Mutiara

Guru Kaum Pembaru dari Ranah Minang

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Tahun 1926 Abdullah Ahmad, bersama Abdul Karim Mrullah, mendapat
gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas AI-Azhar. Keduanya dianggap berjasa dan memberikan kontribusi bagi pembaruan pemikiran Islam dan masyarakat Islam di Tanah Air khususnya Minangkabau.

Syekh Abdullah Ahmad adalah ulama pembaru, penggagas majalah Al-Munir,  dan pendiri PGAI (Pendidikan Guru Agama Islam) serta Sekolah Adabiah yang masih berdiri sampai sekarang. Karena keahliannya di bidang keagamaan dan ketokohannya sebagai bapak jurnalistik ia diberi gelar Inyiak Abdulah atau Inyiak Munir

Lahir di Padang Panjang pada 1878, Abdullah berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya H. Ahmad seorang ulama Minangkabau yang juga mengajar di Pengajian Alquran di Padang Panjang. Begitula pamannya Syekh Abdul Halim alias Syekh Gapuak, yang juga pendiri Masjid Ganting. Ayah dan Paman mendorong dan membimbing Abdullah untuk menjadi seorang ulama.

Abdullah Ahmad pertama kali memperoleh pendidikan agama dari ayahnya. Ia melanjutkan ke Sekolah Melayu, yang merupakan sekolah kelas dua di Padang Panjang. Ia kemudian dikirim orangtuanya ke Mekah untuk memperdalam agama di samping menunaikan ibadah haji. Di sana ia belajar sampai 1899 selama empat tahun.

Pulang dari Tanah Suci, Abdullah mengajar di Surau Jembatan Besi, Padang Panjang. Untuk mengintensifkan pelaksanaan belajar mengajar, dia menjadikan sistem pengajaran surau yang mulanya memakai sistem halaqah menjadi sistem madrasah. Materi pelajaran yang dipelajari santri lebih ditekankan pada ilmu alat berupa kemampuan untuk menguasai bahasa Arab dan cabang-cabangnya.

Pada tahun 1926, Syekh Abdullah Ahmad bersama dengan Syekh Abdul Karim Amarullah pergi ke Mesir untuk menghadiri Kongres Islam Sedunia. Selama di Mesir, kedua ulama itu mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas AI-Azhar. Keduanya dianggap berjasa dan memberikan kontribusi bagi pembaruan pemikiran Islam dan masyarakat Islam di tanah air khususnya Minangkabau.

Bersama kaum mudo Minangkabau, Abdullah Ahmad melancarkan gerakan pemurnian ajaran Islam, yang tentangan dari kaum tuo antara lain Syekh Khatib Muhammad Ali di Padang, Syekh Sa’ad Mungka di Payakumbuh, dan Syekh Bayang Hasan Basri redaktur majalah Al-Mizan di Maninjau. Namun perlawanan itu, disambut oleh Inyiak Abdullah Ahmad dengan tenang, dengan sabar ia memberikan penjelasan dan pemahaman yang diyakininya kepada mereka.

Abdullah Ahmad banyak menuangkan gagasan dan pengalamannya lewat tulisan. Karya-karya Abdullah banyak dimuat dalam surat kabar dan majalah Islam, Al-Munir, Al-Akhbar, Al-Ittifaq wal Iftiraq. Karya-karya Abdullah Ahmad dalam bentuk buku di antaranya Pembuka Pintoe ke Soerga; Pemimpin ke Soerga; Tadzkiratul Hoedjdjaj; Sulamul Usul; dan Titian ke Soerga Kitab Oetsoeloeddin. Ia juga menulis   Syair Peroekoenan, yang bernuansa relijius edukatif, untuk membangun semangat dan menggerakan jiwa-jiwa masyarakat Minangkabau.

Pada 1906 Abdullah Ahmad pindah ke Padang untuk menggantikan pamannya Syekh Gapouk, sebagai guru agama di sekolah umum. Di sana ia juga menyelenggarakan pengajian, tablig, dan pertemuan yang mengkaji dan membahas tentang masalah agama. Pada 1909 ia mendirikan Jamaah Adabiah yang kemudian bertransformasi menjadi Sekolah Adabiah dengan bantuan para pedagang. Sekolah Adabiah sebagai simbol kebangkitan ilmu pengetahuan dalam kebangkitan peradaban Islam Minangkabau. Sekolah Adabiah yang ia bangun menggunakan sistem klasikal, di mana di sekolah tersebut dilengkapi bangku, meja, papan tulis, seragam sekolah, kurikulum yang terstandar, ijazah, dan visi lulusannya yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Ia juga mendirikan rumah pemeliharaan anak yatim piatu dan kaum miskin duafa.

Di samping berdakwah melalui ceramah dan dunia pendidikan, Abdullah Ahmad berdakwah melalui pers. Ia aktif sebagai wartawan meliput berita, menulis dan mengarang beragam informasi dan peristiwa. Keahliannya di bidang pers dan jurnalistik dapat dibanggakan, tidak saja ukuran Minangkabau tetapi diakui di Indonesia. Sehingga orang menyebutnya bapak Jurnalistik. Puncaknya, pada 1 April 1911 ia mendirikan  Al-Munir, majalah pertama dan terbaru dalam sejarah persuratkabaran di Minangkabau. Dari sini, dia kemudian dikenal dengan panggilan “Abdullah Al-Munir”. Majalah Al-Munir terbit di Padang sampai tahun 1916. Dalam mengelola Al-Munir, Abdullah Ahmad dibantu oleh teman-teman seperjuangannya sejak bersama-sama belajar di Mekah, yaitu H. Abdul Karim Amrullah, Syekh Djamil Jambek, dan Syekh Muhmmad Thaib Umar Batusangkar, Muhammad Dahlan Sutan Lebak Tuah, Sultan Muhammad Salif.

Aktivitas Abdullah Ahmad dalam menulis menjadikannya sebagai ketua Persatuan Wartawan di Padang pada 1914. Ia mempunyai hubungan yang erat dengan pelajar-pelajar sekolah menengah di Padang dan Sekolah Dokter di Jakarta dan memberikan bantuan dalam kegiatan Jong Sumatranen Bond. Ia juga menjadi redaktur dalam bidang agama dari majalah Al-Islam tahun 1916 yang diterbitkan Sarekat Islam di Surabaya. Majalah yang diprakarsai Tjokroaminoto ini dicetak dengan tulisan Arab Melayu (Jawi).

Pada 1914 Abdullah Ahmad, bersama Thaher Marah Sutan, medirikan Syarikat Usaha, untuk menyokong ekonomi dan pendidikan yang digagasnya. Perkumpulan ini juga bertujuan untuk mendirikan sekolah yang mengajarkan pengetahuan umum modern dan ilmu agama yang pembiayaannya dari Pemerintah Hindia Belanda. Empat tahun kemudian dia mendirikan Persatuan Guru-guru Agama Islam, untuk mempersatukan ulama tradisional dan ulama modernis. Namun usaha ini tidak berhasil sepenuhnya, karena Kaum Tua dibawah pimpinan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli mendirikan organisasi serupa dengan nama Ittihadul Ulama Sumatra (Persatuan Ulama Sumatra). Ia juga menyebarkan pemikiran pembaharuannya melalui publikasi dengan menjadi agen dari berbagai majalah pembaruan, seperti Al-Imam dari Singapura dan Al-Ittihad dari Kairo.

Syekh Abdullah Ahmad meninggal di Padang pada 1933 dalam usia relatif muda: 55 tahun. Tahun 1974 Pemda Sumatera Barat mengangkat Dr. Haji Abdullah Ahmad sebagai Pahlawan Daerah

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda