Tafsir

Jalan yang Penuh Anugerah (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Menurut Muhammad Abduh, orang-orang yang dimurkai Allah  adalah “mereka yang keluar dari kebenaran sesudah mengetahuinya, dan mereka yang menerima syariat Allah Ta’ala dan agama-Nya tetapi menolaknya dengan mengesampingkan segala dalil. Bgaimana dengan orang-orang yang sesat?

Kafir Administratif

Tapi itu karena Ibn Abi Hatim, dalam tafsir Syaukani (w. 1250 H.) itu, hidup jauh sebelum Muhammad Abduh di peralihan abad-abad 19-20 Masehi. Abduh memang juga menyebut, tanpa komentar, penafsiran yang menyangkut Yahudi dan Nasrani seperti disinggung Ibn Abi Hatim. Tapi berdasarkan kenyataan, tentunya, bahwa surah Fatihah sebenarnya tidak dimaksudkan untuk berbicara tentang umat tertentu, maka “pendapat yang terpilih”, menurut Abduh, ialah bahwa “orang-orang yang kena murka” adalah “mereka yang keluar dari kebenaran sesudah mengetahuinya, dan mereka yang menerima syariat Allah Ta’ala dan agama-Nya tetapi menolaknya dengan mengesampingkan segala dalil.” Ini bisa mencakup semua.

Adapun ‘mereka yang sesat’, menurut Abduh, terdiri dari beberapa jenis. Pertama, orang-orang yang tidak menerima dakwah kerasulan. Atau menerimanya tetapi dalam bentuk yang tidak membimbing kepada penalaran. Mereka adalah orang-orang yang terhalang dari petunjuk agama. Kalaupun mereka bukan sesat dalam hal-hal duniawi, mereka sesat, tak pelak lagi, dalam usaha mereka mencari keselamatan ruh dan kebahagiaan ukhrawi. Dan itu tercermin kadang-kadang di dalam keterombangambingan mereka di dalam perilaku hidup.

Agama yang benar adalah yang melimpahkan kepada pemeluknya ruh kehidupan yang memungkinkan mereka berbahagia di dua dunia sekaligus. Barangsiapa terhalang dari agama, ia terhalang dari dua kebahagiaan itu. Tetapi mengenai ihwal mereka di akhirat, tentu saja kedudukan mereka tidak menyamai kedudukan orang-orang yang mendapat petunjuk. Kadang-kadang Allah memaafkan mereka, dan Dia berbuat menurut yang dikehendaki-Nya.

Tetapi memang tidak bisa diterima akal—ini tambahan dari Rasyid Ridha—bahwa umat yang seperti itu kelak diazab di akhirat karena meninggalkan sesuatu yang tidak dapat diketahui kecuali lewat petunjuk yang tidak sampai kepada mereka itu. Inilah makna keadaan mereka yang bukan mukallaf  (orang yang memikul kewajiban), sesuai firman dalam surah Al-Isra’, “dan tidak nanti Kami menghukum sampai Kami mengirimkan utusan” (Q. 17:15).

Sedangkan mereka yang berkata bahwa orang-orang itu terbebani, lantaran kurnia akal, tidak menampakkan segi yang meyakinkan kecuali kalau mereka yang bermaksud menyatakan ihwal mereka di akhirat adalah menurut derajat kenaikan ruh mereka lewat petunjuk akal dan keselamatan nurani … Sementara itu apa yang diberikan Allah Ta’ala kepada mereka di akhirat adalah berdasarkan perbuatan baik-buruk serta mulia-hina mereka secara adil, sementara Allah bisa menambahi mereka dengan karunia-Nya bila Ia hendaki. Ini jenis pertama.

Jenis kedua dari mereka yang sesat, menurut Abduh, adalah orang yang menerima dakwah dalam bentuk yang membangkitkan pemikiran, lalu tersentuh minatnya dan meluangkan waktu untuknya, tetapi ia tidak dikarunia taufik untuk mengimaninya, dan ia pun menghabiskan umurnya dalam pencarian. Golongan ini hanya pribadi-pribadi, tidak pernah suatu masyarakat keseluruhan. Di akhirat, pada pendapat jumhur, tidak diragukan bahwa perlakuan terhadap pribadi-pribadi seperti itu lebih baik daripada terhadap para penentang yang ingkar wahyu. Sebagian ulama Asy’ariah bahkan menetapkan mereka masuk golongan yang bisa  mengharapkan rahmat Allah, keyakinan yang mereka angkut dari Abul Hasan al-Asy’ari sendiri.

Itulah pendapat Abduh—tentang golongan pertama dan golongan kedua—yang di belakang hari diteguhkan Syekh Al-Azhar Mahmud Syaltut, dalam Al-Isam Aqidah wa Syari’ah, ketika ia memutuskan bahwa mereka itu bukan kafir hakiki di mata Allah seperti yang dimaksudkan dalam Alquran dan yang dinyatakan sebagai kekal dalam neraka, melainkan sekadar kafir syar’i alias kafir administratif.

Golongan ketiga adalah orang-orang yang menerima risalah, dan membenarkannya, tapi mengikuti hawa nafsu mereka dalam memahami dasar-dasar akidah. Merekalah para pembuat bid’ah di setiap agama, juga di dalam Islam. Dalam Islam, mereka berpaling dari yang ditunjukkan oleh kebulatan Alquran dan dari jalan salaf, generasi pertama Islam.

Sedangkan golongan keempat adalah yang menyasar di dalam perbuatan dan menyimpangkan hukum-hukum dari tempat-tempatnya. Seperti orang yang membuat helah dalam pelaksanaan zakat: ia memindahkan pemilikan hartanya kepada orang lain sebelum tiba masa haul (putaran setahun), dan dengan demikian tidak ditarik zakat, sebelum nanti mengembalikannya lagi setelah haul berlalu. Pikirnya, dengan perbuatan itu ia selamat dari kewajiban dan dari murka Allah—tanpa sadar bahwa dengan demikian ia sudah melalukan perbuatan orang yang berkeyakinan bahwa Allah sudah memfardukan satu kewajiban dan di sebelah kewajiban itu menciptakan sesuatu yang akan mengahapusnya. Dan itu mustahil. Contoh-contoh orang yang sesat dalam perbuatan ini, yang beragama hanya secara wadak, dan palsu, tentu saja banyak yang dicari. (Lih. Rasyid Ridha,Tafsir Al-Manar, I:69-71). Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat;Sumber: Panjimas, 26 Desember 2002- 08 Januari 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024