Mutiara

Sang Pelopor Amal Usaha Muhammadiyah

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Gagasannya untuk mendirikan rumah sakit sempat ditertawakan. Tapi keyakinannya sangat tebal. Sebab, ia punya prinsip: mustahil Tuhan membuat ketentuan di dalam Alquran yang tidak dapat dilaksanakan oleh hamba-Nya. Apa kontribusinya bagi perbaikan perjalanan haji yang dulu sangat menyengsarakan?

Haji Muhammad Syuja’ adalah salah seorang dari “kwartet bersaudara” yang masyhur di kalangan warga Muhammadiyah. Yakni pada masa-masa awal organisasi ini berdiri. Mereka adalah H.M. Syuja’, K.H. Fachruddin, Ki Bagus Hadikusumo, dan K.H. Zaini. Di antara mereka H.M. Syuja’-lah yang tertua. Ia adalah pelopor perbaikan perjalanan haji Indonesia dan pelopor pendirian amal-amal usaha Muhammadiyah.

Syuja’ dilahirkan dari keluarga santri. Ia putra H. Hasyim, seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII dengan pangkat Lurah Keagamaan (Punakawan Kaji). Di lingkungan Keraton, H. Hasyim lebih dikenal dengan sebutan Raden Haji Lurah Hasyim.

Nama kecil Muhammad Syuja’ adalah Daniel, karena lahir bertepatan dengan tahun Dal. Setelah berhaji, ia berganti nama menjadi Muhammad Syuja’, yang berarti “berani”, karena dalam perjalanan pulang dari Mekah, kapal yang ditumpangi diserang badai. Berkat keberaniannya, ia cepat menurunkan layar-layar hingga kapal itu selamat dari amukan badai. Atas kejadian itu, ia dikenal sebagai pemberani.

Syuja’ pernah belajar di Pondok Pesantren Wonokromo seperti adiknya, K.H. Fachrudin. Sebagai keluarga abdi dalem santri, status Syuja’ di masyarakat Kauman tergolong kelas menengah. Saat dewasa, atas keinginan orangtuanya, Syuja’ dimagangkan untuk menjadi abdi dalem. Tetapi tidak berlangsung lama karena Syuja’ merasa kurang cocok menjadi abdi dalem. Ketika keluar dari magang di lingkungan Keraton Yogyakarta, ia bergabung di Muhammadiyah yang belum lama didirikan. Ia menjadi murid langsung K.H. Ahmad Dahlan, bersama adik dan teman-temannya, seperti H. Fachruddin, Ki Bagus Hadikusumo, H. Zaini, H. Mochtar, H.A. Badawi, R.H. Hadjid, dan lain-lain.

Syuja’ sudah aktif di Muhammadiyah sejak organisasi ini berdiri. Meski begitu, lantaran usianya yang relatif muda, ia tidak bisa mejadi pengurus. Ia mulai jadi pengurus Muhammadiyah pada tahun 1921. Pada saat itu, Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah sedang membentuk beberapa bagian (majelis). Syuja’ terpilih sebagai ketua bagian PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem). Dan melalui PKO, ia mampu membuktikan bahwa bangsa Indonesia, khususnya Muhammadiyah, dapat mendirikan rumah sakit, rumah miskin, rumah anak yatim, dan sebagainya.

Boleh dikatakan, apa yang direncanakan Syuja’ di atas waktu itu dinilai sangat berlebihan. Maka, tak heran ketika disampaikan di depan khalayak ia malah ditertawakan. Meski demikian, dia tetap yakin dapat melakukannya. Dia punya keyakinan cukup tebal. Jika orang-orang nonmuslim pun mampu mendirikan rumah sakit, rumah miskin, dan rumah yatim, mengapa umat Islam yang mempunyai landasan keilahian seperti tertera dalam Q.S. Al-Maun tidak dapat melakukannya? Lebih jauh ia berprinsip bahwa mustahil Allah SWT membuat ketentuan dalam Alquran yang tidak dapat dilakukan hamba-Nya.

Memang gagasan Syuja’ saat itu banyak dicibir orang, tetapi, K.H. Ahmad Dahlan merestuinya. Pada perkembangannya ternyata apa yang digagas Syuja’ sejak tahun 1920 itu dapat menjadi kenyataan. Perlahan tapi pasti Muhammadiyah mulai mampu mendirikan rumah sakit di Yogyakarta yang sekarang menjadi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah yang megah, mampu mendirikan rumah miskin dan panti asuhan anak yatim yang bertebaran di mana-mana. Itulah sumbangan terbesar yang diberikan Syuja’ dalam merintis dan mengembangkan gerakan Muhammadiyah, khususnya di PKU Muhammadiyah.

Pada Kongres Muhammadiyah ke-26 di Yogyakarta pada tahun 1937, nama Syuja’, H. Hisyam, serta H. Muchtar memperoleh suara terbanyak. Akan tetapi karena kemenangan mereka kurang disetujui oleh angkatan muda, maka jabatan ketua HB Muhammadiyah tidak diambil. Sebagai alternatifnya, jabatan itu diserahkan kepada K.H. Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah dari Surabaya. Sementara Syuja’ diberi kepercayaan untuk memimpin Majelis PKU kembali hingga memasuki masa kemerdekaan. Setelah itu, Syuja’ tidak lagi duduk di dalam kepengurusan Muhammadiyah secara fungsional. Meski demikian, hingga akhir hayatnya ia dipercaya menjadi Penasehat PP Muhammadiyah.

Selain di bagian PKU, bidang yang menjadi perhatian Syuja’ sejak aktif di Muhammadiyah adalah Bagian Penolong Haji. Di bagian ini Syuja’ menduduki posisi anggota komisaris. Pada tahun 1922, ia didampingi M. Wiryopertomo mendapat tugas dari HB Muhammadiyah untuk memimpin jamaah haji. Syuja’ juga ditugaskan untuk mensurvei kondisi perjalanan haji dan memperkenalkan Muhammadiyah di Mekah.

Komitmen Syuja’ untuk memperbaiki sistem perjalanan jamaah haji Indonesia tidak hanya terbatas di dalam Muhammadiyah. Pada tahun 1923, bersama-sama dengan Pangeran Aria Ahmad Djayadiningrat, Dr. Ratulangi, H. Agus Salim, Mulyadi Djoyomartono, dan Kartosudarmo, Syuja’ mengoordinir umat Islam Indonesia untuk menyelenggarakan perjalanan haji sendiri dengan menyewa kapal. Hanya saja, karena terbatasnya dana, usaha tersebut belum berhasil. Namun dengan aksinya itu, pemerintah kolonial Belanda menurunkan harga tiket kapal haji dari 250 gulden menjadi 75 gulden.

Selanjutnya, pada tahun 1926, umat Islam seluruh dunia menyelenggarakan Muktamar Alam Islami, forum pertemuan antar tokoh-tokoh Islam dari seluruh dunia di Kota Suci Mekah. Pada acara tersebut, Syuja’ hadir sebagai utusan Haji dari Hindia Timur. Guna mencari dukungan, di forum itu Syuja’ menjelaskan perjuangan umat Islam Indonesia dalam memperbaiki sistem perjalanan haji. Akibatnya, oleh pemerintah kolonial Belanda, Syuja’ mulai dianggap sebagai orang berbahaya. Bahkan ia pernah diperkarakan di pengadilan karena kritik-kritiknya terhadap pemerintah kolonial Belanda berkaitan dengan kebijakan perhajian. Meski sampai diperkarakan di pengadilan, tapi langkahnya tidak pernah surut.

Sampai hari-hari menjelang wafatnya pun ia masih terus mengurusi perjalanan haji. Berkat jasa-jasanya itulah Syuja’ dikenal sebagai tokoh pelopor perbaikan perjalanan haji Indonesia. Pasca-kemerdekaan, bersama teman-temannya, ia membentuk Persatuan Jamaah Haji (PDHI). Tokoh yang tidak tertarik urusan politik ini wafat pada 5 Agustus 1962. Ya, setelah sekitar setengah abad ikut membesarkan Muhammadiyah

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda