Mutiara

Di Balik Legenda Selimut Putih

Written by A.Suryana Sudrajat

Hampir semua lagu ciptaan Ahmad Baqi merupakan refleksi atas sebuah kejadian. Dari1000 lagu yang ia ciptakan, sayang hanya 100 yang direkam. Mengapa ia mendapat gelar doktor kehormatan dari negeri jiran?

Masih ingat atau hafal Selimut Putih? Itu lagu yang tempo hari dipopulerkan kembali oleh Fadly Padi. Sejatinya ini lagu lawas. Penciptanya mendiang Haji Ahmad Baqi dari Medan, Sumatera Utara. Namun, lirik lagu ini, yang kini banyak beredar di internet itu, seolah digubah vokalis band asal Surabaya itu. Kita kutipkan potongan liriknya:

Bila Izrail datang memanggil//Jasad terbujur di pembaringan//Bila Izrail datang memanggil//Jasad terbujur di pembaringan

Seluruh tubuh akan menggigil//Sekujur badan kan kedinginan//Seluruh tubuh akan menggigil//Sekujur badan kan kedinginan

Tak ada lagi gunanya harta//Kawan karib sanak saudara//Tak ada lagi gunanya harta//Kawan karib sanak saudara

Ahmad Baqi, kelahiran Medan 22 Oktober 1919, adalah komponis musik irama padang pasir. Pendiri Orkes Musik El-Surayya ini bungsu dari pasangan H. Abdul Majid dan Hj. Halimah. Ayahnya, mufti Kesultanan Deli, mengarahkan Ahmad Baqi menjadi ulama, dan tidak memperkenankannya menjadi pemusik. Karena itu ia berlatih secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari ayahnya. Jika telah selesai berlatih, ia akan meyimpan alat musiknya di sebuah pohon besar di belakang rumahnya. Ia mendirikan orkes musik setelah mendapat dukungan salah seorang sahabatnya yang merupakan ulama dan qari internasional Sumatera Utara, H. Azra’i Abdurrauf. Sebelum total berkiprah di dunia musik, Ahmad Baqi pernah menjadi pegawai PLN cabang Medan pada 1958. Namun, pada 1975 ia memutuskan untuk pensiun dini dari jabatannya sebagai kepala perbekalan di perusahaan plat merah itu.

Ahmad Baqi yang menguasai bahasa Arab, Belanda, India, dan Inggris, ini mahir memainkan berbagai alat musik yang dipelajarinya secara otodidak. Alat musik pertama yang ia kuasai adalah biola. El-Surayya yang didirikan tahun 1970 semula bernama Qasidah Mesir Fuqaha yang berdiri pada 1959. Vokalisnya Nur Asiah Jamil. Qadidah Mesir Fuqaha kali pertama tampil membawakan lagu berjudul Pusara Kasih di RRI (Radio Republik Indonesia). Setelah berganti nama menjadi El-Surayya orkes ini tidak hanya terkenal di Kota Medan tapi juga sampai ke luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Setelah mengubah nama menjadi El-Surayya, yang saat itu terdiri dari 22 personel, posisi Nur Asiah Jamil sebagai penyanyi digantikan oleh Atikah Rahman hingga tahun 1975. Kemudian Atikah Rahman pun digantikan oleh Asmidar Darwis yang disebut-sebut sebagai generasi ketiga grup ini selama tujuh tahun, yakni sejak tahun 1975-1982. Saat itu orkes musik El-Surayya berada pada puncaknya ditambah dengan beredarnya lagu Selimut Putih. Posisi Asmidar Darwis sebagai penyanyi digantikan oleh Umi Kalsum di tahun 1982.

El-Surayya memiliki ciri khas dibandingkan orkes musik lainnya. Ciri khas tersebut terdapat pada hawa seni baca Alquran dalam pembawaan lagu-lagunya, seperti Sikkah, Soba, Rast, Nahwan, Hijaz, dan lain-lain. Ahmad Baqi tidak segan-segan menguji kemampuan membaca Alquran bagi siapapun yang ingin bergabung dengan El-Surayya. Dulu orkes ini punya jadwal rutin di RRI Nusantara 3 Medan setiap Jumat malam.

Hampir seluruh lagu yang ia ciptakan merupakan refleksi atas suatu kejadian. Salah satunya, ketika terjadi kecelakaan pesawat haji yang berisi jamaah haji Indonesia asal Jawa Timur dan Kalimantan pada tanggal 12 Desember 1974, Ahmad Baqi melahirkan lagu Panggilan Ka’bah sebagai ungkapan kesedihan dan doa Ahmad Baqi saat itu. Konon ada 1.000 lagu ciptaan Ahmad Baqi. Nmun hanya 100 lagu saja yang akhirnya berhasil direkam dan diedarkan. Di antaranya Selimut Putih tadi, Pusara Kasih, Cita-cita, Cintaku, Sadarlah, Hawa dan Nafsu, Petuah Guru, Fatwa Orang Tua, Mohon dan Pinta, Mohon dan Doa, Takdir, dan lain-lain. Lagu-lagu yang diciptakannya semua bernuansa religi.

Selain itu, Ahmad Baqi juga menciptakan hymne lembaga pendidikan seperti Mars Pesantren Dinul Hasanah untuk pesantren di Langkat dan Hymne Universitas Islam Sumatera Utara dengan judul Kampus Munawarah yang hingga kini masih digunakan oleh keduanya.

Tak jarang pula lagu-lagu ciptaan Ahmad Baqi dicatut orang lain. Hal itu tidak menjadi masalah bagi penerusnya saat ini yang tergabung dalam orkes Fathiya El-Surayya, sebab Ahmad Baqi berpesan sebelum wafat untuk tidak menuntut siapa pun yang membawakan lagunya, agar menjadi amal baiknya di akhirat.

Tahun 1978 Ahmad Baqi mendapat gelar Doktor Honoris Causa di bidang musik dari Malaysia. Gelar itu diberikan oleh Datuk Asri yang menjabat Menteri Besar Malaysia, setelah lagu Selimut Putih (1977) yang bercerita tentang kematian itu membuat masyarakat Malaysia terpana. Tahun 1995, Pemerintah Negara Bagian Sabah (Malaysia) memberinya gelar ASDK (Ahli Setia Darjah Kota Kinabalu). Dan tahun 1998, ia mendapat penghargaan sebagai Pembina Seni dan Budaya Sumatera Utara yang diberikan oleh H. Raja Inal Siregar, Gubernur Sumatera Utara saat itu. Sayang, sejak 1995, seiring bertambah tuanya H. Ahmad Baqi, Orkes Musik El-Surayya justru mengalami kemunduran.

Ahmad Baqi yang gemar membaca roman karangan Buya Hamka dan pujangga Mesir Ahmad Syauqi ini wafat pada 21 Februari 1999. Setelah ia meninggal, tidak ada lagi yang menulis lagu untuk El-Surayya. Penerusnya hanya membawakan ulang lagu-lagu yang pernah ia ciptakan. Lagu terakhir yang ia ciptakan adalah Doa Ibu.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768