Mutiara

Anak-Anak Tuan Muslim Belanda

Written by A.Suryana Sudrajat

Kisah keluarga yang tak diakui, dan sebuah etika pergundikan kolonial yang bengis. Dan bukan salah perempuan-perempuan itu menikah dengan seseorang yang mereka percayai sebagai muslim.  

Rambut saya telah sepenuhnya beruban, dan saya merasa seperti seorang yang baru saja menangani pekerjaan. Saya percaya bahwa secara jasmaniah orang di sini hidup lebih cepat daripada di Utara. Tetapi karena saya tak punya anak untuk menghibur hati tua saya, maka saya sama sekali tidak berharap menjadi seorang tua.”

Ketika Snouck Hurgronje menulis surat ini, di Batavia, 10 Februari 1893, kepada kawan orientalisnya, Theodore Noldeke, sebenarnya dia sudah punya dua anak. Menurut P.Sj. van Koningsveld, dari kira-kira 1.000 surat Snouck yang tidak pernah diumumkan, tidak sepucuk pun yang menyinggung perkawinannya atau anak-anaknya di Hindia Belanda.

Bulan Januari 1890, pers ramai memberitakan perkawinan Snouck dengan putri penghulu besar Ciamis, Jawa Barat. Menurut Soerabaja-Courant dan Het Bataviaasch Nieutosblad, pernikahan dengan “si jelita bumiputra” itu berlangsung di masjid, dengan upacara Islam. Tapi harian De Locomotief menganggap berita-berita itu rubbish: “……..kami dapat menjamin bahwa keseluruhan cerita perkawinan ini merupakan isapan jempol. Apa pulakah maksud orang dengan berulang-ulang menyebarkan berita-berita bohong tentang Dr.Snouck atau pekerjaannya itu?”

Dalam telegramnya (12/2/1890) kepada Menteri Urusan Jajahan, Gubernur Jenderal C. Pijnaker Hordijk  mengatakan bahwa berita perkawinan itu “timbulnya karena di Ciamis ia (Snouck) menginap di rumah penghulu besar. Untuk keperluannya diadakan peragaan selengkap dan semirip mungkin upacara perkawinan bumiputra, dan memberi kesempatan kepadanya mencatat semua upacara adat perkawinan itu dengan seksama.” Sangkalan serupa pernah pula disampaikan Snouck dalam suratnya kepada Teolog Herman Bavinck, dengan menyebut orang-orang koran tidak punya keinsafan batin dengan menceritakan kepandiran-kepandiran baru tentang dirinya. Jadi?

Investigasi van Koningsveld, yang mewawancarai Raden Muhammad Jusuf 1982, di Bandung, menunjukkan bahwa semua berita pernikahan Snouck di tahun 1890 itu sahih. Dia  menikah dengan Sangkana 17 tahun, anak Raden Haji Muhammad Ta’ib, penghulu besar Ciamis. Ta’ib termasuk kerabat Raden Ayu Lasmitakusuma, istri Bupati Ciamis Kusuma Subrata. Di kediaman Pak Bupatilah Snouck bertemu Sangkana—-salah satu gadis yang ditampung di situ. Lasmitakusuma menyilakan Snouck memilih dara yang disukainya. Penghulu Ta’ib semula keberatan. Maklum, anak perempuan satu-satunya. Lagi pula Sangkana sendiri takut kepada bule. Tapi Ta’ib akhirnya menyerah juga. Maklum, jabatannya’kan tergantung sepenuhnya pada Bupati.

Sangkana meninggal tahun 1896 — keguguran ketika melahirkan anak kelima. Empat anak Snouck yang lain (Emah, Umar, Aminah, dan Ibrahim) kemudian dirawat Lasmitakusuma, dengan biaya sekolah dari bunga deposito Snouck sampai berusia 21 tahun. Mereka belajar di Sekolah Kelas Dua (sekolah rendah pribumi), kemudian HIS, disusul Kleinantenaars-examen alias ujian pegawai rendah. Lasmitakusma sudah menyediakan lowongan kerja untuk mereka. Tentu saja keempat anak itu tidak pernah bersentuhan dengan Negeri Belanda. Snouck dengan tegas melarang  Ibrahim ketika minta izin pergi ke Holland. Setelah sang ayah meninggal kelak, kepada mereka diberikan masing-masing 5.000 gulden — tanpa dihitung sebagai ahli waris.

Adapun Raden Muhammad Jusuf adalah anaknya yang lain dari perkawinan kedua — dengan Siti Sadijah, 1898, di Bandung. Mojang usia 13 tahun ini putri Rade Haji Muhammad Su’eb alias Kalipah Apo, wakil penghulu yang juga juru tembang Sunda terbaik di masanya. Perkawinan diatur Haji Hasan Mustpha, atasan Su’eb yang juga informan Snouck yang dulu berkenalan di Mekah. Sadijah berusia lanjut — sampai 1974.

Sampai keberangkatannya kembali ke Leiden, 1906, hingga kematiannya, tanpa pernah kembali ke Indonesia, “Tuan Muslim Belanda” ini tidak mengakui kedua istri dan anak-anaknya di depan hukum perdata Nederland. Pada 1910 Snouck menikah dengan perempuan Belanda, Ida Maria, putri Dr. A.J. Oort, pensiunan pendeta liberal di Zutphen. Juga beroleh keturunan.

Menurut van Koningsveld, kedua perkawinan Snouck itu turut menyebabkannya “memperoleh kedudukan sebagai orang dalam dalam elite feodal dan keagamaan Jawa Barat.” Toh,, katanya, itu tidak mendobrak pola pergaulan antara orang Eropa dan orang Indonesia. Dia bahkan melarang anak-anaknya memakai nama Hurgronje. “Akhirnya dia berbuat sesuai dengan etika pergundikan kolonial, antara seorang Eropa dan pengurus rumah tangga atau nyai-nya.”

Bagi yang di Indonesia, tentunya, sikap seperti itu urusan mereka sendiri. Kedua wanita itu kawin sah secara Islam, dengan laki-laki yang dipercayai sebagai muslim. Bahkan “etika” yang membeda-bedakan manusia, yang bukan etika Islam, dari bangsa yang konon ingin “mengajarkan peradaban”, itu demikian bengis, bukan salah mereka. Snouck kelahiran 1857, meninggal 26 Juni 1936 di Leiden. “Setelah semuanya beres, keluarga Indonesianya mendapat sejumlah uang untuk mengirimkan seorang wakil ke Mekah, agar dosa-dosa Abdul Gaffar diampuni.” Ini penutup artikel F.Schroder yang menyakini Snouck mati sebagai muslim, di NRC Handelsblad, 10 Maret 1984

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka
  • Hamka