Tafsir

Jalan yang Penuh Anugerah (Bagian 4)

Written by Panji Masyarakat

Orang yang berada dalam kegelapan kemurkaan adalah mereka yang secara sengaja melawan hukum Allah. Sedangkan orang yang sesat adalah  mereka yang menyimpang ke luar akibat kesembronoan atau kealpaan. Kedua-duanya bertanggung jawab atas aksi-aksi dan keteledoran mereka sendiri. Lawan dari keduanya adalah orang-orang yang berada dalam cahaya rahmat Allah.

Penghapusan subjek pelaku

Ada masalah penghapusan subjek pelaku (fa’il) di dalam ungkapan mengenai kemurkaan (maghdhubi ‘alaihim) maupun kesesatan (adh-dhallin) ini. Di situ tidak dinyatakan siapa yang menurunkan kemurkaan dan yang berada di balik kesesatan mereka itu. Hanya disebutkan “mereka yang kena murka” dan “mereka yang sesat”. Padahal dalam ayat-ayat lain subyek disebut dengan jelas. Pertama, “Tidakkah kaulihat orang-orang yang mengangkat kaum yang dimurkai Allah sebagai pemimpin?” (Q. 58:14). Kedua, “Barangsiapa ditunjuki Allah maka dia beroleh petunjuk, dan barangsiapa Dia sesatkan maka tak akan engkau dapati untuk dia seorang wali pembimbing” (Q. 18:17). Tafsir Ibn Katsir (I:30) mencatat kenyatan itu, tapi tidak menerangkan mengapa ketiadaan subyek itu terjadi.

Berbeda dengan Yousuf Ali. Ia meminta perhatian kepada kenyataan bahwa kata-kata yang berhubungan dengan anugerah secara aktif dihubungkan dengan Tuhan: “jalan mereka yang Kauberi anugerah”. Sebaliknya, kata-kata yang berhubungan dengan kemurkaan diberi sifat impersonal. (Abdallah Yousuf Ali, The Glorious Kur’an, 15n). Tidak hanya disebutkannya itu, sebenarnya. Dalam ayat-ayat yang mengundangkan suatu kewajiban, perintah bisa diberikan secara impersonal. Pertama, “Wahai orang-orang yang sudah beriman, dituliskan atas kamu kisas dalam kasus mereka yang dibunuh”  (Q. 2:178). Kedua, “Wahai orang-orang yang sudah beriman, dituliskan atas kamu puasa” (Q. 2:183). Ketiga, “Dituliskan atas kamu berperang, padahal ia sesuatu yang kamu enggani” (Q. 2:216).

Itu bisa dibandingkan dengan, yang paling mudah, ayat-ayat tentang keridhaan, yang selalu langsung disertai dengan nama Allah. Dari satu segi, kenyataan itu tentu bisa kita pikirkan sebagai menerangkan salah satu sifat (atau “kecenderunga” dalam pemahaman manusia) Allah yang Mahaluhur. Adapun menurut Yousuf Ali, pada satu kasus, katanya, rahmat Tuhan mencapai diri kita di seberang gurun kita. Pada kasus lain, aksi-aksi kita sendiri bertanggung jawab bagi kemurkaan—lawan dari rahmat, kedamaian, dan harmoni itu. (Yousuf Ali, 15n). Tetapi bagaimana dengan ayat-ayat yang menyebut nama Allah baik untuk kasus-kasus petunjuk maupun kemurkaan, seperti yang sudah dikutipkan Ibn Katsir?

Di situ, tetapi Allah tentu lebih tahu, bisa kita pikirkan bahwa Allah bicara mengenai rincian, tentang kelompok tertentu, yakni Yahudi, khususnya yang karena itu diterangkan statusnya secara jelas. Berbeda dengan pernyataan dalam Fatihah yang, pertama, bersifat umum, seperti sudah disebut. Dan kedua, pernyataan itu ada dimuat di surah pembuka, tempat yang lebih layak kiranya, berdasarkan sifat kasih sayang-Nya, digunakan menampakkan kerahman-rahiman Allah itu—dan bukan yang sebaliknya—dengan stempel nama-Nya. Wallahu a’lam.

Tetapi apakah memang terdapat dua kategori—mereka yang berada dalam kegelapan kemurkaan, dan mereka yang sesat? Yang pertama adalah mereka yang secara sengaja melawan hukum Allah. Yang kedua adalah mereka yang menyimpang ke luar akibat kesembronoan atau kealpaan. Kedua-duanya bertanggung jawab atas aksi-aksi dan keteledoran mereka sendiri. Sebagai lawan dari keduanya adalah orang-orang yang berada dalam cahaya rahmat Allah. Karena rahmat-Nya tidak hanya memelihara mereka dari kesalahan yang aktif (bila mereka menyerahkan kehendak mereka hanya kepada-Nya), tapi juga dari penyimpangan ke jalan-jalan godaan atau ketidakpedulian. (Yousuf Ali, 15n).

Di situlah pentingnya kita selalu mengulang-ulang doa ini: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, Jalan mereka yang Kauberi anugerah, bukan mereka yang kena murka, bukan pula pula mereka yang sesat.” Amin. Ke dalam pengertian mereka yang diberi anugerah, mereka yang kena murka, dan mereka yang sesat, bisa kita masukkan semua yang sudah ditunjukkan itu. Wallahul Muawaffiq.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat;Sumber: Panjimas, 26 Desember 2002- 08 Januari 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda