melalui penghayatan simbol-simbol yang berdimensi ganda: di satu pihak penyangkalan tujuan-tujuan duniawi, di lain pihak peneguhan tujuan-tujuan spiritual. Membaca Quran, salat malam, zikir, adalah tujuan untuk meneguhkan tujuan ukhrawi, sedangkan  mengosongkan perut, alias puasa, serta duduk melingkar di sekitar orang saleh adalah penyangkalan tersebut.

Semua itu amalan ritual, atau yang disebut fikih ibadah mahdhah.

Sejak beberapa dasawarsa lalu, kita menyaksikan betapa maraknya kehidupan keagamaan di Tanah Air. Sejak dipenuhinya kantor-kantor dengan salat Jumat hingga meluapnya konten-konten dakwah keagamaan di  media-media sosial. Boleh dikatakan tidak seorang pun petinggi yang muslim di negeri ini yang tidak bergelar haji – dan sebagian besarnya berkali-kali pergi umroh. Adakah semua itu pertanda meningkatnya kesalehan, terutama di kalangan menengah muslim ke atas?

Soalnya, mungkin tidak setiap kita mampu menghayati dimensi sosial di balik simbol-siimbol kesalehan tersebut. Kegagalan itu hubungannya dengan salat, misalnya, disebut Tuhan sebagai “kelalaian” – yang diancam siksaan (Q. 107:4-5). Mungkin lantaran kita merasa sudah  menjadi saleh secara total dengan hanya menegakkan simbol atau menempuh ulah batin (kalau memang dilakukan) secara kurang-lebih terpisah dari dimensi lahir.

Di sini sengaja kita ketengahkan faktor eksternal, yaitu budaya, yang mungkin merupakan penyebab penting tidak berfungsinya simbol-simbol kesalehan itu. Arief Budiman pernah mengatakan  bahwa yang menguasai hajat hidup kita adalah budaya yang bersandar pada nilai-nilai materialisme, egoisme dan persaingan. Kebudayaan MEP. Demikian dia menyebut, sebenarnya milik dunia sekarang yang, meski bisa dipisahkan, merupakan satu kesatuan.  Kekayaan, misalnya, dianggap sebagai ukuran martabat. Orang selalu mempersoalkan what do you have, bukan what are you. Anda bisa seorang yang jujur, yang pandai, tapi orang selalu mengatakan: ya, tapi kok miskin? Tak berarti  kejujuran tidak penting. Tapi kaya sekaligus jujur lebih baik. Kalau jujur tapi miskin, sepertinya percuma.

Nilai kedua, egoisme, mengedepankan diri sendiri sebagai yang paling utama. Solidaritas tentu boleh, tapi saya yang lebih dulu.

Adapun yang ketiga mengutamakan prinsip “ yang kuat yang menang”, jika perlu dengan memperlemah orang lain. Kita selalu ingin meningkatkan daya saing, tapi hanya supaya bertambah kaya. Bersaing dalam kejujuran dianggap tidak berguna lantaran hanya sedikit menambah profit. Adam Smith mengatakan, serakah itu tidakapa-apa.   

Persaingan bukan hal buruk, tentu. Ungkapan Alquran  yang populer: fastabiqul khairat, bersaingalah dalam hal-hal baik. Lagi pula, tanpa kompetisi, mana mungkin hidup kita bergairah? Hanya, seperti diingatkan Arief Budiman, kalau persaingan itu berkombinasi materialisme dan egoisme, ia bisa menjadi sangat destruktif: menciptakan masyarakat berkelas yang orang kayanya makin menjerembabkan yang miskin ke bawah.

Berbagai khutbah, penataran, pidato-pidato, untuk menangkal segi-segi negatif budaya MEP masih berlangsung. Hasilnya seakan muspra, kalau bukan malah menciptakan masyarakat hipokrit.  Sebab hanya dalam pelbagai seremoni itulah nilai-nilai nonmaterial  seperti pengorbanan pribadi, sodilaritas sosial dan keadilan muncul. Bukan di lapangan. Juga dalam revolusi mental yang tempo hari didengung-dengungkan itu, agaknya.

Aspek-aspek runyam dari budaya MEP,   memang tidak bisa dikikis habis, tapi bisa dikurangi melalui proses demokratisasi, yang sayangnya sampai sekarang baru sampai tahap prosedur pemilihan umum, dan penegakan hukum.  Gus Dur, kalau tidk salah, pernah mengusulkan agar “pemelukan” ide-ide seperti hak asasi, keadilan, demokrasi, dimasukkan ke dalam faktor keberagamaan. Dengan begitu, meningkatnya gairah keberagamaan, seperti massifnya gerakan zakat, sedekah dan infak,  dan hijrah akhir-akhir ini, akan diikuti oleh tegaknya akhlak sosial.

Sebab, untuk menjadi muslim yang saleh, sekarang tidak cukup dengan lima resep batin dalam tembang Salawat  Tamba di atas. Meski tembang pitutur selalu mengundang kerinduan.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda