Tasawuf

Orang-Orang Kuat

ilustrasi panen petani garam (foto : Quang Nguyen Vin/Pixabay)
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Pada suatu ketika, beberapa pencari kebenaran datang menemui Junaid al Baghdadi untuk berguru. Tapi, begitu melihat Junaid al Baghdadi sedang duduk dikelilingi oleh segala macam kemewahan; mereka mengurungkan niatnya.

Mereka kembali berkelana mencari guru yang sejati. Setelah sekian lama berkelana, akhirnya mereka menemukan seorang pertapa yang sedemikian sederhana hidupnya. Begitu sederhananya sehingga tak sesuatupun yang dimilikinya, kecuali selembar tikar dan sekendi air.

“Kehidupanmu yang sederhana dan keras ini jauh lebih kami sukai, daripada kehidupan kemilau dan berlebihan dari Junaid, yang tampaknya sudah berpaling dari jalan kebenaran” kata salah satu dari mereka.

Sang pertapa menghela nafas dan dengan terbata berkata “Sesungguhnya kamu semua sangat mudah terpengaruh dan tertipu oleh hal-hal lahiriah. Sadarilah hal itu agar kalian tak menjadi orang yang malang!”

“Sekarang Junaid memang dikelilingi oleh segala macam kemewahan karena ia telah kebal terhadap kemewahan, dan aku dikelilingi oleh kemiskinan karena aku telah kebal terhadap kemiskinan”

“Kesimpulannya,” begitu kata kawan saya setelah menceritakan kisah diatas, “orang-orang kaya itu, orang-orang yang hidup bergelimang kemewahan itu, dilihat dari sudut manapun adalah orang-orang kuat. Orang-orang kuat yang sudah kebal menghadapi kekayaan dan kemewahannya!”

Tentu saja loncatan kesimpulannya ini mengagetkan saya dan kawan-kawan lain yang sedang terlibat dalam diskusi rutin yang kami selenggarakan.

“Jangan kagetan dong!” lanjut kawan tadi, “kalian terlanjur biasa memakai kacamata kuda, sehingga sering gagal membaca bahwa ada banyak sisi kekebalan yang menggejala dalam kenyataan”

“Kasus Junaid hanyalah salah satu sisinya. Di sisi ini, sekilo besi dengan sekilo emas sama nilainya, yakni sebagai amanah yang harus disyukuri dan dikelola tanpa meninggalkan sedikitpun rasa kepemilikan di hati!” jelasnya.

“Ah, ngacau kamu! Masak kemuliaan yang ditunjukkan Junaid kau sama ratakan dengan sikap hedonis?” protes seorang kawan.

“Kenapa tidak? Apakah kamu kira menjadi hedonis itu pekerjaan ringan? Jangan lupa, untuk bisa melakukannya orang butuh mental baja dan kekebalan yang luar biasa lho!” tegasnya meyakinkan kami semua.

“Maksudmu?” tanya kami hampir bersamaan.

“Pertama, ketika orang mulai hedonis, berarti dia mulai bisa menundukkan hati nuraninya. Bayangkan: apakah orang yang masih punya hati nurani mampu membuat hidupnya jadi pulau kemewahan di tengah samudra kemiskinan? Jangan lupa, menundukkan hati nurani itu bukan pekerjaan gampang lho, hanya orang-orang kuat yang mampu melakukannya!”

“Yang kedua,” begitu lanjutnya, “ketika orang mulai hedonis, berarti dia mulai bisa menundukkan akal sehatnya. Bayangkan: apakah orang yang masih punya akal sehat akan tega hidup bermewah-mewahan dengan kekayaan yang sangat bisa dipertanyakan keabsahannya? Jangan lupa, menundukkan akal sehat juga bukan pekerjaan gampang, hanya orang-orang kuat yang mampu melakukannya!”

“Yang ketiga, ini yang terpenting, ketika mulai hedonis berarti mereka sudah kebal terhadap api! Hanya orang-orang kuat yang mampu hidup di dalam api!” tegasnya meyakinkan.

“Maksudmu?” hampir bersamaan kembali kami bertanya.

“Ya jelas tho,” terangnya sambil tertawa kecil.

Wong terhadap api neraka saja mereka tak takut kok, apalagi terhadap api dunia yang muncul dari sindiran, tudingan, kritikan dan cibiran kalian!”

“Wah, untuk yang ketiga ini saya tidak sepenuhnya sepakat,” timpal seorang kawan, “kapan dia hidup di tengah api, sedang banyak diantara kita yang bukan saja tidak kritis, tapi malah tak sedikit pun ragu untuk senantiasa menyanjung-sanjung dan menjilat-jilat mereka, bahkan memosisikan mereka sebagai model yang layak diteladani…”

Wah, yang ini memang benar-benar wah..!

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Tinggalkan Komentar Anda