Mutiara

Warisan yang Kejam

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Giliran anak-anaknya yang diringkus dan dibunuh. Musa sendiri akhirnya dibebaskan dengan keharusan membayar denda. Inilah budaya politik yang diwaris Umar ibn Abdil Aziz.

“Kamu kenal siapa ini?” tanya Sulaiman ibn Abdil Malik, seraya membuka sebuah bungkusan.

“Ya, ya, saya tahu,” jawab Musa ibn Nushair. Kemudian menarik nafas dalam-dalam. “Kedua orang ini selalu berpuasa di siang hari. Jika benar pembunuhnya lebih baik  dan lebih bertakwa dari kedua makhluk ini, biarlah laknat Allah menimpa mereka berdua.”

Dibanding Thariq ibn Ziad, yang dibiarkan hidup terlunta-lunta, nasib mantan gubernur Afrika Utara itu lebih celaka. Setelah dijebloskan ke bui, ia harus menyaksikan suguhan Khalifah Sulaiman yang amat khas itu: penggalan dua kepala. Dan itu, tak lain tak bukan, kepala kedua putranya sediri — Abdullah dan Abdul Aziz. Paket istimewa itu, dari Afrika Utara dan Spanyol, tiba di Damaskus pada 7 September 717.

Meyusul pemakzulan Musa ibn Nushair, Khalifah Sulaiman mengangkat Muhammad ibn Yazid sebagai penguasa Afrika Utara dan Andalusia, yang oleh Musa sudah dikapling menjadi tiga wilayah dan masing-masing dikuasakan kepada ketiga putranya.  Perintah pertama yang diterima gubernur baru adalah menangkap dan menghukum keluarga Musa. Juga mengenakan denda 300.000 dinar per orang.

Tanpa perlawan berarti, Muhammad ibn Yazid berhasil meringkus Abdullah di Qairuan. Setelah disiksa, bungsu Musa ini dibunuh. Kabar ini sampai kepada Abdul Aziz di Sevilla. Cemas, ia sekalian mengambil tindakan untung-untungan memproklamasikan Andalusia lepas dari Damaskus dan Afrika Utara. Siapa tahu pemberontakannya sukses.

Khalifah Sulaiman, yang marah mendengar ulah itu, mengirimkan tim buru sergap lima orang, di antaranya Habib ibn Abi Ubaidah, cucu Uqbah Nafi r.a yang pernah dianiaya Musa. Abdul Aziz dibunuh ketika sedang salat di masjidnya di Sevilla.

Yang menyedihkan di samping tragedi pembunuhannya, tersebar pula berita perilaku Abdul Aziz sebagai pemimpin, yang berkaitan dengan istrinya, Anchelona, yang tak lain janda Raja Goth itu. Sang istri konon menghendaki Abdul Aziz bertingkah sebagai raja pula, mengenakan mahkota, dan setiap yang menghadap harus bersujud. Adat raja-raja Eropa itu ditolak Abdul Aziz karena tidak ada referensinya dalam Islam. Tapi gosip lain menyebutkan Abdul Aziz membangun kapel khusus untuk “permaisuri” yang Katolik itu, dekat pintu masjidnya. Padahal mami si Ashim ini, yang karena anak dari Abdul Aziz itu maka ia dipanggil Ummu Ashim, sudah masuk Islam. Tapi bahkan Abdul Aziz sendiri disebut-sebut sudah menjadi Kristen. Maka marahlah kaum muslimin Andalusia, dan Abdul Aziz tewas dibunuh, begitu diberitakan. Gampang diduga, gosip ini kerjaan para intel Sulaiman.

Akan hal sang ayah, Musa ibn Nushair, akhirnya bebas. Hanya saja disyaratkan membayar sejumlah denda, yang untuk mengangsurnya harus minta sumbangan ke sana-sini. Selama setahun meminta-minta, tak sanggup juga dia melunasi cicilan — hingga menemui ajalnya (717) di Hijaz. Padahal ah, siapa pula yang menghadiahi Daulat Umaiyah dengan wilayah Andalusia yang luas dan eksotis itu, kalau bukan Musa ibn Nushair dan jenderalnya, Thariq ib Ziad?

Musa kelahiran 19 H (640 M), dulunya budak Abdul Aziz ibn Marwan. Kakinya pincang. Pernah menjadi pegawai pajak di Basrah. Dipecat oleh Hajjaj ibn Yusuf, panglima perang yang juga kepala keuangan negara, karena korupsi. Takut dihukum, Musa lari ke Mesir, minta perlindungan kepada mantan bosnya, Abdul Aziz, adik Khalifah yang gubernur di sana. Diterima. Bahkan ayah Umar ibn Abdul Aziz ini mengajak Musa ke Damaskus, mohon pengampunan langsung kepada Khalifah Abdul Malik ibn Marwan.

Abdul Aziz wafat pada 764. Kursi gubernur Mesir diisi adiknya, Abdullah ibn Marwan. (Marwan, Abdul Aziz, Abdullah, nama-nama ini diabadikan Musa ibn Nushair sebagai nama anak-anaknya pula). Setahun kemudian, Abdul Malik ibn Marwan mangkat, dan naiklah putranya, Al-Walid. Khalifah inilah yang memisahkan kembali Afrika Utara dan Mesir, dan sekaligus mengangkat Musa sebagai gubernurnya, sementara Mesir tetap di tangan pamannya, Abdullah ibn Marwan.

Yang ada di kepala Musa, waktu itu, adalah membuktikan kemampuannya kepada Damaskus.  Aljazair, Tunisia, Libya, Maroko, berhasil ia kuasai penuh. Setelah sukses di Afrika Utara bagian barat inilah ia melirik Andalusia dan mengirim Panglima Thariq ibn Ziad, mantan budaknya, yang dahsyat itu, ke sana. Sukses.  Musa menyusul. Berjaya pula, tapi begitulah, nasib bicara lain ketika Sulaiman naik takhta pada 715.

Sulaiman sendiri memerintah hanya dua tahun. Pada 717 kepala negara yang bengis dan gemar foya-foya ini mangkat. Beruntung penggantinya adalah Umar ibn Abdil Aziz, yang kelak dikenal khalifah yang adil, sangat saleh, dan menghindari hidup mewah. Para pejabat dan gubernur yang sewenang-wenang langsung di pecat. Pendeknya, seperti  kata Hamka, agak sempit nafas anak raja-raja yang telah biasa hidup mewah itu setelah dia memegang pemerintahan.

Sayang juga, baik Musa maupun Thariq sudah tiada beritanya

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda