Cakrawala

Hikayat Kucing dan Tikus

Ini hikayat tentang para kucing yang pusing kepalanya. Jangan salah sangka, mereka pusing bukan karena tidak ada lagi tikus; tapi sebaliknya, terlalu banyak tikus hingga sulit menentukan: mana tikus yang boleh dimangsa dan mana tikus yang harus dihindari pengejarannya.

Maka merebaklah suara: telah terjadi tebang pilih. Cuma tikus dengan ciri, kriteria dan klasifikasi tertentulah yang boleh menjadi bulan-bulanan. Itupun sebenarnya sekedar demi citra bahwa para kucing tampak sudah bekerja; atau -kalau meminjam istilah pertelevisian- agar rating mereka tak jeblok saja. Sementara para tikus lainnya, tetap bisa melenggang kemana saja tanpa harus takut jadi mangsa.

Sudah pasti, ini adalah versi tafsir yang berkembang di kalangan warga rumah yang kecewa. Bayangkan, meski sudah punya Komisi Pemburu Ketikusan atau KPK, yang -sesuai namanya- memang secara khusus ditugasi untuk mengejar segala hal yang kait-mengait dengan urusan tikus, dimanapun itu ditemukan; kerja mereka juga masih dianggap jauh dari sepatutnya.

Buktinya, wabah tikus tak menunjukan tanda akan segera mereda. Bahkan sebaliknya, yang menonjol ke permukaan justru kegilaan ulah tikus yang semakin hari semakin berani mengacak-acak tiap jengkal rumah.

Tapi, menurut Kepala rombongan kucing, soalnya jadi berbeda. Sederhana saja, perut kucing terbatas kapasitasnya. Lebih dari satu tikus sehari, pasti akan membuat sakit pencernaannya.

“Apa kalian sudah gila? Jumlah kami sedikit saja, sementara rumah ini jutaan tikusnya; apa kalian pikir kami bisa menghabisinya dengan satu, dua, tiga kali gigitan saja? Tolong, kalau bicara yang jelas logikanya!” begitu Sang Kepala Kucing selalu bicara.

Sudah pasti tak ada yang berani membantah kebenarannya. Dan bagi kebanyakan warga rumah yang jatah makanannya selalu habis diganyang rombongan tikus, kebenaran itulah masalah utamanya.

“Kalau perut cuma mampu mencerna satu tikus sehari, itu tak apa. Bahkan satu tikus seminggu pun juga bukan soal utama. Pertanyaan kami cuma satu saja: kenapa para tikus besar, penghulu para tikus itu, yang sekali mengerat bisa menghabiskan jatah kami selama tahunan, kok malah bebas berkeliaran! Beberapa malah bisa dengan terang-terangan melenggang diatas permadani merah yang disiapkan para abdi kamar Bapak Kepala!”

“Jangan ngawur kalau bicara!” geram Sang Kepala Kucing yang merasa selalu disudutkan. “Semua harus jelas faktanya! Pencernaan bukan masalah kami satu-satunya! Yang kalian sering lupakan, gigi kami juga masalah yang tak kurang seriusnya. Meski macam-macam penguat sudah kami pasang dan setiap pagi kami tak pernah lupa menggosok agar tak menyusut keruncingannya, tapi dari sononya gigi kami memang kecil-kecil saja. Dengan gigi sekecil ini jangan suruh kami menerkam tikus-tikus raksasa, wong sekadar menggigit ekornya saja sudah cukup membuat gigi kami lepas semua. Belum lagi bila dikibaskan, bukan cuma gigi, tapi tubuh kami yang bakal berantakan tak karuan bentuknya! Jangan juga dilupakan, kini gigi kami sudah pula mengalami perombakan, diganti gigi palsu yang gampang lepas saat mengerat makanan!”

Inilah soal yang sering membuat warga rumah terpaksa kembali agak sulit tidurnya. Harapan mereka bahwa tikus-tikus akan sirna dari rumah makin terasa jauh saja. Tak bisa disalahkan bila -sebagai orang yang kenyang diganyang persoalan- mereka lantas menduga-duga: ada yang tak jujur dengan janji pemberantasan tikus yang disuarakan dimana-mana.

Kisah para kucing sebenarnya cuma modus perantara saja. Ada target-target tersembunyi yang sengaja tak ditampilkan ke muka. Dongeng-dongeng perburuan tikus oleh para kucing cuma konsumsi politik saja.

Atau, kalau dibahasakan dengan lebih santun, jangan-jangan ini semacam kesalahpahaman yang disengaja terhadap pengertian fardhu kifayah. Dalam penerapannya, tindakan menerkam satu atau beberapa tikus, lantas harus dimaknai sebagai sama dengan menerkam semua tikus juga. Begitulah kesimpulan sementara dari warga yang makin kecewa.

Apalagi dalam kenyataannya, warga rumah sering melihat betapa banyak kucing yang dengan sadar memamerkan satu dua tangkapannya kemana-mana, sekedar agar citra ke-kucing-annya terjaga. Sementara di sisi lain, dia ternyata tikus yang lahap juga. Tikus yang selalu siap mengerat daging warga yang berperkara dengannya.

Tapi sebenarnya ini soal yang berbeda, soal yang jawabannya pasti tak sederhana. Sebagaimana sudah dimaklumi bersama, relasi kucing dan tikus tidak berjalan satu arah saja. Lamanya interaksi, sudah pasti menyebabkan hubungan mereka berwarna-warna. Seperti siang dan malam, laki dan perempuan; kecuali bermusuhan, mereka juga bisa berkawan atau -kalau perlu- berganti peran.

Bahkan, dalam khasanah permainan, sejak lama sudah pula dikenal istilah kucing-kucingan. Dalam pengertian manapun -baik konotatif maupun denotatif- permainan ini selalu melibatkan kucing jadi-jadian dan bukan kucing sungguhan.

Karena ini soal yang sejak awal bisa diperkirakan, warga rumah sebenarnya tidak perlu heran bila ternyata para tikus paling suka memainkan permainan ini. Sudah pasti para tikus paling suka memainkan permainan ini secara harfiah: yakni dengan menjadi kucing-kucingan, menjadi kucing jadi-jadian.

Salah satu hal yang menyebabkan mereka begitu gandrung memainkan permainan ini adalah kenyataan, bahwa dengan menjelma jadi kucing-kucingan, maka terbukalah kesempatan yang luar biasa luas bagi mereka untuk mempertunjukkan kefasihannya berkhotbah soal perlunya pembersihan rumah dari mafia pertikusan.

Disamping itu, dengan menjelma jadi kucing-kucingan terbuka pula kesempatan untuk memburu tikus yang dianggap jadi saingan atau -paling sial- yang dianggap kurang lihai mengelola ketikusannya. Keuntungan lainnya, dengan menjelma kucing-kucingan mereka bisa melindungi diri dan kelompoknya dari amukan warga yang jatahnya jadi kenduri mereka.

Yang tak boleh dilupakan, keuntungan terbesar dari permainan ini adalah saat mereka bisa dengan ringan memerintah para kucing sungguhan terkait tikus mana yang harus segera dimakan. Dan, yang lebih gila lagi, kalau perlu para tikus bisa menjelma jadi kucing-kucingan untuk menyerang kucing sungguhan yang dianggap terlalu lancang mengaduk-aduk rahasia mereka.

Jujur saja, rumitnya persoalan ini, membuat warga rumah pada akhirnya benar-benar kebingungan; banyak diantara mereka bahkan sudah memasuki tahap putus asa. Kompleksnya hubungan kucing dan tikus, membuat mereka sulit membedakan: mana kucing mana tikus, mana kucing sungguhan mana kucing jadi-jadian. Mana kucing makan tikus, mana tikus makan tikus dan mana tikus makan kucing.

Dan para kucing sungguhan, yang pasti sulit dilihat dengan mata telanjang, mestinya sekarang malah akan tampak begitu tolol dan kurang makan. Keleleran di comberan, menunggu kalau-kalau ada tikus got salah jalan. Kalau perlu dituduh dan dirisak sebagai pembuat keonaran. Jadi, tepat seperti bunyi pepatah lama: ini memang hikayat tentang para kucing yang terpaksa mati di lumbung tikus.

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda