Mutiara

Mujadid Evolusioner

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Abdul Rauf berguru sepanjang jalur perjalanan haji. Ia lebih suka mendamaikan pandangan-pandangan yang saling bertentangan, ketimbang memilihnya salah satu.

“Berbaliklah engkau pulang ke tanah Jawi. Islamkanlah orang tanah Jawi.” Demikian Syekh Ahmad Al-Qusyasyi , suatu hari, kepada Abdul Rauf. Tapi sang murid menangis. Ia merasa ilmunya belum cukup. Syekh akhirnya memperkenankannya tinggal bersamanya sepanjang ia suka.

Di Madinah, Abdul Rauf mendapat tugas menggembala unta Syekh. Suatu ketika, sepulang menggembala, ia ditanya sang Guru.

“Apa-apa makanan nan lebih dalam negeri engkau?”

“Durian yang lebih dalam tanah Jawi, ya Tuanku”

Abdul Rauf pun disuruh mengambil durian itu. Syekh memberinya kendaraan untuk berlayar. Dan fantastis, dalam waktu sekejap Rauf sudah kembali membawa pesanan Syekh. Naskah “Pasal pada Menyatakan Silsilah Tuan Syekh Abdul Rauf…”  tidak menyebut apakah Al-Qusyasyi menyukai buah yang punya bau khas itu. Teks yang disimpan di masjid Ulakan ini berisi silsilah Tarekat Syatariah di Sumatera Barat yang dikembangkan Syekh Burhanuddin alias Tuanku Ulakan, salah satu murid terbesar Syekh Abdul Rauf.

Rauf, lengkapnya Abdul Rauf ibn Ali Al-Jawi Al-Fansuri As-Sinkili, orang Aceh. Ia lahir 1615 di Singkel, pantai barat laut Aceh. Ayahnya orang alim keturunan Persia, konon juga Arab, sedangkan ibunya dari Fansur, yang waktu itu pusat pengajaran Islam.  Menurut Azyumardi Azra, dalam disertasinya tentang jaringan ulama Timur Tengah dan Nusantara abad XVII-XVIII, tidak ada keterangan yang meyakinkan mengenai masa karier As-Sinkili tersebut, termasuk bahwa ia pernah menjadi murid dua guru aliran wahdatul wujud, Hamzah dan Syamsuddin As-Sumatrani. Juga tidak ada indikasi bahwa ia pernah bertemu dan punya hubungan pribadi dengan Nuruddin Ar-Raniri, penentang keras kedua tokoh itu. Tapi Azyumardi menemukan catatan biografis mengenai studinya di Arabia. Yakni, ia belajar di sepanjang jalur haji sejak dari Doha (Qatar), Yaman, Jeddah, Mekah, dan terakhir di Madinah itu.

Salah satu gurunya yang terpenting, di Yaman, adalah Ibrahim ibn Abdillah ibn Ja’man. Pada Ibrahim-lah Rauf belajar yang disebutnya ilmu zahir, seperti fikih dan hadis.  “Berkatnyalah maka fakir ini kemudian beroleh berbuat khidmat kepada tapak wali Allah yang kamil lagi mukamal, lagi quthub dalam pada masanya, yaitu Syekh Ahmad Al-Qusyasyi dalam Kota Nabi, Rasulullah s.a.w., ”  kata Abdul Rauf dalam salah satu kitabnya. Kepada pemimpin tarekat Syatariah itulah Abdul Rauf menimba ilmu bathin … Sebagai tanda tamat belajar, Syekh Al-Qusyasyi kemudian menunjuknya sebagai khalifah Syatariah.

Sampai sang guru meninggal dunia pada 1071 H. (1660 M.),   Abdul Rauf tidak juga mudik ke Jawi—sebutan untuk Nusantara waktu itu, yang juga meliputi Patani di Thailand dan Mindanau di Filipina. Ia baru pulang ke Aceh setahun kemudian, ketika negeri itu diperintah Sultanah Shafiatuddin, yang menggantikan suaminya Iskandar Tsani. Kurang lebih 19 tahun ia menghabiskan masa belajarnya di negeri Arab.

Tak lama setelah tiba di kampung, ia mendapat kunjungan Katib Seri Raja ibn Hamzah Al-Asyi. Sekretaris rahasia Sultanah ini membawa misi menyelidiki pandangan keagamaan Abdul Rauf. Hasilnya:  kalangan Istana rupanya oke, dan Sultanah mempermaklumkannya sebagai Qadhi Malikul ‘Adil alias mufti, yang bertanggung jawab atas administrasi masalah-masalah keagamaan.

Semasa Sultanah Zakiyatuddin (1678-88), Aceh mendapat kunjungan delegasi dari Syarif Mekkah. Tentu saja ini menaikkan pamor Kesultanan. Tapi kesempatan itu juga dipakai sebagian rakyat untuk menanyakan kepada Delegasi apakah, menurut hukum Islam, perempuan boleh menjadi penguasa. Soalnya, sudah lama masalah ini tidak terpecahkan oleh masyarakat Aceh. Tentu saja Delegasi tidak bisa menjawab langsung, tapi berjanji akan menyerahkannya kepada mufti di Mekah. Kelak, setelah turun fatwa dari Mekah,  Sultanah Kamalatuddin (sultanah terakhir) dimakzulkan dari tahtanya, 1699. Itu enam tahun setelah Abdul Rauf wafat.

Abdul Rauf sendiri, seperti diungkapkan Azyumardi, tampaknya tidak berhasil menjawabnya secara gamblang. Dalam kitab fikihnya, Mir’atuth Thullab, dia tidak membahasnya langsung. Ketika mengupas soal syarat-syarat menjadi hakim, misalnya, As-Sinkili ini sepertinya sengaja tidak memberi terjemahan Melayu untuk kata dzakar (laki-laki). Ini menimbulkan tuduhan bahwa Syekh Rauf mengkompromikan integritas intelektualnya. Bukan hanya dengan menerima pemerintahan seorang perempuan, tapi juga dengan tidak memecahkan masalah secara selayaknya.

Tapi, boleh jadi, juga itu menunjukkan ciri pribadinya yang penuh toleransi — seperti juga terlihat dari sikapnya kepada Hamzah Fansuri dan As-Sumatrani, di satu pihak, dan Ar-Raniri di pihak lain. Meski semangat tulisannya menunjukkan ia berbeda dari dua tokoh pertama, ia tidak terang-terangan menohok. Secara umum dia tidak berselisih faham dengan ajaran-ajaran Ar-Raniri yang merekomendasikan penganiayaan terhadap para pengikut Hamzah dan Syamsuddin.Pengarang Tarjuman Al-Mustafid ini, tafsir terlengkap pertama dalam bahasa Melayu, tampaknya lebih suka mendamaikan pandangan-pandangan yang saling bertentangan daripada menolak salah satu. Upaya-upaya pembaruan yang ditempuhnya tidak radikal, tidak sebagaimana Ar-Raniri yang suka mencap orang sebagai penuh dosa, bahkan kafir. Azyumardi dengan khidmat menyebut syekh ini mujaddid bergaya evolusioner

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda