Mutiara

Tuan Muslim Belanda

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Bagaimana Snouck Hurgronje menembus sarang pemberontak di Mekah. Ada yang menyebutnya syekhul Islam Hindia Belanda, tapi ada pula yang mengatakan dia seorang  agnostik.

Batavia 1906. Sebuah pesta diadakan untuk melepas Snouck Hurgronje. Sudah 17 tahun dia berdinas selaku penasihat khusus pemerintah kolonial selaku penasihat khusus pemerintah kolonial untuk urusan Islam, dan akan kembali ke Leiden. Dalam farewell party itu, seorang Arab mendendangkan sebuah syair:  

Jika Tuan bicara, gemetarlah benua-benua

Pada kata Tuan bungkamlah samudera-samudera

Syair yang dikemas khusus untuk sang meneer ini bukan basa-basi. Melainkan pengukuhan kedudukannya, terutama di kalangan feodal dan elite Hindia Belanda  — para bupati, misalnya, atau ulama seperti Haji Raden Hasan Mustapha, Teungku Nurdin, atau Sayid Utsman Al-Alawi . Ini bisa dilihat dari sebutan-sebutan tentang dirinya—seperti Rajul Muslim Hulandi (Tuan Muslim Belanda), Multi Batavia, Habib Kulit Putih, bahkan Syekhul Islam Hindia Belanda. Bukan semata lantaran kepakaran Snouck mengenai Islam, atau bahwa ia melaksanakan syariat. Tapi, terpenting, dia pernah bermukim di Mekah, meski hanya setengah tahun (1885-`1886).

Perjalanan Christian Snouck Hurgronje ke sana sebenarnya atas prakasa J.A. Kruyt. Konsul Belanda di Jeddah ini berulang kali melaporkan betapa penting pos yang ditempatinya. Berdasarkan pengamatannya, telah  terjadi pengiriman-pengiriman senjata secara rahasia di Istambul ke Aceh melalui Arab, menggunakan selubung haji. Para pemberontak yang dicari-dicari pemerintah banyak pula yang bercokol di sana. Kruyt berkesimpulan, Mekah sarang agitasi panislamisme. Karena itu dia mengusulkan melatih seorang agen rahasia lokal yang,  sebagai muslim, bisa keluar-masuk kota itu. Den Haag menolak. Kruyt lalu menyarankan; setiap tahun pemerintah menyelipkan dua orang Islam, dari kalangan atas Jawa yang setia, di antara jamaah haji. Usul ini pun kandas:  sulit mencari orang Jawa yang memenuhi kualitas itu. Adapun terhadap Snouck, Kementrian Urusan Penjajahan hanya ragu-ragu mengenai bahasa Melayu-nya. Tetapi Kruyt berhasil menyakinkan mereka.

Di bulan-bulan pertamanya di Jeddah. Snouck jelas bukan orang Islam. Ini misalnya terlihat dari sikapnya yang sangat hati-hati ketika terlibat pembicaraan Ilmu Kalam. Seperti diungkapkan P.Sj van Koningsveld (Snouck Hurgronje dan Islam), betapapun Snouck harus masuk Islam secara formal. Satu kalimatnya, dalam surat 16 Januari 1885 kepada kawannya, Ignaz Goldziher:  “Kepada Tuan saya tidak menyembunyikan — namun mohon pula secara berhati-hati tidak memberikan petunjuk mengenai hal itu — bahwa …  tanpa izharul Islam (menyatakan keislaman) sudah tentu saya tidak berangkat.”

Di Mekah  maupun sesudah kembali, Snouck menjalin hubungan dengan Haji Raden Abu Bakar Djajadiningrat. Dari orang kepercayaan Konsulat Belanda ini, yang memang bertugas mengawasi para haji Indonesia dengan bergaul akrab, dia banyak beroleh informasi mengenai para pemberontak Jawa Barat yang lari ke Mekah. Dalam surat-suratnya kepada Snouck, Abu Bakar selalu menyebut dirinya “saudara di dalam Tuhan.

Tapi pada 5 Agustus 1885 Snouck harus meninggalkan Mekah. Ia diusir, tanpa tahu sebabnya. Untunglah di Jeddah, kenalannya,  Abdul Aziz Al-Haddad, orang Aljazair,  menjamin: pengusiran itu bukan lantaran keraguan pihak Kerajaan kepada ketulusannya sebagai muslim. “Ente kan telah mengumumkan kemusliman ente terang-terangan sehingga ulama Mekah menguatkan kebenaran Islamnya ente itu.”

Prof Snouck Hurgronje menerima kunjungan Pangeran Saud Arab Saudi di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1935 (foto koleksi KITLV)

Pulang ke Leiden, Snouck kembali merencanakan study tour ke Hindia Belanda. Mendapat sokongan dari Lembaga Batavia untuk  Seni dan Ilmu di sana, dalam suratnya kepada Menteri Urusan Penjajahan dia menyatakan akan menjadikan Aceh sasaran utama penelitiannya. Dia akan menyamar dan bergaul lebih dulu dengan para pelarian di Penang, baru menerobos ke Aceh. Tapi setiba di Penang ia mendapat telegram dari Buitenzorg (Bogor, tempat tinggal Gubernur Jendral) bahwa dia harus terus ke Batavia. “Dengan ini penyamaran saya sekarang dan untuk seterusnya menjadi mustahil,” Snouck berkata.

Dia mendarat di Batavia 11 Mei 1889. Koran De Locomotief sebelumya sudah memberitakan: “Dr Snouck Hurgronje, sebagaimana pembaca mengetahui, datang ke Jawa untuk mempelajari Islam, dan telah dapat menembus apa yang paling suci bagi kaum muslimin:  di Mekah ia bergelar Mufti Haji Abdul Gaffar.” Sampai sekarang pun Snouck tokoh kontroversial. O. Hashem (Menundukkan Dunia Islam) menilai Snouck seorang muslim. Alasannya, antara lain, ia tidak mau mengambil asuransi jiwa dengan alasan riba. Bahkan juga Prof. H. M. Rasjidi. Orientalis itu hakikatnya teman umat Islam Indonesia. Penilaian keliru kebanyakan orang Indonesia, bahwa Snouck kaki tangan penjajah, kata menteri agama RI pertama ini, disebabkan karena orang umumnya belum membaca buku-bukunya secara lengkap dan teliti. Lagi pula, di kalangan Belanda sendiri Snouck dikenal anti missie maupun zending. Tapi, tidak sedikit yang sependapat dengan van Koningsveld: baik di Mekah maupun di Hindia, Snouck secara lahirlah muslim  — sementara dalam batinnya seorang agnostik alias bebas agama

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda