Aktualita

NU 94 Tahun: Mengenang Hadratusy Syekh

Written by A.Suryana Sudrajat

Hari ini NU berulangtahun ke 94 berdasarkan penanggalan masehi. Ormas Islam terbesar di dunia ini tentu tidak bisa dipisahkan dari sosok KH Hasyim Asy’ari, yang bersama sejumlah ulama mendirikan organisasi kaum tradisi ini pada 1926.

Hadratusy Syekh Kiai Haji Hasyim Asy’ari tentu bukan nama yang hanya masyhur di kalangan warga nahdliyin. Nama pendiri Pesantren Tebuireng dam NU (Nahdlatul Ulama) serta Pahlawan Nasional ini banyak digunakan untuk nama jalan di kota-kota di Indonesia. Termasuk di Ibu Kota Jakarta. Kisah perjuangannya juga pernah diangkat ke film layar lebar. Judulnya “Sang Kiai”, yang dobatkan sebagai terbaik pada FFI 2013. Hadlratusy Syaikh merupakan sebutan kehormatan dari kalangan warga NU karena ia merupakan kiai yang mumpuni dalam berbagai bidang keilmuan Islam, mulai fikih, tafsir, hadis, tasawuf, tauhid, dst. dan telah mendidik para ulama di Nusantara sejak akhir abad ke-19, terutama di Jawa.

Muhammad Hasyim lahir di Jombang, Jawa Timur, 14 Februari 1871. Ayahnya, K.H. Ahmad Asy’ari adalah pendiri pesantren Keras, dan ibunya bernama Halimah. Berdasarkan garis keturunan ayah, kakeknya, K.H. Usman, adalah pengasuh pesantren Gedang, masih di wilayah Jombang. Pesantren Tambak Beras di Barat kota Jombang didirikan oleh buyutnya, K.H. Sihah. Dari silsilah garis keturunan ibu, ia memiliki garis keturunan dari Sultan Pajang, Jaka Tingkir yang mempunyai keturunan langsung ke raja Majapahit, Raja Brawijaya V (Lembupeteng). Secara singkat silsilah itu sebagai berikut: Muhammad Hasyim Asy’ari bin Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sambo bin Pengeran Benowo bin Jaka Tingkir (Mas Karebet) bin Prabu Brawijaya V (Lembupeteng).

Hasyim Asy’ari menimba ilmu ke berbagai pondok pesantren, antara lain pesantren Wonokoyo di Probolinggo, pesantren Trenggilis di Semarang, pesantren Kademangan di Bangkalan, dan Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo. Ia juga belajar kepada sejumlah ulama di Mekah, baik dari Nusantara maupun lainnya. Di antara para guru Hasyim ketika di Mekah antara lain Syekh Syuaib bin Abdurrahman, Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi. Hasyim mendapatkan ijazah langsung dari Syaikh Mahfudz untuk mengajar Shahih Bukhari.Selain itu, ia belajar tasawuf dengan mendalami Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah dari Syaikh Nawawi al-Bantani dari Syekh Khatib Sambas.

Pulang dari Mekah, Kiai Hasyim bermukim di Kediri. Tak lama kemudian, ia mengajar di pesantren milik ayahnya, pesantren Nggedang. Setelah dirasa cukup, pada tahun 1899 Hasyim mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng yang terletak 2 km dari pesantren milik ayahnya. Di pesantren barunya itu, lingkungan pesantren dikenal dengan pencurian, perampokan, mabuk-mabukan, main perempuan, berjudi, dan atribut lainnya yang tidak pantas disandangnya. Karena itu, kehadiran Hasyim dengan pesantrennya itu sudah menjadi bagian dari dakwah Islam untuk wilayah tersebut.

Kegiatan dakwah Hasyim semakin populer seantero Jawa dan luar Jawa, terutama pengajian hadis Shahih Bukhari setiap bulan Ramadhan. Panggilan Hadratusy Syaikh untuk Hasyim juga begitu masyhur. Pada tahun 1926, bersama K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan beberapa ulama lain dari Jawa Timur Hadratusy Syaikh mendirikan Jamiah Nahdlatul Ulama (NU). Kelahiran NU sendiri melalui proses yang cukup panjang, baik secara politis maupun kultural keagamaan. Sebelum berdirinya ormas NU yang menampung aspirasi dari kalangan Islam pesantren, Hadratusy Syekh melakukan istikharah. Lewat salat itulahia mempunyai keyakinan dan kemantapan untuk segera merealisir terbentuknya institusi yang menghimpun kaum ulama pesantren. Selain istikharah tersebut, dukungan terbesar datang dari sang guru, Syaikhona Kiai Kholil Bangkalan.

Dakwah melalui NU dan pesantren dari Hadratusy Syaikh sudah sangat terkenal, baik pada masa perjuangan untuk merdeka maupun kemerdekaan, seperti didokumentasikan melalui film layar lebar, “Sang Kiai”. Pada tanggal 22 Oktober 1945 perang dengan sekutu mulai terjadi di Surabaya. Hadratusy Syaikh menyakini bahwa mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 adalah wajib hukumnya bagi umat Islam. Karena itu, Kiai Hasyim bersama ulama NU mengeluarkan fatwa jihad guna mempertahankan keutuhan Republik Indonesia. Dalam sebuah pertemuan ulama yang digelar pada awal November 1945, fatwa itu disepakati secara bulat. Bahkan, para ulama mempertegas lagi bahwa pergi haji dengan menggunakan kapal Belanda, hukumnya terlarang.

Hadratusy Syekh juga merupakan ulama yang produktif. Sekurangnya terdapat 15 karya yang ditulisnya, termasuk tasawuf. Menurut dia, untuk menjadi seorang sufi, ada persyaratan yang cukup ketat. Sedangkan untuk guru sufi, persyaratan tersebut semakin berat. Inilah yang membedakan Kiai Hasyim dengan para guru tarekat kebanyakan. Baginya, seorang guru sufi adalah manusia biasa. Karena itu, sufi tak perlu disanjung-sanjung sampai ke ujung langit, seakan-akan suci tanpa dosa. Sanjungan atau penghormatan yang keterlaluan dalam bentuk antara lain pemujaan terhadap para guru sufi, ditentang oleh Hadratusy Syekh. Itulah sebabnya ia tak membolehkan anak-cucunya untuk mengadakan haul (peringatan tahunan kematian) atas dirinya.

Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947 di Jombang. Makam kakek Gus Dur ini di kompleks pesantren Tebuireng selalu ramai dikunjungi para peziarah. Begitu pula dengan haulnya yang selalu dipadati ribuan orang

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda