Tafsir

Tuhan, Perkenankanlah (Bagian 4)

Written by Panji Masyarakat

Sesudah bacaan Fatihah Imam sendirian,  bangkit suara gemuruh dari seluruh jamaah —  aamiin —  yang membuat masjid bagai bergelombang.

Sementara itu diungkapkan Rasyid Ridha, penulis Tafsir Al-Manar, hadis-hadis mengenai pensyariatan amin berjumlah tak kurang dari 17 buah, dan semuanya sahih. Rasyid kemudian mengutip Al-Hafizh Ibn Hajar yang menukil penuturan Al-Mahdi dalam Al- Bahr, yang menyatakan bahwa Ahli Bait (yang mereka maksudkan kaum Syiah) semuanya menganggap bacaan amin bid’ah—sementara ketetapan mengenai amin itu sudah diketahui Ali r.a., baik sebagai amalan maupun sebagai periwayatan beliau dari Nabi s.a.w., bahkan dalam kitab-kitab Ahli Bait sendiri.

Pengarang Al-Bahr mengambil dalil pengharaman amin itu dengan sabda Nabi riwayat Mu’awiyah ibn Al-Hakam As-Salmi: “Ini salat kita, tidak cocok terdapat di dalamnya apa saja dari omongan orang.” Tak diragukan lagi, hadis-hadis yang mensyariatkan amin bersifat khusus, sementara hadis yang ini punya kandungan umum (tentang segala jenis omongan). Sedangkan yang dimaksud dalam hadis ini memang omong-omong (bukan pengucapan lafal seperti amin). Itu ditunjukkan oleh sebab musabab keluarnya hadis. Demikian Al-Hafizh.

Dan sebab musabab itu bersangkutan dengan perbuatan Mu’awiyah ibn Al-Hakam As-Salmi ketika ikut salat berjamaah bersama Nabi. Ketika itu, Mu’awiyah mendengar orang bersin—lalu mendoakannya. Para jamaah lalu memandanginya — dan itu membuat ia menyahut:  “Alamak, kenapa kalian melototi saya?”

Baiklah. Bagi jumhur ulama, seperti dituliskan Ibn Hajar, perintah Nabi untuk pengucapan amin itu mengimplikasikan hukum anjuran (nadb). Kecuali bagi sebagian, seperti mazhab Zhahiri, yang mewajibkan amin untuk tiap orang yang salat. Adapun lahirnya, amin itu hanya wajib untuk makmum—itu pun bila imam lebih dulu mengucapkannya. Sedangkan bagi imam sendiri, dan yang salat munfarid (sendirian), ia bersifat anjuran—meskipun, bila mengingat sabda “Bila imam membaca amin, ucapkanlah amin”, selayaknya imam memang membaca amin sesudah menyelesaikan Fatihah, demi mengikuti sunnah Nabi. (Rasyid Ridha, I:98, 99, 100).

Sementara itu sebagian linguis terpandang melihat diletakkannya amin di penutup Fatihah dimaksudkan untuk dilagukan—sesudah pembacaan surah yang mengisyaratkan tujuan-tujuan Al-Kitabul Karim. Mereka kuatkan pendapat mereka dengan mengemukakan bahwa mazmur-mazmur (dalam Perjanjian Lama;pen.) diakhiri dengan ucapan sola (suulaah), yang juga untuk dinyanyikan. (Maraghi, I:39). Memang menjadi indah sekali: sesudah bacaan solo sang imam untuk surah yang begitu penting, bangkit suara gemuruh dari seluruh jamaah yang serentak dan khusyuk: aamiin, yang, sebagaimana disebut dalam salah satu hadis di muka, membuat masjid bagai bergelombang. Wallahul Muaffiq.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panjimas, 9-22 Januari 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda