Cakrawala

Pasar Malam Kebencian

Di Jawa ada kepercayaan: jangan sampai orang gila masuk ke pasar; karena begitu masuk ke pasar, gilanya akan menetap, tak bisa lagi direhabilitasi.

Di luar kepercayaan ini, ada juga ungkapan: jangan percaya berita apa pun yang berkembang di dan dari pasar; karena berita semacam ini hampir bisa dipastikan akan termasuk salah satu di antara dua kategori: gosip atau pembesaran yang sangat berlebih. Perumpamaan yang acap dipakai: kalau ada jarum jatuh, maka yang pada akhirnya beredar luas: ada palu godam jatuh. Ada mercon meletus, yang beredar: ada bom meledak. Pokoknya semacam itulah.

 Saya tidak tahu, apakah kepercayaan dan ungkapan ini muncul berdasar pengalaman faktual yang berulang, atau sekadar sebuah ungkapan sinis kalangan bangsawan terhadap perilaku orang di pasar.

Meski keberadaannya sangat dibutuhkan dan bahkan dijadikan sebagai salah satu indikator pertumbuhan; tapi nasib pasar dan penghuninya memang tidak mengenakkan, karena sering diidentikkan dengan hal-hal negatif, antara lain ya itu tadi: ketidak-jujuran dan kebiasaan melebih-lebihkan sesuatu.

Dua kebiasaan ini memang terlanjur menjadi stereotipe para penghuni pasar, yaitu para pedagang. Bahkan sering dianggap sebagai sifat intrinsik mereka berkait dengan barang dagangan yang mereka tawarkan. Tentu saja ini dianggap wajar, nalarnya: mereka butuh keuntungan, dan keuntungan berarti adalah nilai lebih dari barang yang ditawarkan.

Jadi, tak mengherankan bila mereka selalu terdorong untuk melebih-lebihkan dagangannya, sambil kalau perlu mengurang-ngurangkan (kalau bukan mengecilkan) dagangan para pesaingnya. Mungkin faktor kebiasaan inilah yang melatari lahirnya ungkapan: jangan percaya berita apa pun yang berkembang di dan dari pasar.

Di sisi lain, ungkapan ini juga sekaligus menunjukkan ’kehebatan’ pasar sebagai media amplifikasi sebuah pesan. Katakanlah begitu sebuah berita, pendapat atau apa pun masuk ke lingkungan pasar; maka potensinya untuk tak terkendali dan beredar kemana-mana menjadi suatu keniscayaan.

Ada satu pengalaman menarik terkait hal ini yang terjadi sekitar 30an tahun lampau. Ceritanya: ada seorang tetangga yang masuk kategori hidung belang, suatu waktu mencoba mendekati perempuan yang kebetulan tinggal di dekat kuburan. Dalam proses pendekatan ini, suatu malam tetangga saya mengajak perempuan tersebut untuk makan malam di sebuah restoran.

Peristiwanya biasa saja: mereka berbincang, minum di salah satu pojok restoran dan setelah dirasa cukup lantas pulang. Tapi oleh beberapa kawannya, yang entah karena iri, cemburu atau sebab lainnya; peristiwa yang sebenarnya biasa saja ini lantas dikembangkan sedemikian rupa menjadi sesuatu yang tidak biasa: sebuah fragmen horor.

Dalam cerita yang mereka bangun, digambarkan bahwa si tetangga mulai heran karena di pojok restoran si perempuan (yang dalam cerita ini seolah baru dikenalnya) hanya diam membatu ketika diajak bicara. Digambarkan bahwa dia hanya senyum atau tertawa kecil di beberapa kesempatan.

Dan, untuk mulai membangun situasi horor: digambarkan bahwa ketika diminta meminum sirup di gelas yang sudah tersaji, si perempuan meminumnya sampai tuntas; tapi begitu diletakkan ke meja, gelas kembali penuh sirup seperti sediakala. Ini konon berulang kali, tapi tetangga yang digambarkan sedang mabuk asmara, tak sepenuhnya sadar akan apa yang sebenarnya terjadi.

 Puncak horor dibangun seperti ini: dengan sepeda motor si tetangga mengantar perempuan tersebut pulang dari restoran. Yang aneh, begitu ceritanya, semakin dekat dengan lokasi yang ditunjuk perempuan tersebut sebagai rumahnya, aroma wangi makin menyengat. Dan betul saja seperti gampang ditebak: rumah yang ditunjuk oleh perempuan tersebut ternyata adalah sebuah kuburan.

Entah bagaimana, cerita guyon yang bermula dari mulut ke mulut ini akhirnya sampai juga ke pasar. Dan dari sana, cerita beredar kemana-mana, tentu saja dengan tambahan-tambahan yang semakin absurd dan tidak jelas asal-usulnya.

Kota geger. Koran lokal beberapa kali memberitakannya. Dan akhirnya, karena dianggap mengganggu ketertiban dan mengancam ketentraman warga, pihak militer (sekadar catatan, untuk hal-hal seperti ini, waktu itu pihak militerlah yang bertanggung-jawab menyelesaikannya) memanggil si tetangga untuk dimintai keterangan. Cerita horor ini pun lantas pelan-pelan hilang dan dilupakan orang.

Cerita inilah yang tiba-tiba terlintas di ingatan saya saat membaca keributan yang tercipta terkait virus corona yang berasal dari Wuhan, China. Ada yang karena marah, terkait dengan perlakukan pemerintah China terhadap muslim Uyghur, lantas menyebut ini sebagai bentuk pembalasan dari Allah, sebuah adzab.

Tak masalah, ini pendapat subyektif; toh Allah yang lebih tahu yang sebenarnya. Dari dulu, saya juga sering mendengar pendapat yang hampir serupa dari kyai-kyai sepuh ketika bicara tentang beberapa musibah besar. Jadi, ini bukan pendapat yang aneh juga.

Ini baru jadi masalah ketika orang yang punya pendapat begini lantas menjadi terlalu bersemangat. Sebagian mereka menyebar foto dan video yang sebagian ternyata bukan hanya tidak berasal dari Wuhan atau China, tapi juga sama sekali tak berhubungan dengan dampak virus corona.

Di pihak lain, entah oleh alasan apa, yang sebaiknya dibuat tidak jelas saja; ada pihak yang tiba-tiba merasa perlu menjadi pembela utama pemerintah China lantas menyebarkan informasi, foto dan video tentang tindakan pemerintah China terkait merebaknya virus corona; yang kemudian ternyata juga hoax, alias sama sekali tidak berhubungan dengan masalah yang terjadi di Wuhan dan daerah China lain.

Begitu bersemangatnya pihak ini sehingga ada yang tak ragu menyebut bahwa virus ini berasal dari Arab Saudi di tahun 2012. Lho?

Bahkan, lebih jauh narasi yang dikembangkan berbunyi: ummat Islam menjadi bodoh karena menyebut musibah ini sebagai adzab. Dan ini langsung dibandingkan dengan kesigapan pemerintah China menanganinya. Yang aneh, narasi ini dibangun berdasar sebuah artikel di The Guardian, yang jelas menyebut varian virus baru tersebut ditemukan oleh dokter muslim dari Mesir. Jadi?

Sudah pasti, ini semua sama sekali tidak membantu kita untuk lebih tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di Wuhan, apalagi China adalah negara yang tertutup; dimana keluar masuknya informasi sangat ketat dibatasi.

Mungkin benar kata orang-orang bijak dari dahulu: kebencian membunuh akal sehat. Inilah virus yang jauh lebih berbahaya dari virus corona.

Kehilangan akal sehat artinya ’gila’. Dan ketika orang-orang ’gila’ ini masuk pasar, maka kalau kita pakai kepercayaan di Jawa tadi: sulit direhabilitasi. Pasar itu kini mungkin bernama sosmed, sosial media.

Budayawan,tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendirim Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda