Tasawuf

Wirid Hidayat Jati : Aneka Mantera Sasahidan

Written by B.Wiwoho

Upaya memahami syahadat ala Wirid Hidayat Jati seyogyanya dilakukan dengan dua pendekatan. Melalui guru tasawuf atau mursyid yang teguh pada Al Qur’an dan hadis, atau membekali diri dengan berbagai referensi yang cukup termasuk Al Qur’an dan hadis. Apabila tidak, besar kemungkinan kita bingung memahami, misalkan hakikat kata Ingsun atau Aku yang disebut berulang-ulang.

Sebagian penganut Islam Kejawen, mengajarkan beberapa hal saja dari Wirid Hidayat Jati. Pertama, pengakuan serta pemahaman pada Sing Urip, Sing Nggawe Urip dan Sing Nguripi. Kedua dzikir “ya kayu – ya kayumu.” Ketiga, penggunaan tambahan Pangeran atau Gusti di depan asma Allah. Keempat dua kalimat syahadat yang baku sebagaimana yang lazim kita dengar dari adzan. Namun sebagian lain yang memang menganut ajaran martabat tujuh dan Syeh Siti Jenar dengan faham manunggaling kawulo – Gustinya, mempercayai wejangan sasahidan yang kemudian dikenal sebagai mantera sasahidan ini menegaskan beberapa hal antara lain:

1.Tuhan adalah zat hidup kita sendiri.

2.Tuhan digambarkan berada pada kehidupan manusia, sedangkan kehidupan manusia merupakan sifat Tuhan.

3.Tuhan melihat dan berkehendak, bersabda, berbuat serta merasakan segala rasa dengan mempergunakan tubuh manusia, sehingga dalam kondisi seperti ini manusia yang bersangkutan bisa menyebut dirinya Tuhan.

Pada sejumlah aliran Islam Kejawen, selain Wirid Sasahidan tadi, sering pula kita menjumpai wiridan syahadat atau sasahidan yang lain, misalkan“Syahadat Sakarat Wiwitane Pati (Syahadat Sakarat Permulaan Kematian)”. Syahadat ini dianjurkan untuk jadi bacaan wirid bagi orang-orang yang mendekati ajal, atau orang-orang yang sudah bisa melihat akan akhir hayatnya, yang berbunyi:

“Ashadu ananingsun,

anuduhake marga kang padhang,

kang urip tan kena ing pati,

mulya tan kawoworan,

eling tan kena lali,

iya rasa iya rasulullah,

sirna manjing sarira ening,

sirna wening tunggal idhep jumeneng langgeng amisesa budine,

angen-angene tansah amadhep ing Pangeran.

Artinya:

Aku bersaksi tentang keberadaanku,

yang menunjukkan ke jalan yang terang,

yang hidup dan tidak akan mati (kekal abadi), 

yang mulia dan tidak ternodai,

yang senantiasa ingat dan tidak memiliki sifat lupa,

iya rasa ini ya Rasulullah,

hilang masuk meresap ke badan yang hening, 

hilang menyatu dengan keabadian menguasai perbuatan baiknya, 

angan-angannya senantiasa menghadap Sang Pangeran (Gusti Allah)”.

Tak kalah menarik dari sasahidan ala Jawa Tengahan itu, di daerah yang konon banyak disebut sebagai daerah asal Syekh Siti Jenar, yaitu Cirebon juga tercipta berbagai Syahadat, antara lain Syahadat Gunung Jati dan Syahadat Urip. Syahadat Cirebon – Gunung Jati misalkan:

Niat ingsun syahadat Cirebon,

lir gua gunung jati,

penggotekan petaunan,

murub mancur cahyane Allah,

rat jagad urup ingsun,

ngadeg aken Cirebon kersane Pangeran

Laa ilaaha illallaah muhammadarrasulullah.

Sedangkan Syahadat  Uripberbunyi:

Asyhadu urip tan kena ing pati,

ilaha raga tan kena ing lara,

illallah wit tanpa wiwitan,

dzat les dzat les tanpa wekasan,

sahadat jati tegang pati,

sahadat kagawa mati,

les pangeran tandana ,

kari yahu tanda  sawiji,

kalbu putih tanpa dzat les,

pangeran muliya kang putih ratna gumilang

numawa rasa mulya menter putih,

rat kerat.

Jika Syahadat Gunung Jati menggambarkan tentang niat, tekad dan semangat sekaligus doa untuk mendirikan Kesultanan Cirebon yang dilimpahi nur ilahi serta ditutup dengan dua kalimat syahadat, maka Syahadat Urip merupakan inti sari dari gabungan Wirid Sasahidan dan Syahadat Sakarat Wiwitane Pati.

Kelima contoh Sasahidan tadi, yaitu tiga versi Surakarta dan dua versi Cirebon, menunjukkan adanya berbagai jenis persaksian. Ada kesaksian tentang sifat-sifat Gusti Allah, ada tentang “manunggaling kawulo – Gusti  (penyatuan hamba dengan Allah ala Syeh Siti Jenar)”, ada tentang niat dan doa untuk mendirikan  Cirebon (Kesultanan) dan ada pula tentang penguatan tauhid sebagai persiapan menghadapi kematian. Namun dari sekian banyak sasahidan, yang paling terkenal karena disamping digunakan sebagai judul wiridan, juga merupakan inti ajaran  Syekh Siti Jenar, yaitu Wirid Sasahidan tersebut. Hanya saja, banyak pro kontra tentang makna dan hakekat wirid ini. Bahkan di antara sesama penganut tasawuf.  Sedangkan sasahidan yang lain sudah mulai dilupakan.

Mengenai pertanyaan apakah berbagai sasahidan itu, khususnya sasahidan Sifat Dua Puluh, benar merupakan mantera sakti? Terpulang kepada kita, sebagaimana kita juga selama ini menyikapi serta meyakini berbagai bacaan wirid atau zikir yang lazim diamalkan, misalkan wiridan asmaul husna.

Semoga berkenan.

Subhaanallaah walhamdulillaah. 

(Wirid Hidayat Jati 14 dari 14 : dalam Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda